Promise

Promise
90 (P7)


__ADS_3

"Riana..." Ucap seseorang bersamaan dengan pintu yang berhasil Riana buka, menamppakkan seseorang yang sangat ingin dia lihat selama ini. Kini berada didepannya dengan senyum begitu hangat sedang duduk di sandaran ranjang.


Riana membalikkan badannya, menyembunyikan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Tubuhnya bergetar dan akhirnya luruh begitu saja diatas lantai, suara isaknya menggema diruangan itu.


Devan begitu khawatir mendengar tangisan wanita yang selama ini dia rindukan, tangisan begitu memiluhkan yang sangat dia benci. Perlahan Devan bengkit dari duduknya berjalan tertatih dan berusaha menahan sakit pada kakinya. Meski hanya berjarak beberapa meter Devan harus menahan sakit teramat, itu tidak penting saat ini Devan hanya ingin memeluk wanitanya detik ini juga.


"Riana... Aku baik-baik saja sayang, jangan menangis." Lirih Devan bersamaan itu dia mendekap tubuh Riana begitu merindu.


"Semua baik-baik saja sayang, aku disini bersamamu. Jangan menangis lagi aku mohon Riana." Tuturnya.


Riana mendorong tubuh Devan menjauh darinya. "Jangan menyentuhku! Hiksss... Aku menitihkan air mata bukan karena karenemu, itu karena ruangan ini berdebu " Ucapnya asal.


Deven tercengang. "Sayang..."


Riana membalikkan tubuhnya "Jahat... kamu jahat Devan." Riana memukul dada bidang Devan.


"Aww... Sayang sakit, aku pasien dirumah sakit ini."


"Ini tidak seberapa dibanding aku yang menderita selama ini, saat mengetahui kematianmu duniaku seakan hancur." Riana menitikkan kembali air matanya, dada ini terasa sesak didalam sana. "Aku berjuang seorang diri tanpa kau disampingku, kenapa kau menyembunyikannya dariku ha? Apa artinya aku bagimu Devan?"


Devan menatap lekat wajah Riana dengan mata yang berkaca-kaca. "Sayang bukan maksudku seperti itu..."


"Lalu apa? Apa kerena keadaanmu saat ini kau malu bertemu denganku? Apa kau pikir karena keadaan mu seperti ini membuatku membencimu dan meninggalkanmu?"

__ADS_1


"Sayang... Maafkan aku aku salah! Aku ingin menemui saat pertama kali aku sadar tapi keadaanku tidak memungkin untuk itu. " Devan menggenggam erat tangan Riana. "Maafkan aku Riana... telah membuatmu menderita selama ini. Maafkan aku sayang!"


Air mata rindu mereka menyatu diatas kedua tagan yang saling menggenggam, hanya isak tangis Riana menggema diruangan itu. Hatinya dan perasaannya benar-benar legah melihat pria yang selama ini membuatnya menangis baik-baik saja.


***


"Bagaiamana bisa kau selamat dari ledakan itu? Aku dengar dari papa tidak ada yang tersisa saat ledakan terjadi?" Riana membantu Devan duduk diatas kasurnya.


"Saat aku masih sadar Felix berusaha menyelematkanku, dia melindungiku malam itu. Setelahnya aku tidak tahu saat aku sadar dokter mengatakan jika temanku tidak dapat diselamatkan, aku benar-benar terpukul dan keadaanku semakin memburuk hari itu. Sampai suatu ketika Scarlite menemukan ku karena saat itu dia mencari pendonor organ pasien yang sekarat sepertiku."


Mata Riana membulat kaget. "Jadi maksudmu Scarlite itu?"


"Hem...?"


"Tenaang saja sayang, dia gadis baik jika dia diperlakukan dengan baik."


Riana melirik Devan begitu dalam, meyakinkan dirinya jika ini nyata bukan ilusinya.


"Kenapa?"


"Tidak. Kali ini aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, ayo kita pulang kerumah.!" Pinta Riana memohon.


Devan menangkup kedua pipi Riana. "Sayang, dengar kan aku! Ini tidak akan lama, aku akan segera menemuimu setelah aku kembali pulih. I am Primise."

__ADS_1


Riana menggeleng. "Nggak, kamu harus pulang sama aku!"


"Ri, hanya untuk beberapa bulan sayang aku akan kembali untuk mu"


Riana menunduk, diam-diam dia menteskan air mata. "Nggak, jangan seperti ini Riana! Aku tidak tenang kalai kau menangis. Aku janji setelah aku benar-benar sembuh total aku akan kembali padamu sayang." Tuturnya.


"Janji?"


"Iya sayang aku janji."


"Aku akan menunggu mu bersama Zoya."


Devan menatap Riana penuh tanya. "Zoya?"


"Hemm... Zoya, anak kita."


"Sayang...?"


"Iya sayang, dia sekarang sudah tumbuh jadi gadis yang cantik."


Devan sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. "Bagaimana bisa aku melupakan anakku? Selama ini aku terlalu fokus dengan keadaanku sampai aku melupakannya. Aku ayah paling buruk didunia ini. Maafkan aku Riana."


***

__ADS_1


__ADS_2