
Riana dibuat pusing tingkah aneh suaminya, jika dilihat sedikit menjijikkan bagaiman tidak pria dewasa itu terus menatapnya dengan senyum yang sejak tadi mengambang diwajahnya.
"Kamu nggak kekantor?" Tanya Riana karena sejak tadi Devan terus menguncinya.
"Hari sabtu sayang"
"Nggak ke salah satu mall atau hotel kamu? Bisanya kalau sabtu kamu kesana memeriksa laporan mingguan."
Devan menggeleng. "Semuanya sudah di hendel sama Felix sayang. Pokonya aku ingin dirumah seharian sama kamu."
Riana menutup matanya kesal, ini yang dia hindari makanya tidak memberi tahu lebih awal kehamilannya pada Devan namun dengan tidak tahu dirinya Momo gadis itu mengatakannya. Riana ingin sekali menyusul Momo ke negara K melampiaskan kekesalannya, tapi melihat kondisi saat ini jangankan keluar negri menjauh beberapa meter pun dengan pria ini sangat susah Riana lakukan.
"Sayang... Kamu lagi apa sih?" Ucap Devan tiba-tiba memeluk pinggang Riana bahkan pria itu hanya memakai celana boxernya.
"Devan aku mohon jangan ganggu! Aku sedang memegang pisau Devan, mau lihat aku muncul diberita? Seorang istri menikam suaminya dengan pisau masak ha?" Ancam Riana kesal.
Bukannya menurut Devan semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, aku nggak meluk kamu. Aku meluk anak aku."
"Heee? Anak aku? Perasaan bayinya didalam perut aku deh. Jadi anak aku bukan anak kamu, Celoteh Riana.
" Hey... Hey... Ini anak aku, aku yang paling banyak berkontribusi. Setiap aku ingin melakukannya kau marah-marah."
Riana memutar bola matanya. "Lepasin nggak? Gimana kalau dilihat Lastri dan bibi Lia?"
"Biarin...!"
Ini sudah melampaui batas kesabaran Riana. Riana meletakkan pisaunya dengan kasar diatas meja lalu menatap tajam kearah suaminya. Perlahan Devan mundur karena Riana sudah terlihat sangat menyeramkan.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi Devan berlari meninggalkan Riana.
......................
Kenapa juga hari ini Momo sangat sial? Saat acara fansing BTS dia harus jatuh hingga kakinya terikilir.
__ADS_1
"Bagimana? Apa kakiku patah?" Tanya-nya pada seorang dokter yang memegang hasil X-Ray ditangannya
"Tidak ada masalah, hanya saja..."
"Hanya saja apa Nana?" Potong Momo dengan wajah yang panik.
Seperdetik kemudian tawa gadis itu pecah. "Nana" Geramnya yang sudah ingin menjitak kepala sepupunya itu.
"Maafkan aku!"
"Hey, Nana! Apa kau bisa mengoprasi hidungku agar lebih tinggi sedikit?"
"Kau pikir aku ahli oprasi plastik, yang ada nanti hatimu aku pindahin ke ginjal." Gerutu Nana.
Kode blue
Kode blue
Kode blue
"Apa yang terjadi? Kenapa kau nggak ikut berlari seperti mereka?" Tanya Momo
"Ah... Itu karena bukan bidangku Mo"
"Kau kan seorang dokter jadi semua sama saja."
Nana menutup matanya kesal, bagimana bisa sepupunya ini begitu bodoh untung sayang.
"Ahh? Dokter Angga?" Ucapnya saat melihat Angga begitu tergesa-gesa menyusuri ruang UGD.
"Kau mengenalnya?" Selidik Nana.
Angguk Momo pelan. "Dia dokter pribadi temanku, kenapa bisa ada disini?"
__ADS_1
"Belum lama ini dia kesini menjadi dokter pembantu bersama pria sekarat yang membuat para dokter berlari tadi."
Momo menajamkan tatapannya kearah Nana "Maksdumu pria sekarat?"
"Hemm... Pria sekarat sangat ganteng, sepertinya dia baru menerima donor organ."
Entah mengapa tiba-tiba bayangan abang Arrian terlintas dibenaknya, dia kembali mengingat terakhir bertemu dengan abang Arrian wajahnya sangat pucat dan nafasnya seakan saling memburu. Tempo hari Riana bercerita jika abang Arrian seakan menghilang sejak dia menika. Apa ini hanya kebetulan? Batinnya.
"Mo, Mo, Momo" Teriak Nana membuat mereka jadi pusat perhatian
"Apa sih? Aku Nggak budek."
"Lagian ngelamun nggak jelas. Kamu kenapa? Apa pergelangan kakimu sakit lagi?"
Momo memutar kepalnya hingga menatap lekat wajah Nana.
"Kenapa?"
"Apa kau pernah melihat pasiennya?"
Sejujurnya ini hanya dugaan Momo semoga saja kali ini dia salah.
Nana mengangguk pelan. " Aku pernah melihatnya sekali dan aku langsung jatuh cinta, dia ganteng Mo"
Tanpa berfikir lagi Momo mengobrak-abrik tasnya mencari benda pipih entah bersembunyi dimana dalam tas kecil ini.
"Apa dia pria ini?" Ucapnya sambil memperlihatkan foto Arrian bersama Riana disana
"Ya dia pria itu." Ucapnya yakin
Momo meremas kedua bahu Nana, menatap penuh harap pada gadis itu. "Na... Bawa aku pada pria ini?"
"Apa?"
__ADS_1
......................