Promise

Promise
75


__ADS_3

"Sayang..."


Suara bass Devan mengalihkan perhatian Riana begitupun dengan Alia. Devan langsung melangkah ke arah istrinya, membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Apa kau sudah mendaatakan yang kamu mau?"


Riana mangangguk dengan senyum "Ah, sayang kenalin ini teman aku!"


"Hemm..." Ucapnya singkat tanpa menatap Alia.


Entah ini hanya perasaan Riana atau bagaimana? Seperti ada kecanggungan diantara mereka.


"Hemm, Alia maafkan suamiku! Dia memang seperti itu jika dengan seseorang yang baru."


Alia tersenyum "Tidak apa Riana."


Sepanjang perjalanan Riana terus menyelidik kearah Devan.


"Apa lagi sayang? Apa masih ada yang kamu inginkan?" Ucapnya tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya.


"Apa kalian saling mengenal?" Tanya Riana langsung pada intinya


"Hemm? Siapa?"


"Kau dan Alia?"


"Tidak."


"Jangan berbohong! Saat tadi melihatmu dia melebarkan pupil matanya seperti melihat seuatu yang lama tidak dia temui." Jelas Riana.


"Itu karena aku ganteng sayang semua wanita akan bereaksi seperti itu jika melihat suamimu."


"Apa sih? Aku serius Devan" Riana mulai kesal melihat suaminya terlalu percaya diri.


"Aku juga serius, tapi aku tidak ingin kau dekat dengananya meski dia adik si Adam itu." Devan menekan suaranya.


"Lihat sekarang kau menyuruhku menjahuinya, itu artinya kalian saling kenal kan?"

__ADS_1


"Kenapa tidak percaya padaku sih?" Tanya Devan frustasi. Riana menahan tawanya bagaimana bisa wajah suaminya begitu imut jika sedang kesal.


......................


"Sayang, yakin kamu tidak akan apa-apa jika masuk kampus hari in?" Tanya Devan yang sejak tadi mengekor di belakang Riana.


"Yakin, aku hanya sebentar ko sayang hanya ada satu mata kuliah. Setelah itu aku pulang."


"Kalu begitu aku akan mengantar mu!"


Riana langsung memutar badannya menatap Devan "Hee? Kamu kan harus kekantor." Protesnya.


"Aku akan kekantor setelah kuliah mu selesai."


"Tapi..."


"Tunggu aku ganti baju dulu" Potong Devan sebelum istrinya yang cerewet ini banyak alasan.


Riana menurut saja, entah kenapa juga dia merasa sangat baik jika berada di dekat Devan apa ini bawaan bayinya atau apa Riana tidak tahu.


Sepanjang perkuliahaan Riana benar-benar tidak nyaman, aroma parfum teman sebangkunya sanagt menyengat hingga dia harus bolak balok kekamar mandi menunpahkan isi perutnya.


"Iya Rey aku tidak apa -ap..." Riana kembali mual hingga membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan! Mungkin kamu masuk angin" Hanya anggukan kecil Riana sebagai jawaban, dia sudah tidak bisa lagi menahan berada di ruangan itu.


Kedatangan Riana dan Rey disambut dokter kampus ini.


"Berikan dia obat masuk angin sepanjang perkuliahan tadi dia terus muntah." Ucap Rey, sepertinya dia sering kesini.


"Rey jika bukan bidangmu jangan memerintahku!" Tegas Dokter Harun.


Harun menghelai nafasnya, dia dokter tentu tahu keadaan Riana saat ini sedang hamil. Sejenak dia melirik Rey lalu kembali melirik Riana.


"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Harun pelan.


"Kenapa? Apa keadaannya buruk?" Potong Devan

__ADS_1


"Tidak juga tapi ini privasi mahasiswa aku tidak bisa memberitahunya padamu Rey."


Rey mengerutkan alisnya tidak mengerti, seketika ruangan itu hening mendominan hingga suara gebrakan pintu mengalihkan perhatian mereka bertiga. Dua wajah pria dewas begitu cemas melangkah kearah Riana.


"Pak Reza" Sapa Harun sopan.


"Bagaimana keadaan Riana? Apa sesuatu terjadi padanya?" Tanya Reza wajahnya sangat panik, ingin rasanya Riana tertawa lepas ini pertama kalinya dia melihat wajah omnya sejelek ini.


"Ha? Tidak apa pak hanya saja...?" Harun menggantung ucapnnya membuat Reza geram


"Hanya apa? Apa ada masalah dengan bayinya.?" Tanya Reza makin panik.


Sedang dibelakang sana Devan dan Riana sudah susah payah menahan tawanya.


"Riana baik-baik saja dia hnaya mengalami trismeter pertama ibu hamil. Untuk bayinya lebih baik bapak ke ahli kandungan." Jelas Harun sedikit gugup.


"Riana..." Ucap Reza.


"Aku baik-baik saja om, aku hanya mual ini sering terjadi." Ucap Riana lembut.


"Ah..." Reza menghembuskan nafasnya legah "Mulai hari ini kamu tidak perlu kekampus! Semua biar om yang urus, kamu harus jadmga kesehatan ada cucu om didalam ssana." Tiba-tiba air mata Reza jatuh tanpa permisih


"Om..." Riana menggenggam erat tangan Reza.


"Andai ayah dan ibumu disini, mereka akan sangat bahagia menyambut cucu mereka."


"Aku yakin mama sama papa pasti sangat bahagia diatas sana om." Reza menghampus air mata yang sempat jatuh.


*


Pelan Rey mendekat kearah Riana, hilang sudah harapannya memiliki gadis pujaannya. Hatinya tak berhianat bahkan sampai detik ini dia masih mencintai Riana.


"Rey..."


"Selamat Riana atas kehamilan mu." Dia sangat kaku, ditambah tatapan Devan yang tidak bersahabat.


"Terima kasih Rey." Ucap Riana.

__ADS_1


......................


__ADS_2