
*selamat, kandungannya sudah memasuki Minggu kedua. bayinya sangat sehat, nyonya diharapkan untuk menjaga kondisimu dan jangan stress berlebihan atau itu akan mempengaruhi kandunganmu*
Hyerin POV*,
nafasku tercekat seakan ingin putus dan jantungku berhenti berdetak. seharusnya ini kabar bahagia untukku tapi aku tidak bahagia, Jimin. dia akan menghajarku habis-habisan jika tau aku hamil. obat yang selalu dia berikan selalu aku minum dihadapannya. jika dia tau aku hamil maka hidupku akan berakhir singkat.
Jimin tidak akan menerima anak yang ada dalam kandunganku. dia akan membenci anak ini sama sepertiku. Tidka mungkin bagiku untuk menggugurkan bayi ini. bagaimanapun kedepannya, aku akan menjaga anak ini. untuk sekarang harus disembunyikan.
*Flashback*
tok tok tok
seseorang mengetuk pintu, saat aku sudah mulai bisa bergerak. tapi kamar ini ibarat gudang yang terbengkalai. saat setelah ku ijinkan orang itu masuk, ternyata pelayan hotel yang diminta Jimin untuk membersihkan kamar ini. mereka semua baik, ada beberapa anak magang juga. mereka membantuku untuk membersihkan diri.
mereka juga yang memanggil dokter untuk memeriksaku. awalnya aku biasa saja, keluhan-keluhan ku juga wajar karena beberapa hari ini aku mual dan agak demam.
tapi jantungku hampir lompat keluar dada. dokter berkata aku hamil, usia kandunganku hampir 2 Minggu. itu artinya saat terakhir kali aku datang bulan aku langsung hamil diminggu berikutnya.
aku bingung, aku cemas dan sangat-sangat takut. Jimin akan membenci anak ini ketika dia lahir nantinya.
"h-hamil?"
"iya benar sekali Nyonya. selamat, kandungannya sudah memasuki Minggu kedua. bayinya sangat sehat, nyonya diharapkan untuk menjaga kondisimu dan jangan stress berlebihan atau itu akan mempengaruhi kandunganmu"
"aku benar-benar hamil?"
"iya, bukankah ini kabar baik untukmu dan suamimu?"
"t-tidak.. tidak..."
*Flashback off*
Author POV,
__ADS_1
Hyerin terduduk dan terdiam didekat jendela kamar. dari kamar itu ia bisa melihat indahnya hamparan laut yang luas dan biru. angin sepoi-sepoi mengobrak Abrik rambut indahnya. tatapannya sendu, wajahnya sangat teduh. ia melihat orang-orang dikeramaian pinggir pantai.
"keluarga mereka, sangat bahagia.. diluaran sana apakah ada yang lebih menderita dariku?" gumamnya.
Hyerin menoleh, menatap dirinya di cermin meja rias. mata kanannya yang sangat merah dan membiru terlihat sangat jelas.
"Anna, maafkan aku.. apa kau kesakitan? aku janji ini yang terakhir. aku tidak akan membiarkan Jimin mengenalimu lagi" ucap Hyerin mengelus matanya.
"pasti sangat sakit.. kau akan baik-baik saja Anna, aku akan menjagamu" tambahnya.
BRUAK!
pintu kamar terbuka dengan keras, Jimin masuk dengan langkah panjang dan menghampiri Hyerin.
PLAKK!
tamparan keras berhasil membuat Hyerin tersungkur kaki dilantai dingin.
"Jimin.. ada apa lagi? apa aku berbuat salah?" tanya Hyerin lembut.
"kau hamil eum?!"
Hyerin terdiam, menatap kertas yang ada dihadapannya. setitik air matanya jatuh diatas kertas putih itu. ia berusaha bangkit dan menghadap kearah Jimin.
"aku minta maaf" ucapnya lirih.
"bukankah sudah ku bilang, aku tidak ingin kau hamil anakku?!!" ucap Jimin dengan suara lantang.
ia mencengkram erat tangan Hyerin hingga wanita ini meringis kesakitan.
"tolong biarkan aku merawat anak kita, jika kau tidak mau menganggapnya biar aku saja yang merawatnya. menjadi ibu sekaligus ayah untuknya" ucap Hyerin.
PLAKK!!
__ADS_1
satu tamparan lagi berhasil membuat Hyerin tumbang, sudut bibirnya mengeluarkan darah yang langsung mengalir.
"gugurkan anak itu!" ucap Jimin.
Hyerin terperanjat dan spontan menoleh kearah Jimin.
"tidak! aku tidak akan menggugurkan anak ini, aku tidak mau.. aku mencintai anak kita, aku tidak mau menggugurkannya tidak mau... tidak mau.." Hyerin menjauh dari Jimin.
"aku bilang gugurkan anak itu!!"
Jimin kembali menarik rambut Hyerin tapi ia tetap kokoh dengan keinginannya.
"tidak mau hiks.. tidak boleh digugurkan, aku tidak mau.."
"biarkan aku melahirkannya ku mohon, aku mohon Jim.." Ucap Hyerin menangis dan memohon.
"hanya ada dua pilihan untukmu, mati bersama anak itu atau gugurkan anak itu!" ucap Jimin menatap Hyerin tajam.
"kau boleh membunuh kami, asalkan jangan menyuruhku mengugurkan anak kita. aku lebih baik mati bersamanya daripada aku harus hidup tanpa dia. hanya dia satu-satunya orang yang akan aku miliki, aku mohon biarkan aku melahirk-"
"aaahhkk!!!"
Hyerin menjerit saat Jimin mencengkram perutnya dan meremasnya erat.
"tidak Jim tidak, j-jangan lakukan ini tolong hiks.. tidak.." Hyerin terus memohon tapi Jimin tetap melakukannya.
"sudah ku bilang jangan sampai kau hamil. apakah selama ini kau tidak menelan obat itu? ini salahku, kenapa tidak memeriksanya sampai kau benar-benar menelannya" ucap Jimin meremas lebih erat.
"aku tidak akan pernah menerima kehadiran anak ini!! aku membencinya sama sepertimu! yang bisa mengandung anakku hanya Anna bukan kau! aku tidak ingin anakku bercampur darah dengan wanita sepertimu!!"
"b-biarkan aku pergi"
Jimin terhenti, menatap Hyerin dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"pergi? kau pikir kau bisa pergi kemana eum? selamanya kau akan hidup disampingku! sudah ku katakan kau tidak boleh bahagia kecuali aku mengijinkannya!"
*Jimin... dia benar-benar melakukannya..*