
"Abang, Riana hanya ingin kita berada disini. Memang apa salahnya sih?" Ucap Momo berusaha membuat Arrian mengerti.
"Tidak ada yang salah, aku hanya ingin menjalankan perusahaan kita yang disana. Lagi pula saat ini Devan sudah bersama Riana dan aku juga sudah memilikimu jadi aku pikir ini lebih baik." Jelas Arrian
"Tidak abang, itu hanya baik untuk abang tanpa memikirkan perasaan dan trauma Riana."
Arrian menyengeritkan kedua alisnya, mantap penuh tanda tanya kearah Momo.
"Abang tidak ingat, saat kita semua menyembunyikan fakta bahwa saat itu abang sakit parah dan Riana hampir kehilangan abang. Disaat yang bersamaan Riana juga harus kehilangan laki-laki paling dia cintai. Apa abang tidak melihat luka Riana sedikit pun? Disaat trauma yang menghantamnya belum pulih benar, abang tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkannya. Apa abang baik-baik saja dengan semua itu?"
Arrian menunduk, hatinya bak terkena hantaman keras. Bagiamana bisa dia tidak memikirkan perasaan adiknya?
"Setiap malam aku hanya mendengarnya menangis, setiap pagi aku harus menyaksikan senyum kepalsuannya berusaha tegar didepan anaknya. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain memberinya semangat dan di saat semuanya mulai membaik, kita kembali membuka luka Riana. Tidak, aku tidak mau abang." Tegas Momo.
Arrian menghelai nafasnya panjang ucapan Momo membuatnya sedikit sesak.
"Kau benar sayang, aku terlalu egois tidak memikirkan luka Riana. Aku hanya ingin memulainya dari awal bersamamu."
Momo tersenyum, sungguh membuat hati Arrian sangat legah. "Kenapa harus memulai dari awal jika kita sudah memilikinya. Apa abang tidak tau? Sebenarnya aku menerima abang karena kau itu pria kaya." Ucap Momo sedikit menggoda Arrian.
"Serius? Bagaimana jika yang kumiliki bukan milikku?"
Momo sedikit berpikri. "Selama abang mencintaiku itu tidak masalah, lagi pula aku juga putri tunggal salah pengusaha kaya negara ini meski tidak sekaya abang."
__ADS_1
Arrian tertawa lepas lalu membawa Momo kedalam dekapannya. "Terima kasih sayang sudah memilihku menjadi suamimu."
"Hemmm..."
...***...
"Sayang, kamu dari mana? Kau membuatku khawatir." Ucap Devan, mendekat ke arah Riana.
"Aku dari ambil air minum, air disini habis." Riana meletakkan gelas berisi air diatas nakas.
"Kenapa tidak menyuruhku?"
"Bagimana menyuruhmu kalau kau tidur sudah seperti orang koma." Runtuk Riana,
"Sayang... " Tangan Devan mulai menggeria kesegala arah
"Hemmm..."
"Aku ingin... "
Platak... Riana memukul tangan Devan yang sudah menyusup ke dalam baju tidurnya.
"Aku hanya ingin menyapanya sayang." Ucap Devan.
__ADS_1
"Setiap hari kau selalu menyapanya."
Sejenak hening menyapa mereka berdua, hanya seuara hembusan nafas yang saling menyaut.
"Tidur lah sayang jangan memikirkan apa-apa lagi, aku tidak ingin kau sakit." Guman Devan.
"Papi..."
"Hemm..."
Riana memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Devan. "Bukannya kau ingin liburan dengan ku?"
Devan segera membua matanya, dia sedikit mengangkat tubuhnya sehingga dengan jelas dia bisa melihat wajah Riana.
"Aku ingin liburan bersama mu."
"Aku akan mengatur jadwalku sayang, setelah itu kita pergi liburan bersama Zoya."
Riana mengangguk dengan senyum. "Aku ingin ke Yunani tanah kelahiran papa Heri."
"Kenapa tiba-toba ingin kesana sayang? Aku kira kau akan ke Korea atau paris bukannya itu negara sangat kau inginkan?"
"Tidak, belakangan ini aku sangat menyukai film Yunani diaana banyak tempat-tempat yang sangat indah. Aku ingin mengunjunginya."
__ADS_1
"Apapun itu sayang, aku akan membawa kalian kemana pun jika perlu kita keliling dunia selama tiga bulan." Ucap Devan.