
pagi yang cerah,
pukul 09:00
setelah semalaman hujan lebat, kini pagi hari yang cerah akan mengawali hari ini.
hari ini seharusnya Jimin pergi ke perusahaan Italia untuk pemutusan kontrak yang telah berakhir. Minggu depan mereka akan kembali ke Korea lebih awal.
pagi itu Jimin tiba-tiba saja merasa kesal dan sangat marah. ia duduk disofa setelah selesai membersihkan diri sedangkan Hyerin masih tertidur.
tirai kamar telah terbuka semua dan sedikit cahaya masuk kedalam kamar. Hyerin yang merasa silau menutupi wajahnya dengan selimut. tapi tak berapa lama ia sadar bahwa ia berada dikamar Jimin.
Hyerin bangun dan mencari keberadaan Jimin, saat ia menoleh kedepan ia melihat Jimin yang tengah duduk dengan tatapan tajam kearahnya.
"Jimin.. kau bangun lebih awal"
"lebih tepatnya kesiangan? bangun dan keluar dari kamarku! panggilkan Bibi Jinna untuk membersihkan kamar kotor ini" Ucap Jimin tegas.
"Ada apa denganmu? kau terlihat sangat marah"
"aku bilang keluar dari kamarku!!!" Jimin meninggikan suaranya. dia membentak Hyerin sampai wanita ini terlonjak kaget.
Hyerin menunduk, ntah apa yang ia perbuatan hingga Jimin marah di pagi hari. ia turun dari ranjang dan mengambil piyama yang ia pakai semalam.
ia memungut semua pakaiannya dan akan pergi, tapi saat baru akan membuka pintu..
"seharusnya kau mati Hyerin" ucap Jimin membuang muka.
Hyerin terhenti, ia berbalik menatap Jimin yang ia sendiri tak tau apakah dia salah dengar atau Jimin memang mengatakan hal kejam itu.
"Jim.."
__ADS_1
"seharusnya kau mati! mati mengenaskan, aku bahkan ingin memotong tubuhmu dan membuangnya ke laut" ucap Jimin.
hati Hyerin berdetak cepat, jantungnya berdegup tanpa jeda.
"Jimin apa yang kau katakan?" ucap Hyerin lembut.
"aku ingin kau mati ditanganku Hyerin" ucap Jimin menoleh dan menatap Hyerin.
tiba-tiba ia berdiri dan menuju kearah Hyerin, mencekiknya dan mendorongnya ke pintu.
"j-jimin.."
"aku tidak tau aku kenapa, rasa inginku untuk membunuhmu sangat-sangat tinggi" ucap Jimin semakin erat mencekik Hyerin.
kakinya sedikit berjinjit karena Jimin mulai mengangkatnya.
"Jimin t-tolong j-jangan.. a-aku mohon lepaskan"
Hyerin berusaha melepaskan cekikan Jimin dan kakinya mencoba untuk menyentuh lantai. Jimin mengangkatnya cukup tergantung. membuat Hyerin hanya tersisa nafas yang ada dalam kerongkongannya.
*Aegi tidak boleh kenapa-kenapa, anakku harus selamat*
Hyerin terpaksa menendang Jimin yang langsung membuatnya melepaskan Hyerin. Jimin mundur, merasa sakit dibagian yang ditendang oleh Hyerin. nafasnya memburu dan lemas setelah dilepaskan oleh Jimin.
"lancang sekali kau wanita!!"
Jimin mengambil ikat pinggangnya yang mungkin sudah ia sediakan. ia memukuli Hyerin tanpa ampun hingga seluruh tubuhnya terkena pukulan kejam itu.
Hyerin hanya bisa menerima dan mencoba menghalangi dengan tangan. suara dari dalam kamar Jimin mengundang seisi rumah.
Bibi Jinna dan Jems buru-buru masuk dan mendapati Jimin yang menghajar Hyerin. Hyerin melemah, bibirnya memucat dan sudah tak bertenaga untuk melawan Jimin. ia pasrah, dan tak melawan lagi. Hyerin hanya melindungi perutnya dengan kedua tangannya. wajahnya memerah dan tubuhnya dipenuhi luka cambukan.
__ADS_1
ia melihat kehadiran Bibi Jinna dan Jems, tapi ia tau mereka juga tak akan mampu menolongnya. dalam kondisi yang hampir merenggut nyawanya, Hyerin masih mampu tersenyum. bibi Jinna yang tak mampu menampung air mata, ia segera berbalik dan menangis sendu tanpa suara.
Jems menundukkan kepalanya tak mampu lagi melihat Jimin menghajar Hyerin habis-habisan.
*aegi harus bertahan, kau harus bertahan nak.. kau anak hebat, kau anak kuat. ibu yakin kita bisa melewatinya* Batin Hyerin.
wajahnya berkali-kali terkenal pukulan, kaki dan tangannya sudah banyak luka dan goresan. piyama yang ia gunakan telah robek berceceran.
tubuhnya kaku, tangannya masih setia melindungi bayinya. sangat puas Jimin memukuli Hyerin hingga Hyerin tidak bisa bergerak sedikitpun.
matanya hampir tertutup tapi Hyerin mengingat bayi dalam kandungannya. Hyerin masih bertahan meksipun tubuhnya mati rasa.
*kita berhasil sayang..* batinnya.
"kau sudah berani melawanku sekarang.. kedepannya jika kau berani melawanku lagi maka incaranku adalah bayimu itu. aku akan membunuhnya jika kau berani melawanku Hyerin" tekan Jimin menarik rambut Hyerin.
"keluar dari kamarku!!"
Jimin menyeret Hyerin dan mendorongnya keluar kamar. Jems dan Bibi Jinna langsung membopongnya kekamar dan memanggil dokter. bibi Jinna tak berhenti menangis meksipun Hyerin berkata jangan menangis. batinnya seperti seorang ibu yang merasakan penderitaan anaknya.
bibi Jinna membantu Hyerin membersihkan diri dan memakai pakaian, sisanya hanya tinggal menunggu dokter. Jems berusaha menenangkan Jimin yang benar-benar marah pagi itu. ia selalu berkata ingin membunuh Hyerin. setelah sejam, Jimin reda dan terbaring disofa panjang.
"Tuan muda, Tolong tenangkan diri anda.." Ucap Jems meredakan Jimin.
"Jemss.. tolong bunuh wanita itu untukku, bawakan kepaalanya kehadapan ku"
"Tuan muda, Nyonya Hyerin adalah istri anda, ia sedang mengandung calon pewaris keluarga Park. Anda hanya butuh istirahat yang cukup"
"aku akan membunuhnya suatu saat nanti, setelah bayi itu lahir aku akan langsung membunuhnya. dia hanyalah beban dalam hidupku!!! aarrgghhh!!" Jimin kesal benar-benar kesal dengan keinginannya yang menggila dan menguasai dirinya.
"Tuan muda harus segera istirahat, Anda hanya kelelahan"
__ADS_1
Jimin luluh dan menarik nafas panjang kemudian duduk disisi tempat tidur.