
Setahun kemudian...
Dari raut wajahnya wanita dengan rambut sebahu terlihat cemas, ini sudah hampir pukul dua siang tapi bahan untuk gaun anak salah satu mentri negera ini belum juga tiba.
Saat lonceng diujung pintu terbuka gadis itu memutar kepalanya, dengan wajah penuh kelegaan saat sebuah box besar pesanannya telah tiba.
Dia begitu semangat membuka box dengan gunting ditangan kanannya, seketika ruangan itu menjadi sibuk hanya karena sebuah Box. Riana begitu lincah membuat pola gaun yang sudah dia desain sendiri, berulang kali Riana menyeka keringatnya kemudian mengikat rambutnya asal. Saking asikny bergelut dengan kain-kain didepannya hingga dia lupa hari sudah soreh.
"Mi..." Suara anak kecil begitu imut membuat wajah Riana melengkung tersenyum. Riana berbalik menyambut putri kecilnya yang baru saja pandai memanggilnya.
"Halo sayang, uncle Ar mana?" Bukannya menjawab sang ibu, Zoya malah asik main dengan kalung Riana.
Pandangan Riana tertuju pad pria yang baru saja masuk ke butiknya, wajah yang belakangan ini selalu ada untuknya. Tapi tetap saja pintu hati Riana masih kokoh tertutup untuknya.
"Zakcy?"
"Hay tuan putri, maaf aku membawa Zoya tanpa memberitahumu terlebih dahulu." Tuturnya
"Tidak apa, Zoya sepertinya menyukaimu."
"Lalu bagaimana dengan ibunya? Apa dia tidak menyukaiku?"
Riana tersenyum lalu meletakkan Zoya dikursi. "Tentu aku menyukaimu, karena kau sering membantuku menjemput Zoya di sekolah. Maafkan aku selalu merepotkanmu."
"Its okey, kita kan berteman."
Lagi-lagi Riana tersenyum membuat jantung Zakcy berpacu cepat didalam sana.
__ADS_1
"Riana, berikan aku air. Senyummu membuatku haus akan cinta."
Riana terbelak kaget. "Apa sih? Siapa yang mengajarimu kata-kata alay seperti itu Zack?
" Kenapa? Apa terdengar aneh?"
"Hem..." Angguk Riana.
"Aiss...! Seharusnya aku tidak percaya pada Arrian dan Angga." Gerutu A
Zacky dia melirik Riana sedang mengertukan alisnya. "Ya, mereka mengajariku cara meluluhkan hati mereka.
"Pantas terdengar aneh kau belajar sama pria yang sama sekali tidak bisa menaklukkan hati seorang gadis." Ucap Riana dengan suara meledek.
...***...
"Tok..Tok... Apa aku menganggumu tuan putri." Sapa suara berat yang sangat familliar ditelinga Riana, suara yang belakangan ini membuatnya emosi kini berdiei tegak diambang pintu. Apa ini tumben sekali pria membosankan ini memakai pakaian santai, baju kaos hitam polos dipadukan dengan celana panjang hitam pula.
"Kapan kak Ar datang? Kenapa tidak mengabariku? Aku bisa menjemputmu di bandara."
"Ihh... Nggak keren banget di jemput sama adik sendiri. Sekali-kali kek dijemput sama..."
"Angga?" Potong Riana. "Aku sudah menebaknya, kalian tidak terpisahkan."
Arrian hanya bisa tersenyum mendengar ocehan adiknya, gadis itu sangat pandai menyembunyikan kesedihannya.
"Ri, menurutmu bagaiman dengan Zacky?" Suara Arrian terdengar lebih seirus.
__ADS_1
"Hem... Dia baik"
"Hanya itu?"
Riana menghentikan aktifitasnya, dia menatap Arrian yanh sedang duduk didepannya juga menatap Riana.
"Lalu harus bagaiamana kak? Dia memang baik padaku dan Zoya."
Tutur Riana lembut.
Arrian tersenyum simpul lalu berdiri merapikan jasnya. "Sudah waktunya kau bahagia Riana. Ini hampir dua tahun kepergian Devan, kau pasti mengerti maksudku kan.?"
Riana tersnyum. "Bagiku Zoya saat ini segalaanya kak, aku tidak ingin apa-apa lagi. Terutama yang ada dipikiran kak Arrian."
"Sukurlah jika kau tidak ingin, padahal aku ingin membelikan mu rumah dengan taman yang luas."
"Ah? Kalau itu aku ingin kak."
Dengan senyum Arrian meninggalkan Riana. "Kak Arrian." Teriak Riana tapi, tidak di hiraukan Arrian.
Arrian
Zacky
__ADS_1
Riana