
Riana terbangun kaget, dia milirik jam tangannya ternyata sudah pukul tujuh malam. Riana beranjak higga membuat suara tempat tidur berdecit.
"Mau kemana?" Suara serak Devan menghentikan pergerakan Riana.
"Pergi."
"Kamu disini aja temenin aku Ri!" Riana menghempas tangan Devan membuat pria itu mengembuskan nafasnya berat
"Jangan sentuh aku!"
Devan duduk menjajarkan dirinya dengan Riana. Sepertnya gadis ini kembali ke mode badd mood-nya
"Ri, kamu masih marah?" Tanya Devan, melihat Riana diam di bisa menyimpulkan jika istrinya itu masih marah.
"Sayang, aku dengan Lunar tidak ada apa-apa. Kamu hanya salah paham, kita kebetulan bertemu." Tuturnya
"Kebetulan bertemu? Tapi kau terlihat sangat senang."
Devan kehabisan kata-kata, apapun yang dia keluarkan tidak akan meluluhkan hati Riana yang sedang cemburu.
"Riana" Devan memaksa gadis itu menatapnya. "Dengarkan aku baik-baik! Aku mohon percaya padaku! Aku sangat mencintaimu Riana, tidak akan mungkin aku meninggalkan mu hanya karena wanita lain. Kau bisa melakukan apapun padaku agar membuatmu percaya. Aku sungguh sangat mencintaimu sayang." Riana menatap penuh selidik wajah suaminya mencari setitik dusta tapi itu ia tidak temukan. Riana tersenyum simpul lalu menghaburkan dirinya kedalam pelukan Devan.
"Aku hanya tidak suka kau menemui wanita lain selain aku, aku tidak suka jika kau tersneyum pada wanita lain selain aku dan aku tidak suka jika kau menatap wanita lain selain aku. Terlebih Wanita itu yang telah menggoreska luka pada priaku dan aku tidak ingin kau kembali merajut dengan masa lalumu "
Devan mengeratkan pelukannnya, betapa beruntungnya dia mendapat cinta begitu besar dari gadis ini.
"Aku mengerti sayang, maafkan aku!"
......................
"Kamu yakin Riana tidak apa-apa?" Tanya Reza menyelidik
Momo tercengang sesaat"Ya ampun bapak manggil saya hanya mau tanya ini?" Reza mengangguk pasti.
"Memang bapak ngapain sih khwatir dengan Riana? Dia kan lagi sama pawangnya."
__ADS_1
"Ya kan setidaknya saya ingin tahu keadaanya."
Momo menatap jengah pada pria pujaannya. Di luar expektasi pria didepannya ini ternyata begitu menyebalkan.
"Saran saya bapak tidak usah mikirin Riana, lebih baik bapak mikirin suaminya! Devan, mungkin saat ini dia sudah di musnahkan sama keponakan bapak."
Tutur Momo meninggalkan Reza seorang diri. Langkah gadis itu lagi-lagi terhenti saat mendapat notifikasi pesan. Momo membulatkan matanya
kaget, air matanya luruh begitu saja tidak percaya. Tanapa pikir panjang Momo langsung melakukan panggilan pada Riana namun tidak tersambung seiring dengan itu air matanya terus berjatuhan.
"Maafin gua..." Lirinya disetiap deru langkahnya yang kian cepat, malam ini juga gadis itu meninggalkan pulau Dewata semua rencananya untuk bersenang-senang tenggelam bersama rasa sesal yang hampir membunuhnya.
#
Devan terus memandangi wajah Riana yang masih tertelap, kenapa dia begitu polos jika sedang terlelap? Senyum Devan terus mengambang terlebi melihat kekacaun yanh sudha dia lakukan, pakaian mereka berserakaan dimana-mana, seprai pun sudah tidak terpasang untung saja selimht itu masih bertengger kokoh menutupi tubuh polos Riana.
Perlahan Riana mengerjabkan matanya, rasanya tubuhnya remuk tak bertenaga lagi untuk bergerak bagaimana tidak pria dewasa itu seakan tidak ada capeknya menjamah Riana. Dia melirik ke arah Devan yang sejak tadi memandanginya.
"Selamat pagi sayang"
"Sayang..." Lirih Devan
"Biarkan aktu tidur sebentar lagi yank, aku ngantuk sekali"
"Tapi ini hampir jam delapan sayang. Bukannya kau akan mengunjungi beberapa tepat di kota ini."
Sontak Riana terduduk dari tidurnya "Kenapa baru bilang sih?" Gerutunya seraya berlari ke arah kamar mandi
"Sayang, hati-hati!" Peringat Devan.
*
Hari ini begitu melelahkan Riana menghempaskan tubuhnya diatas sofa lobi hotel, sejak tadi gadis itu terus menghubungi ponsel Momo namun tidak dijawab-jawab.
Kemana juga gadis itu tiba-tiba hilang? Gerutu Riana.
__ADS_1
"Hay" Spontan Riana mendongak mencari tahu pemilik suara khas pria itu. "Boleh aku duduk?" Sambungnya
"Hay Rey, silahkan."
"Kamu sedang menunggu seseorang?"
"Iya Rey." Jawabnya singkat, sejujurnya saat ini Riana hanya ingin sendiri tapi, tidak mungkin juga dia melarang Rey untuk duduk disini.
"Pacar?"
Riana tersenyum "Bukan." Tapi suamiku Rey. Batinnya
"Kau punya pacar?"
Lagi-lagi Riana tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak pernah memiliki seorang pacar Rey." Memang iya, aku dan Devan kan langsung nikah.
"Hemm... Kalau begitu jadikan aku pacarmu."
Mata Riana membulat mendengar kata-kata Rey, gadis itu diam. "Kenapa? Aku ganteng dan punya uang."
Riana sudah tidak bisa menahan tawanya. "Hahahaha... Cukup Rey! Kau ini sangat pintar buat orang tertawa."
"Aku serius Riana! Aku menyukaimu."
Tawa Riana dalam sekejab hilang begitu saja.
"Aku sudah menyukaimu sejak dulu Riana. Biarkan aku menjadi pacarmu."
"Maaf Rey aku tidak bisa." Ucapnya singkat. "Maafkan aku Rey, aku harus pergi." Langkah Riana harus terhenti saat Rey memegang pergelangan tangannya.
"Ri... "
"Lepas Rey"
Riana memberotak namun pegangan Rey lebih kuat. Dari arah berlawanan sebuah tangan nan kekar mencengkram kuat pergelangan Rey. Urat-uratnya seakan ingin keluar kepermukaan kulitnya.
__ADS_1
......................