
Beberapa menit yang lalu...
Arrian sedari tadi mencari keberadaan Momo yang tiba-tiba menghilang disampingnya, karena lelah Ar memutuskan mencarinya melalui CCTV hotel ini.
"Ternyata kamu disana" Lirih Arrian saat melihat gambar Momo di depan toilet.
Ar yang ingin pergi tidak sengaja melihat CCTV area dapur, tatapan tajam penuh amarah melihat siapa gadis itu. "Aku tidak akan membiarkan mu menghancurkan pernikahan adikku Lunar" Arrian mengeraskan Rahang menahan amaranya.
Langkah Arrian sedikit tergesa-gesa memasuki ballroom, *b**etapa terkejutnya saat Devan berjalan kearah Riana dengan gelas ditangannya. Dia kembali memutar memorinya saat melihat Lunar dilayar monitor tadi, gadis itu memasukkan sesuatu didalam sana.
"Bukan kan gelas itu..?"
Tanpa pikir panjang Arrian membelah tamu undangan yang menghalangi jalannya hingga beberapa tamu harus terjatuh karena ulahnya.
Baru saja Devan menempelkan gelas itu dibibir Riana, Arrian langsung menyambarnya dan meneguk habis tanpa sisa.
"Kak Ar, kau mengagetkan ku" Protes Riana.
***
Dokter yang menangani Arrian baru saja keluar dari ruang oprasi. Devan langsung menghampirinya disusul yang lain. Riana hanya bisa duduk dalam dekapan Momo entah saat ini persendian kakinya tidak mampu menopang tubuhnya.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan Arrian?" Tanya Devan penuh kecemasana.
"Saat ini tuan Arrian dalam kondisi kritis, ditambah fisik pasien sangat lemah karena baru saja melakukan transplantasi jantung." Jelas Dokter Irawan
"Transpalansi jantung dok?" Ucap Riana penuh tanya.
"Sayang, biar aku yang menjelaskan padamu." Devan langsung menuntun Riana duduk kembali.
"Devan, sebenarnya apa yang terjadi dengan kak Ar? Kenapa aku tidak tau apa-apa Ar?" Tanya Riana bingung.
"Maafkan aku Riana, aku dan Ar menyembunyikan semua darimu. Ini karena Ar tidak ingin kau bersedih dan khawatir."
"Selama ini Ar memiliki penyakit jantung, itu karena Ar mengikuti gen tante Bella. Belum berapa lama ini Ar menerima tranplansi jantung dan dirawat di negara K beberapa bulan terakhir."
"Karena itu aku tidak bisa menghubunginya?" Devan mengangguk pelan, jujur saat ini dia merasa sangat bersalah pada istrinya. "Kenapa kau tidak jujur padaku Devan?" Riana menumpahkan air matanya "Selama ini kak Ar kesakitan dan aku tidak tau."
"Ri, udah ya! Abang Ar hanya tidak ingin lo kawatir." Ucap Momo berusaha menenangkan sahabatnya.
"Mo, jangan bilang sama gue kalau lo juga tau keadaan kak Ar" Momo terdiam menjawab segala pertanyaan Riana.
"Kenapa hanya aku yang nggak tau sih? Kenapa kalian tega sama aku?"
__ADS_1
Devan langsung membawa Riana kedalam pelukannya. "Sayang, sudah! Ingat kamu sedang mengandung bayi kita juga akan sedih"
"Van, sebaiknya lo bawa Riana pulang! Gue bakal nungguin Arrian disini."
...***...
Devan mengendari mobil sport miliknya memecah sunyinya malam dan malam ini dia akan benar-benar menyelesaikan segalanya tanpa sisa.
Cukup lama Devan mengendara hingga dia mengehentikan mobilnya tepat didepan sebuah pabrik habis terbakar, dia disambut oleh dua puluh pria berbadan kekar dengan jas hitam lengkap.
"Apa dia didalam?"
"Iya tuan" Jawab pria dengan luka bakar di sebagian wajahnya.
Devan berjalan masuk diikuti anak buahnya dibelakang. Diambang pintu Devan sudah disambut isak tangis dan jerit minta tolong. Bukannya ibah Devan malam tersenyum sinis.
Tanpa aba-aba Devan melepas latban dan penutup mata gadis didepannya.
"Devan? Apa yang kau lakukan? Apa salahku?" Teriak Lunar menggema di dalam gedung tua itu.
...****************...
__ADS_1