Promise

Promise
94


__ADS_3

Riana melambai saat Devan meningglkan pekarangann rumahnya. Dia menjongkok saat melihat Zoya menitikkan air matanya.


"Papi nggak akan lama kok sayang." Zoya malah lari ke dalam rumah meninggalkan Riana.


"Kenapa dengan Zoya?" Tanya Arrian, dia mendekati Riana.


"Bukan apa-apa, dia hanya ingin ikut dengan papinya." Kak Ar mau kemana?"


"Ouhh... Aku ingin kerumah sakit, hari ini Momo bisa keluar." Jelas Ar.


"Ya ampun, bagaimana bisa aku lupa? Ini semua karena Devan." Gerutunya. "Sampaikan saja salamku, aku akan menjenguknya setelah bertemu dengan klayenku."


Riana mendekatkan bibirnya ketelinga Arrian. "Kali ini Jisso Black Pink yang menjadi klayenku , apa kak Ar tidak ingin bertemu dengannya?"


Arrian terenyum, mengacak rambut Riana. "Aku pergi." Ucapnya meninggalkan Riana.


...***...


Momo merapikan semua barang-barangnya dan bersiap untuk pulang, dia hanya menunggu Arrian menjemputnya.


Ceklek... Cicitan pintu terbuka membuat pandangan Momo tertuju kesana.


"Apa aku membuat mu menunggu?" Tanyanya, dengan seikat bunga ditangan


"Tidak, aku juga baru selesai kok. Riana dimana, kok nggak ikut?"


"Dia banyak kerjaan, katanya salah satu klayennya kali ini Grils band Black Pink." Ucap Arrian beridiri disisi kanan Momo.


"Selama bukan BTS itu tidak masalah."


Arrian tersenyum, membuat Momo terpesona. Jarang sekali dia melihat senyum indah itu.

__ADS_1


"Kau begitu menyukai tujuh pria itu?"


"Iya, sangat menyukainya."


Disela perbincangan keduanya, Lia masuk dengan seorang pria. Arrian melihat eksperi wajah Momo yang berubah dibuat bertanya-tanya.


"Siang tante." Sapa Arrian.


"Siang nak Ar, sudah dari tadi disini?" Tanya Lia.


"Baru kok tante."


Lia tersenyum lalu menatap kearah Momo. "Ouh iya Mo, kenalin ini Rian, anak temen mama yang kemarin mama ceritain kekamu."


Momo tersenyum canggung, terlebih disana masih ada Arrian.


"Ma... Apaan sih? Bisa nggak dibahasnya nanti dirumah?" Ucap Momo setengah berbisij.


"Loh kenapa? Kan mama udah bicara sebelumnya sama kamu kalau mama mau jodohin kalian."


"Ma..."


"Tante, sebaiknya kita bicarakan dirumah! Ini pembicaraan antara keluarga." Ucap Riana sambil menatap Arrian.


"Ayo kita siap-siap pulang!"


"Aku pulang sama kak Ar, aku mau kebutik Riana dulu!" Ucap Momo berbohong.


Lian menghela nafasnya, bagaimana bisa anaknya tidak peka seperti ini?


...***...

__ADS_1


"Abang, maafin aku buat abang nggak nyaman tadi." Ucap Momo memecah keheningan diantara mereka.


Arrian tersenyum begitu tenang. "Abang nggak apa-apa kok."


Ngak apa-apa? Hemm? Ternyata hanya perasaan gue aja.


"Jadi kita kemana? Mau ke butik Riana?"


"Muter-muter aja, terus pulang." Ucap Momo, dia memiringkan badannya dan memejamkan mata.


Arria hanya menuruti keinginan gadis itu, dia menepikan mobilnya didekat danau menunggu Momo bangun.


Sesekali dia tersenyum melihat bibir Momo manyun kedepan, pelan Arrian mendekat kearah wajah Momo mendekatkan binirnya ke ranum gadis itu. Hanya tinggal beberapa inci bibir mereka bersentu, Momo bersua.


"Abang mau ngapain?"


Sudah seperti pencuri Arrian begitu kaget, ketahuan melakukan hal memalukan seperti ini.


"Hemm? Aku... Aku ingin mengambil bulu mata mu yang jatuh." Pelan Arrian mengambil sehelai bulu mata Momo yang jatuh.


Berada di posisi sedekat ini membuat jantung Momo berdegub tidak karuan, wajahnya terasa panas dan memerah.


"Kenapa?" Tanya Arrian dengan suara begitu berat.


"Tidak."


"Apa kau sakit lagi? Wajahmu sangat merah." Momo langsung menahan tangan Arrian saat ingin menyentuh wajahnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa abang. Kita pulang yuk, nanti mama cariin"


Arrian langsung membenarkan duduknya dan menghembuskan nafsanya terasa sesak.

__ADS_1


Huftt... Kenadalikan dirimu Arrian. Batinnya.


......................


__ADS_2