Promise

Promise
Promise Eps 38


__ADS_3

tok tok tok


suara ketukan pintu aku harap seseorang datang menolongku dengan tak sengaja. Jimin belum merespon ketukan pintu itu dan masih menenggelamkan kepalaku didalam air dingin itu.


tok tok tok


"Hyerin.. Jimin.. apa kalian sudah bangun?"


suara ibu terdengar diluar sana, Jimin mengangkat kepalaku dan menghempasmu dilantai. aku terduduk, tulang ekorku terasa sakit karena terbentur lantai. ku lihat dari pantulan kaca shower wajahku terlihat memucat dan bibirku memutih aku menggigil dan gemetaran.


"sebelum aku kembali, kau dilarang keluar dari kamar mandi. tetaplah disitu sampai aku datang, jika membantah kau akan mendapatkan hal lain yang membuatmu berfikir untuk tidak bunuh diri" ucapnya datar kemudian berjalan keluar kamar mandi.


aku tak bisa berbuat apapun, kepalaku pusing karena menghirup sedikit air. wajahku berantakan, aku melihat rambutku berjatuhan di lantai kamar mandi. ku raih handuk dan menutupi tubuhku yang terasa dingin. benar-benar menggigil dan gemetar.


"Jimin.. dia, apakah sangat ingin membunuhku?"


pikiranku kemana-mana, setelah mengetahui siapa suamiku aku merasa usia ku menjadi lebih pendek. aku tidak tau rahasia apa saja yang dia tutupi dan ia sembunyikan dari publik aku tidak tau alasannya kenapa dia seperti monster tapi, aku sangat yakin dia adalah seorang pria yang sangat baik. hanya saja dia kehilangan wanita yang ia cintai dan malah dipaksa menikah dengan wanita yang ia benci. wajar mungkin jika dia melakukan kekerasan terhadapku, karena dalam hatinya aku bukanlah orang yang berguna untuknya.


POV end,


"ibu? ada apa?"


"dimana Hyerin? Jian menangis dan butuh asi, asi yang ia pompa malam tadi sudah habis. lihatlah putramu ini sangat banyak makan.. dia pasti cepat besar nanti"


ibu Jimin datang kekamar itu dengan membawa Jian untuk disusui. Jian tersenyum dan bermain dengan jemarinya. Jimin menatapnya datar, ingin rasanya meremasnya karena gemas.


"ahh begitu yaa, berikan saja padaku.. Hyerin masih mandi akan ku bawa Jian kedalam saja.. biar langsung disusui" ucap Jimin.


"eh? kenapa harus dikamar kalian? Suruh saja Hyerin menyusui diluar bersamaku biar ku temani" ucap Ibunya.


"ibu, Hyerin bukan hanya memiliki 1 bayi, ada bayi lain yang butuh asi juga" ucap Jimin langsung mengambil alih Jian.


"Yaaakk!! Park Jimin!! kau ini mesum sekali" Ucap Ibunya terkekeh.


"ayolah ibu berikan kami bertiga ruang untuk bermesraan. dan lagi, aku harus berlomba dengan bayi kecil ini. bukan begitu Tuan muda?" ucap Jimin menatap Jian dan bayi ini hanya tertawa.


ia kegirangan karena dibangun paginya ia langsung melihat wajah ayahnya. mulai mencari perhatian lagi, ia meraih wajah Jimin.


"oke baik baik, ayo temui ibu dan menyusu bersama... let's go " Jimin tak memperdulikan ibunya dan langsung masuk membawa Jian. ibunya hanya menggeleng dan kembali kekamarnya.


"tunggu disini ya anak manis, ayah sedang menyiksa ibumu.. kau akan agak lambat untuk mendapatkan sarapanmu, sabar yaa sayang.. ayah akan kembali dengan membawa ibumu.."

__ADS_1


Jimin kembali berjalan kekamar mandi, melihat Hyerin berusaha meraih handuk diatas kloset.


"apa yang kau lakukan?"


Hyerin terkejut, ia menoleh dan belum sempat mengambil handuknya. wajahnya pucat dan mulai terlihat lebam di wajahnya.


"aku.. aku hanya ingin mengambil handuk untuk mengelap wajah" ucap Hyerin lirih.


tanpa bicara apapun, Jimin mengisi bathtub dengan air hangat. menyiapkan air mandi dengan aroma mawar dan melepaskan pakaiannya. menampakkan dada bidangnya yang terlihat kekar dan otot keras diperutnya. Jimin menoleh kearah Hyerin yang menatapnya sendu seakan ingin minta tolong.


"berhenti menatapku, awas.. bola matamu bisa lepas" ucap Jimin menatap Hyerin.


