Promise

Promise
107


__ADS_3

Disaat yang bersamaan Momo dan Arrian perjalan pulang dari rumah sakit, wajah gadis itu begitu sedih.


"Jangan dipikirkan sayang, kita masih punya banyak waktu mendapatkan bayi." Ucap Arrian seraya mengecup punggung tangan Momo


"Maafkan aku!"


"Apa kau tidak bosan mengucapkannya? Sepanjang perjalanan hanya kata itu yang selalu kamu ucapkan."


"Maa.. " Momo memutar wajahnya menatap Arrian yang sedang menatapnya begitu dalam.


"Aku mencantaimu Monica." Lirihnya


"Aku tau!" Momo kembali memutar kepalanya mengahadap kedepan, betapa. terkejutnya dia melihat seorang wanita beridiri ditangah jalan membentangkan tangannya.


"Abang awas!" Spontan Arrian menginjak pedal rem mobilnya.


Wanita langsung tergeletak di atas jalanan.


"Tunggu disini, aku akan memeriksanya" Ucap Arrian saat Momo ingin membuka pintu mobil.


"Hati-hati abang!"


Arrian melirik Momo seakan memanggi gadis itu. Dia langsung keluar iku memeriksanya.


"Tolong... Tolong selamatkan anakku!" Lirih wanita itu memegang erat tangannya. "Akuu mohon selamatkan anakku!"


Momo menatap Arrian yang sejak tadi hanya diam.


"Abang, bantu aku angkat dia ke mobil!" Setelah menadaoat perintah Arrian membawa wanita itu ke dalam mobil diikuti Momo dibelakangnya.


***


Devan terus menggenggam tangan Riana di ruang persalinan, sesekali Riana harus bangun melakukan olahraga kecil agar mempercepat pembukaan jalan bayi.


"Sayang, kita oprasi saja ya! Aku udah nggak tahan lihat kamu kesakitan seperti itu." Ucap Devan, dia tidak sadar matanya mulai berkaca-kaca


"Aku baik-baik saja papi, kamu nggak denger kata dokter semua baik-baik saja. Hanya saja belum waktunya di adek keluar." Ucap Riana


"Tapi sayang..."


Sakit itu kembali datang Riana dengan sekuat tenaga menahannya.


"Dokter istri saya..." Devan bahkan tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.


Dokter yang menangani Riana membantunya berbaring, dia kembali memeriksa jalan bayi.


"Pak Devan silahkan mundur.!" Dokter itu dan timnya mengambil posisinya masing-masing. "Ibu Riana, ikuti aba-aba saya ya! Untuk kelancaran persalinan ibu berdoa begitupun dengan ayahnya.!"


Disudut ruangan tak henti-hentinya Devan menggemakan doa di hatinya seiring dengan itu air matanya ikut turun melihat perjuangan istrinya.


"Sayang, kau begitu menderita karenaku. Maafkan aku!" Lirihnya.

__ADS_1


Beberapa menit suara bayi kecil menggema diruangan itu, Devan mengadah dengan hati legah. Asisten dokter itu dengan hati-hati membersihkan bayi mungil yang masih merah.


"Selamat pak anak anda lak..." Kata-kata perawat yang membawa bayi itu terpotong saat Devan melewatinya begitu saja.


"Sayang... Terima kasih! Terima kasih sudah melahirkan anak-anakku!" Ucap Devan mengecup semua wajah Riana.


"Maafkan aku sayang... Maafkan aku!"


Ada senyum terukir di ruangan itu, pria yang terlihat begitu menakutkan ternyata memiliki hati sangat lembut.


Pelan suster yang memegang anak mereka mendekat, meski harus meruska momen mengharukan ini.


"Selamat pak anak anda laki-laki"


Devan berdiri menghapus air matanya, dia begitu hati-hati menggendong putranya. Sebuah kecupan dan doa dia bisikkan ketelinganya berharao putra itu akan tumbuh menjadi pria bijaksana dan mampu menjadi pemimpin yang bijak sana di masa yang akan datang.


