
"ada apa? kau terlihat sangat lelah" ucap Hoseok yang melihat Jimin baru saja datang.
"tidak apa-apa, hanya sedikit ngos-ngosan berjalan hingga kemari" ucap Jimin.
"aku rasa tidak seperti itu.." Hoseok menjawab, dan meneguk red wine diatas meja.
fashion show hampir berakhir dan akan dilanjutkan malam ini. Jimin hanya terdiam,kepalanya panas dan sangat kesal. emosinya meledak tapi untung saja dia masih bisa mengontrolnya.
drrtt...drrtt..
ponselnya bergetar dalam sakunya,
"aku akan segera kembali" ucap Jimin kemudian mengangkat telfonnya yang ternyata itu panggilan dari ibunya.
Jimin📱: Hallo
Minhee📱: owhh hallo Jim, apa kau masih diacara fashionmu?
Jimin📱: iya, apa ibu butuh sesuatu?
Minhee📱: kau tak berniat memberitahukan kabar bahagia itu pada ibu? atau Hyerin belum memberitahukannya padamu?
Jimin📱: soal apa?
Minhee📱: heumm ibu pikir Hyerin belum memberitahukannya padamu, baiklah. kabar bahagianya adalah, ibu akan segera menjadi nenek.. ahahaha aku senang sekali ya Tuhan terimakasih Banyak.
ibu Jimin terlihat sangat bahagia saat mengatakannya. membuat emosinya semakin meledak dan membara.
Jimin📱: ibu tau dari siapa jika Hyerin hamil?
Minhee📱: dokter yang memeriksa Hyerin adalah teman dari dokter Kim. dia mengatakan itu pada dokter Kim dan ia menyampaikannya pada ibu. ahh aku sangat bahagia, akhirnya aku akan segera menjadi nenek.
Minhee📱: aku baru saja menelfon Hyerin, dia berkata dia sedang istirahat di kamar hotel.
Jimin📱: eumm baiklah ibu, aku akan tutup telfonnya
Minhee📱: kau tidak senang?
Jimin📱: aku akan menemui Hyerin, kenapa dia tak memberitahuku kabar bahagia ini.
Minhee📱: owwhh iya-iya, baiklah.. ahh iya Jim, ibu sudah menemukan kepala pelayan baru, ibu juga mengirim Jems untuk menjadi pengawal pribadimu lagi. besok dia akan sampai di Milan.
Jimin📱: baiklah, terimakasih Bu.
__ADS_1
Minhee📱: baiklah, ibu tutup dulu telfonnya. sampai Jumpa sayang.
Jimin📱: sampai Jumpa Bu..
tutt tutt tutt..
"bagus sekali, Jems akan ada disini. dia bisa sedikit membantu untuk mewakilkan aku diacara besok agar aku bisa membereskan wanita bodoh itu!"
Hyerin POV:
"iya Bu, aku hamil.."
"baguslah Hyerin ibu senang sekali, ibu sudah menemukan kepala pelayan baru jadi Jems akan ikut dengan kalian ke Milan. besok dia akan tiba, kau tak akan sendirian ketika Jimin ada diacara penting"
"tetaplah dihotel dan jika butuh sesuatu, Jems akan ada untukmu selama Jimin tidak ada bersamamu. dia sudah benar-benar menguasai Milan jadi kau tak perlu khawatir"
"terimakasih ibu"
"jaga diri baik-baik dan kembali kesini dengan baik, ibu menunggumu sayang".
aku sangat kaget saat ibu mengetahui bahwa aku hamil, ternyata dokter yang dikirim Jimin untuk memeriksaku adalah teman dari dokter Kim. dokter Kim adalah dokter pribadi keluarga Park, ibu pasti menelfon Jimin setelah menelfonku. aku tidak tau apakah hari berikutnya aku bisa bernafas dengan baik.
aku senang karena ada malaikat kecil dalam kandunganku. aku bahagia saat tau ada makhluk kecil yang hidup dalam tubuhku. setidaknya aku tidak akan merasa kesepian dan punya alasan untuk tidak bersedih.
"aegi sayang.. apa kau lapar? ibu baru akan makan, kau pasti lapar kan.. tunggu sebentar yaa.."
kebetulan ada cake dari hotel, katanya Jimin yang memintanya. besok ketika Jems datang aku tidak akan melakukan semuanya sendiri. setidaknya ada yang membantuku untuk pergi membeli makanan atau hal-hal lain yang tidak bisa ku lakukan.
"apakah enak? ini cake hotel, terbuat dari susu dan krim vitamin. kau harus cepat besar yaa sayang..."
