
"Dimana Momo?" Tanya Riana, baru saja tiba setelah 16 jam lebih penerbangan.
"Momo ke rumah sakit Riana, tadi ada kecelakaan kecil yang menimpah Jerix. Seharusnya dia sudah kembali, dia sudah lama pergi." Jelas Gauri salah satu staf Riana.
"Hem..." Angguknya "lanjutkan pekerjaan kalian! Semua harus selesai malam ini." Tuturnya
Riana mengambil ponselnya, tangannya begitu lincah menari disana mencari kontak Momo. Ini sudah yang ketiga kalinya panggilan Riana tidak dijawab.
"Mungkin dia bertemu idolanya" Lirinya.
...***...
Untuk kesekian kalinya Momo menguap di ruang tunggu rumah sakit, sejak tadi pria yang dia tunggu tidak menampakkan batang hidungnya.
"Kau masih disini?" Suara Angga membuat Momo tersentak kaget.
__ADS_1
Di berdiri tepat di hadapan Angga, matanya menatap penuh harapan semoga apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya benar-benar terjadi.
"Kenapa?"
"Dokter Erlangga Kusuma, kali ini aku bertanya serius padamu." Angga menyeritkan alisnya tidak mengerti. "Aku tidak tau sebanarnya apa dipikiranku, aku berusaha membuangnya tapi masih saja mengangguku."
Angga semakin tidak mengerti apa yang dikatakan Momo.
"Apa Devan masih hidup?" Tanya Momo langsung pada intinya. "Sejak tadi kata-kata suster itu menghantui pikiranku dan 'Mr. Dev' Saat ini mengitari otakku. Aku tidak tau hanya saja firatsatku mengatakan jika itu adalah Devan"
Momo tersenyum sinis. "Aku bukan gadis bodoh Dokter Angga dengan mudahnya percaya dengan omong kosong yang baru saja kau ucapkan." Momo mencondongkan kepalanya lebih dekat keara Angga. "Asal dokter tau aku bisa saja mencari tahu apa yang kau sembunyikan dalam waktu 23 jam."
Deru jantung Angga berdegub sangat kecang, keringatnya bercucuran dipelipisnya.
"Sial"
__ADS_1
...***...
Air mata Momo berjatuhan begitu deras setelah mendengar cerita Angga, dia menggeleng bagaimana cara pikir pria ini.
"Bagaimana bisa kau melakukannya? Kau tau ini salah, Riana begitu menderita selama ini Ga. Setiap malam dia terus menangis meluapkan kesedihannya dan kau..." Momo tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, dia menggeleng penuh kekecewaan.
"Apa kamu nggak kasian sama Zoya, gadis itu selalu bilang kalau ayahnya sedang bersama Tuhan sekarang. Apa perasaan kamu tidak tersentuh sedikitpun ha? Dan sekarang kau memintaku untuk merahasiakan kenyataan ini pada Riana. Oh tidak, cukup
aku melakukan kesalahan sekali pada sahabatku kali ini tidak."
"Mo, bukan maksud aku kaya gitu. Kau lihat sendirikan keadaan Devan tadi? Dia baru pulih setelah mendapat donor ginjal, dan saat ini dia fokus pada terapinya agar bisa berjalan kembali."
"Dia hanya tidak ingin muncul di hadapan Riana dengan keadaan seperti itu, sudah cukup dia buat Riana bersedih selama ini."
"Aku tidak perduli apapun lagi Angga! Sudah cukup Riana menderita selama ini, selama ini aku hanya memberinya nasehat untuk mengiklaskannya, melihatnya menangis setiap hujan turun, melihatnya terpuruk saat dia begitu merindukan Devan. Bahkan sampai detik ini dia masih seperti itu." Momo berdiri meraih tasnya dengan kasar "Maafkan aku dokter Angga! Kali ini aku tidak bisa menuruti permintaan mu seperti beberapa tahun yang lalu." Momo melangkah tanpa menoleh lagi. Air matanya masih mengalir deras, berulang kali dia memukul dadanya yang terasa sesak didalam sana.
__ADS_1
......................