"Sayang, dia putra kita. Dia begitu tampan dan lebih mirip dengan mu." Ucap Devan.


Riana tersenyum, tenaganya terkuras habis setelah mengalami kontraksi selama itu meski tidak selama Zoya tapi rasa sakit melahirkan putra keduanya begitu hebat sampai-sampai Riana ingin menyerah melahirkan secara normal.


***


Momo semakin panik saat darah mulai keluar dari rahim wanita itu.


"Abang, dia pendarahan?"


"Aku sudah cepat Momo, jarak rumah sakit memang jauh!" Ucap Arrian semakin melajukan mobilnya.


"Akkkh..." Pekiknya.


"Akhh..." Lagi-lagi darah keluar begitu banyak.


Dengan seluruh keberanian Momo, dia membaringkan wanita itu lalu memeriksanya sendiri.


"Abang, berhentikan mobilnya!" Pinta Momo


"Kenapa? Kita akan ditangkap polisi jika tidak membawanya kerumah sakit."


"Abang!"


"Oke..." Arrian menepikan mobilnya, untung saja suasana dijalan itu begitu sepi.


"Abang keluar!"


"Ha? Kau gila? Ini bukan jurusanmu Momo" Protes Arrian


"Abang, bayinya akan segera lahir kau mau membunuh anak ini? Aku pernah melihatnya diyoutub"


Arrian putus asa dia menyerah berdebat dengan Momo, gadis itu terus saja menang darinya. Saking gelisahnya menunggu dia tidak sadar jika tangisan bayi baru saja menggema dari dalam mobil itu.


"Abang, ayo kita kerumah sakit!" Teriak Momo.

__ADS_1


Kagetpun tidak sempat saat Arrian melihat Momo sudah menggedong bayi kecil, dia melajukan mobilnya begitu kencang menuju rumah sakit.


Dia terus mengawasi Momo dari depan.


Momo terus mengawasi bayi itu saat suster membersihkannya.


"Ibu Monica" Dia berbalik saat namanya di panggil salah satu dokter yang menangani wanita tadi.


"Bagaiman Dok keadaan ibunya?" Tanya Momo begitu cemas.


"Maafkan kami, ibu dari bayi itu telah meninggal karena pendarahan hebat. Untung saja anda berani melahirkan bayinya, jika tidak mungkin dia tidak selamat." Jelasnya.


"Sayang..." Lirih Momo mengadah pada Arrian.


Momo mendekati Wanita yang sampai detik ini dia tidak tahu namanya, hanya inisal kalung bentuk L saja yang Momo tau jika nama wanita itu berawalan L.


"Luna, aku memanggilmu seperti itu. Maafakan aku tidak bisa menyelematkan nyawamu tapi bayimu telah selamat, dia begitu cantik sepertimu. Luna, mungkin aku sedikit egois tidak mencari ayah dari bayimu, biarkan aku menjaganya! Aku akan menjadi ibunya, ibu dari anakmu Luna."


Momo melangkah meninggalkan rumah sakit itu, wajahnya begitu bahagia menggendong bayi yang kini menjadi anaknya.


Tidak ada yang kebetulan didunia ini, semua sudah diatur dan di takar sesuai dengan porsinya. Begitupun dengan kedua bayi mungil itu, benang takdir mereka baru saja terangakai, cinta begitu rumit.


***


"Dia putraku Gio Alvian Andreas." Ucap Devan sembari mengecup pipi Gio


***


Disatu sisi Momo terus mengelus pipi bayinya. "Aku memberinya nama Alvira Athaya Sofia. Sofia putrimu." Lirihnya. Arrian tersenyum bahagia melihat pancaran


penuh kebahagian dari bola mata istrinya.


**TAMAT...


Aku mau ngucapin banyak terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu setiap episodenya.


Sekali lagi terima kasih banyak, semoga kalian tetap sehat dan kita semua bisa berkatifitas dengan normal.


Bay.. Bay... Salam sayang dari Authorr


Riana**



Devan



Arrian


__ADS_1


Momo



__ADS_2