"i-iyaa.."


"lepaskan pakaianmu" ucap Jimin yang membuat Hyerin langsung menatapnya.


"a-apa?"


"lepas pakaianmu Hyerin!" ucapnya lagi.


Hyerin masih terdiam ia sangat takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. ia mendengar suara seorang bayi bersin di luar sana.


"Jian.. apakah itu Jian.." Hyerin ingin berdiri dan melihat tapi tangannya ditahan oleh Jimin.


"t-tapi aku takut, a-aku malu telanjang dihadapanmu" ucap Hyerin takut.


"aku ini suamimu! takut apa ha? apa harus aku yang melepaskannya?"


"tidak.. t-tidak, aku akan lepas sekarang"


Hyerin mulai melepaskan pakaiannya dan full naked dihadapan Jimin. ia menunduk malu dan menutupi bagian tubuhnya.


"untuk apa ditutupi? aku sudah melihat semuanya, bahkan bagian yang tersembunyi sekalipun" ucap Jimin.


setelah air dibathtub penuh, Jimin langsung mengangkat tubuh Hyerin dan masuk ke dalam bathtub. Hyerin tak bergeming, ia sangat takut saat Jimin menyentuhnya dengan lembut. Hyerin menunduk malu meskipun Jimin memiliki hak penuh atas tubuhnya.


Hyerin melihat kearah Jimin yang melepaskan sisa pakaian ditubuhnya. membuat jantung Hyerin semakin berdetak hebat dan gelisah saat sesuatu yang hebat terpampang didepan matanya. Jimin tau jika hal ini bisa membuat Hyerin kaku didalam bathtub.


"apa yang kau lihat? takut? berhentilah seperti orang idiot" ucap Jimin.


"Jimin, itu a-apa yang akan kau lakukan? ke-kenapa aku harus disini" ucap Hyerin.

__ADS_1


"maksudku, kenapa aku harus duduk di bathtub ini",


"di luar, tadi aku mendengar Jian bersin apakah dia ada dikamar? apa tadi ibu membawanya kesini?"


Jimin hanya melirik, mengerutkan dahinya dan menatap Hyerin. dia terlalu cerewet untuk mencari topik pembahasan agar tidak tegang dan takut dengan situasi saat ini.


"berhentilah cerewet sebum mulutmu ku sumbat dengan ini" ucap Jimin menatapnya.


"tidak, t-tidakk aku diam. aku akan diam"


Hyerin mengalihkan pandangannya jauh dan mengambil sabun busa diatas lemari samping bathtub. mencairkannya dan membuat busa banyak di dalam bathtub.


"wangi sekali.." gumamnya pelan.


disaat menikmati busa-busa wangi ini, Jimin ikut masuk kedalam bathtub dan duduk di belakang Hyerin.


"Jimin..k-kau apa yang kau lakukan?"


"tentu saja mandi, lalu apalagi.. jangan memberontak, Jian ada dikamar dia kehausan. kau harus menyusuinya jadi cepatlah mandi" bisiknya pelan.


seluruh tubuh Hyerin merinding dan terasa panas. ia memejamkan matanya erat dan hanya terdiam tanpa berani bergerak.


"kalau begitu aku mandi di shower saja.."


Hyerin berdiri dan berniat keluar dari bathtub dan menuju shower. tapi tangan kekar Jimin langsung menangkapnya dan menariknya hingga terjadi dalam pelukannya kembali.


"Jim awwhh.. sss.."


Hyerin terjatuh tepat menghadap kearah Jimin dan ya, dia duduk dipangkuan Jimin.


"sakit? kau sendiri yang memakannya disaat ia bangun, terlalu terburu-buru jadi tidak hati-hati sehingga terkena paku.. bukan begitu?" ucap Jimin tersenyum licik.


"Jim, itu.. awhh.. tidak tolong se-sebent-- aahh~"


Hyerin memegangi pundak Jimin untuk menahannya tapi sia-sia saja, Jimin menekan tubuhnya dan semakin membuatnya tak bisa menahan lagi.


"sebelum kau susui bayi kecilmu yang ada didalam kamar, kau harus menyusui bayi dewasamu dulu... aku juga sangat lapar.. Jian tak keberatan jika berbagi dengan ayahnya"


Dengan senyuman licik, Jimin tak menatap wajah Hyerin. ia menatap sesuatu yang terlihat indah dan terpampang nyata dihadapannya. menyentuhnya dengan lembut pertama dan melahapnya dengan brutal.


"Ji-Jimin.. ughh.. tidaakk.."

__ADS_1


sudah terlambat untuk menghentikannya, pria ini sudah melahap semuanya. jadi Hyerin nikmatilah. hehehe


__ADS_2