Promise

Promise
44


__ADS_3

*


"Nona Riana, anda diminta ke ruangan tuan Devan sekarang!" Ucap Felix yang entah mucul dari mana. Teman-teman Riana yang ada diruangan itu seketika menatap kearahnya begitupun dengan Jessica.


"Ri, kamu ngga ngelakuin kesalahan kan?" Bisik Agus yang kebetulan dekat dengan meja Riana.


"Ngak..." Jawab Riana singkat.


"Mari ikut dengan saya Nona!" Felix memberi ruang Riana agar nyonya muda-nya berjalan lebih dulu.


"Kak, bisa tidak jangan panggil aku dengan sebutan Nona jika kita dikantor?" Bisik Riana


"Baik Nona" Jawab Felix datar.


Riana menilik sekejab sekertaris suminya yang sedikit aneh. Ada apa dengannya? terakhir bertemu dia sangat asik.


*


Nona? Felix memanggil Riana dengan sebutan Nona? Ada apa ini? Memang siapa gadis itu? Bantin Jessicca penuh tanya


Karena rasa ingin tahun Agus dan Dion sangat tinggi, dia mendekati Hendry yang sejak tadi sibuk dengan leptop didepnnya.


"Hend, kamu tau kan kenapa Riana dipanggil keruangan bos besar?" Ucap Agus. Namun pria bermata sipit itu tidak memperdulikan rekannya itu , dia masih sibuk dengan dunianya.


Merasa tidak di hiraukan Dion dan Agus saling memandang dengan senyum licik


"Ahhh..." Pekik Hendry saat Dion mengambil leptop yang sejak tadi menjadi perhatian pria bermata sipit itu.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa suka sekali mengangguku?" Protes Hendry entah apa kesalahannya sehingga kedua upin dan ipin ini terus mengusiknya.


"Jawab dulu pertanyaan kami" Dion mengalungkan tangannya di leher Hendry.


"Yang mana?" Jawsb Hendry fruatasi.

__ADS_1


"Kenapa Riana dipanggil ke ruangan bos besar? Jangan katakan kamu tidak tahu! Kami semua disini tau kalau kalian sangat dekat bahkan awalnya aku pikir kalian pacaran tapi, itu tidak mungkin karena ada satu gadis lagi yang selalu bersama mu juga" Jelas Agus.


"Hemm... Itu karena Riana menemui suuuu...." Hendry menggantung ucapannya hampir saja dia masuk ke lubang buaya.


Diruangan itu bukan hanya Dion dan Agus yang antusias mendnegar jawaban Hendry, di mejanya Jessica juga ikut mendengar dengan serius.


"Su... Apa?" Ucap Dion mulai kesal. Henry mulai kehabisan akal, jika dia mengatakan Riana menemui suaminya bisa-bisa hari ini adalah terakhir kalinya Hendry bernafas.


"Bilang nggak?" Agus ikut merangkul leher Hendry dengan sedikit erat


"Aaaa... Aku akan mati jika kalian seperti ini" Berontak Hendry.


"Jawab dulu" Tekan Agus.


"Hey... Apa yang kalian lakukan ha? Apa kalian tidak punya kerjaan sampai-sampai menganggu anak magang?" Suara keras Rio membuat Agus dan Dion menunduk takut. "Sepertinya kalian lebih cocok menjadi detektif atau FBI dibadanding bekerja disini. Jika kalian ingin berhenti aku dengan sengang hati akan..."


Belum juga Rio selesai dengan ucapannya Agus dan Dion memilih kembali ke meja masing-masing.


Hufft, selamat. Pak Rio terima kasih semoga Tihan selalu memberkahimu. Batin Hendry


*


Ceklek... Riana membuka pintu, kepanya sedikit condong kedalam mencari pria yang membuatnya berada disini. Benar saja Devan ada didalam sedang duduk dikursi kebesarannya. Sangat pelan Riana menutup pintu dan mulai mendekat kearah Devan


"Ada apa ini? Dia memanggilku tapi dia malah tertidur." Sungut Riana saat melihat mata suaminya terpejam.


Sudah dua puluh menit Riana berdiri disisi Devan namun, tidak ada tanda-tanda pria itu bangun. Karena sudah merasa pegal Riana berniat duduk di sofa baru saja dia ingin melangkah Devan menariknya hingga gadis itu duduk dipangkuannya.


"Kakak sudah bagun?" Ucap Riana mimik wajahnya masih kaget.


"Lebih tepatnya aku tidak tidur"


"Jadi, kak Devan mengerjain aku? Aku berdiri disini selama dua puluh menit menunggu kakak bangun. Tega benget sih." Ucap Riana tentu tangannya tidak tinggal diam satu pukulan melayang dilengan Devan.

__ADS_1


"Aww... Sakit Ri."


Devan kau sangat tidak pandai berbohong pukulan Riana hanya menggelitikmu lihat otot kekar ini bahkan Riana memukulmu dengan kayu pun kau tidak aka kesakitan.


"Maafkan aku, aku hanya ingin kamu menciumku atau memelukku tadi, makanya aku pura-pura tidur. Tapi sepertinya istriku ini tidak peka sama sekali."


Sungut Devan


Cup... Riana mencium pipi suaminya dengan lembut.


"Sudah kan"


"Aku maunya yang ini" Devan menyentuh bibirnya.


Suara manja Devan membuat Rian berdegik geli.


"Ini dikantor, bagaimana jika ada yang masuk dan melihatnya. Mereka akan berpikir aku yang anak magang sedang menggoda CEO grup Kingdom."


"Aku tidak perduli kamu istriku dan aku sumi-mu. Lagi pula siapa yang berani masuk keruaangan ini?"


"Jessica mungkin." Jawab Riana asal


Devan diam seribu bahasa memang sebelum dia menikah dengan Riana, Jessica sering keluar masuk ruangan ini.


"Lihat kaka diam itu artinya kalian sering berduaan disini."


"Apa sekarang kamu cemburu?" Goda Devan


"Cemburu? Kaka pikir sendiri"


"Riana," Suara Devan tidak menghentikan langkah Riana, gadis itu terus melangkah hilang dibalik pintu ruangannya


"Kenapa kau begitu menggemaskan sih sayang?" Devan kembali sibuk dengan tumpukan dokumen didepannya.

__ADS_1


......................



__ADS_2