
Jantung ini seakan sudah berhenti berdetak didalam sana, sudah tidak aada kehidupan lagi di raga Riana.
Riana terus memukul dadanya rasa sesak itu masih ada,
air matanya sepertinya sudah kering tidak ada tanda-tanda akan terjatuh lagi.
Riana masih ingat semua kenangannya bersama Devan, bagaiman pertama kali mereka bertemu, bagaiman Devan selalu ada disampingnya dan memberikan semangat padanya.
Tapi apa ?
Pria itu dengan tidak tau dirinya pergi meninggalkan Riana, tanpa ada kata perpisahan, ciuman dan pelukan terakhir. Yang ada hanya rasa perih tak berujung.
Semuanya masih terasa seperti mimpi saat Riana membuka matanya di pagi hari sisi kanannya kosong, wajah pria itu tidak ada lagi dihadapaannya saat pagi menyapa, senyum penuh kasih yang selalu Riana dapatkan telah hilang.
Riana turun dari ranjang, mendekati meja yang selalu membuat Devan begadang semalam. Diatas kertas putih Riana mulai menulis seluruh isi hatinya.
*Dari aku wanita yang sangat mencintaimu. Aku pikir janji yang kau ucapkan padaku kau akan menepatinya behagia dan menua bersama ku. Nyatanya tidak semua hanyalah sekedar kalimat penenang. Maaf selama kita bersama aku sedikit egois tapi percayalah aku sudah berusaha keras meredam keegoisanku. Aku sedikit cengeng karena aku yakin kau akan menguatkanku. Aku sangat manja tapi yakinlah aku hanya begitu padamu.
Maafkan aku! Belum bisa menjadi istri yang kau inginkan , tapi yakinlah aku sangat mencintaimu bahkan sebelum pernikahan ini terjadi aku sudah jatuh hati padamu.
Aku sangat cemburu saat mendapatimu berasama Lunar, tapi anehnya cintaku selalu mengalahkan amarahku padamu. Awalnya aku sangat
__ADS_1
*takut saat kamu bertemu dengan Lunar, aku takut kau akan kembali padanya, aku takut kau akan m**eninggalkanku dan memilih bersamanya itu ketakutan terbesarku.
Aku sungguh mencintai pria yang awalnya aku pikir membawa sial dikehidupanku. Nyatanya aku salah pria itu membawa ribuan kebahagiaan padaku. Aku mencintaimu Devano Andreas*.
Riana meletakkan penanya diatas keratas yang sedikit luntur karena tetesan air matanya. Dia melipat surat yang tidak akan pernah terbalas, lalu memasukkannya ke dalam laci kerja Devan.
Dia berdiri melangkah perlahan meinggalkan kamar Devan, lebih lama dia berada disini banyangan Devan kian memenjaranya dalam kesedihan.
...***...
Didepan ruang persalinan entah sudah berapa kali Arrian mondar mandir seperti strika pakaian membuat kepala Momo pusing.
"Abang Ar, bisa nggak sih abang duduk! Momo ikut cemas tau liat abang mondar mandir kaya strika gitu."
Pelan Momo meah lutut Arrian, menatapnya damai. "Abang, semua akan baik-baik saja." Tuturnya lembut.
Dari arah berlawanan Lily dan Heri mempercepat langkahnya menghampiri Arrian.
"Ar, bagaiman keadaan Riana?"
Tanya Lily, wajahnya begitu cemas
__ADS_1
"Aku tidak tau Ma, sudah empat jam aku mendengar jeritan Riana kesakitan didalam sana." Suara Ar semakin bergetar ketakutan saat jeritan Riana kembali menghantam gendang telinganya.
"Mama dengar sendiri kan?" Lutut Arrian kembali lemas.
"Nggak papa semua wanita pasti merasakannya Ar." Lily mencoba menenangkan Arrian.
Ada kelegaan di hati Arrian dan mereka yang ada di ruangan itu, saat mendengar tangisan bayi menggema dilorong rumah skait yang sengaja Arrian kosongkan demi kenyamanan adiknya.
Selang beeberapa menit Arrian, Heri, Lily dan Momo masuk saat suster mempersilahkan mereka. Dokter Sita yang menangani Riana menyerahkan bayi cantik nan mungil itu pada Arrian.
Arrian menitikkan air matanya, dia menatap Riana yang sudah sejak tadi berlinang air mata.
Arrian mendekatkan bibirnya keteinga bayi mungil Riana membisikkan seuntai doa dan harapan untuk keponakan cantiknya.
"Riana kau sudah menyiapkan nama untuk bayimu sayang?" Tanya Lilya
Riana mengangguk dengan senyummnya. "Zoya Alqueena Devano."
"Selamat datang baby Zoya" Ucap Momo dengan menirukan suara anak kecil.
Semua yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia menyambut kehadiran malaikat kecil yang menjadi sumber kebahagiaan semua keluarga terlebih Riana, kehadiran malaikat kecilnya hampir menetupi dukanya selama ini.
__ADS_1
END...
Terima kasih banyak atas dukungan dan motivasi kalian selama ini...