"kira-kira obat apa yang bisa menghilangkan memar dimata, jika besok meminta Jems membelinya dia pasti lelah. aku tidak mungkin keluar dari hotel, Jimin akan membunuhku dan anak kita"
BRAK!
mengejutkan sekali saat pintu hotel terbuka dengan keras. Jimin masuk dengan suasana hati yang terlihat begitu kesal. ia menutup pintu itu kembali dan mendekat kearahku.
"Jimin.."
dia tak menjawab, ia menatapku dari atas sampai bawah. aku takut jika menyiksaku lagi. aku tidak khawatir soal diriku tapi anakku, dia tidak boleh kenapa-kenapa.
"minum itu"
Jimin melemparkan satu papan obat, aku tidak mau mengambilnya. aku khawatir jika obat itu akan merusak kandungan ku.
__ADS_1
"itu obat apa?"
"penggugur kandungan" ucapnya datar.
sudah ku duga, Jimin akan melakukan semua hal untuk mengugurkan anak kami. kenapa seperti ini? apakah salah jika aku hamil anaknya? dia suamiku dan aku rasa itu wajar jika aku mengandung anaknya.
"kenapa diam saja? ayo minum!"
"Jimin, ibu sudah tau soal kehamilan ini. jika anak ini gugur bagaimana cara memberitahu ibu?"
"katakan saja kau jatuh dikamar mandi, kenapa begitu sulit? minum itu!" ucapan Jimin, dia benar-benar tidak peduli dengan anaknya sendiri. apapun yang terjadi aku tidak akan mengugurkan anak ini.
"aku tidak mau, aku tidak mau meminumnya"
Jimin berbalik dan menatapku sangat tajam, aku yakin dia akan memaksaku sekarang.
"aku bersedia untuk dipukuli olehmu, bahkan aku siap jika kau ingin mengulitiku. tapi tolong jangan paksa aku untuk mengugurkan anak kita. aku hanya punya dia saat kau membenciku, biarkan aku memiliki satu orang yang akan menyayangiku. aku mohon"
"aku sudah mengatakan hal ini berkali-kali, tanpa ijin dariku kau tidak boleh bahagia sedikitpun!" tekan Jimin.
dia menatapku dengan tatapan teduh yang mencekam. aku tidak ingin melawannya tapi, ini demi keselamatan anakku. aku tidak ingin kehilangan bayiku.
"aku mohon padamu, biarkan aku melahirkan anak kita. aku janji dia tidak akan menyibuki hidupmu. aku janji dia tidak akan mengganggu kehidupanmu. aku yang akan merawatnya aku mohon Jim.."
"aku bilang tidak itu artinya tidak!"
bruakk!!
Jimin melempar piring cake yang tadi ku makan, tepat mengenai kepalaku dan seketika pecah. mungkin kepalaku tergores hingga mengeluarkan darah. aku mulai merasakan sesuatu yang cair mengalir diwajahku
"hiks.. sakit sekali.. tolong biarkan aku merawat anak kita"
biarkan ku jatuhkan harga diriku, demi bayiku dia harus hidup dia harus bertahan meksipun akan menjalani hidup yang sulit. akan ku pastikan dia tidak akan kekurangan kasih sayang nantinya. ibu akan melindungi nak.
"aku akan tetap mempertahankan anak kita, jika kau ingin membunuhnya lebih baik aku ikut mati dengannya"
ia menghela nafas panjang, sedetik memejamkan mata dan menatapku tajam.
"jika ibu belum mengetahui tentang kehamilanmu, aku tidak akan segan-segan menyakitimu hingga kau keguguran. tapi sayang sekali ibu sudah mengetahuinya, jika kau keguguran maka dia akan marah besar padaku"
"kau bisa merawat anak itu sampai kau melahirkannya, tapi jika kalian berdua mengusik hidupku. aku akan membunuh anak itu! aku tidak peduli sekalipun dia darah dagingku sendiri!"
aku tercekat, dan langsung menoleh kearahnya. dia setuju untuk aku melahirkan anaknya, aku senang sangat senang. tapi disisi lain aku merasa sedih, dia tak akan mau menganggap anak kami. tapi tidak masalah, setidaknya dia mengijinkanku melahirkan anaknya. kau selamat sayang, ibu akan menjagamu dengan sangat baik. tidak akan ada yang bisa melukaimu termasuk ayahmu. ibu akan terus melindungi mu meskipun harus terluka dan mati ditangan ayahmu suatu saat nanti.
__ADS_1