Promise

Promise
Promise Eps 24


__ADS_3

BRUAK!!


"p-perutku.."


Jimin menghempas Hyerin dengan kasar hingga ia terduduk di sofa. getaran yang terjadi saat ia jatuh mempengaruhi kandungannya dan langsung membuat perutnya nyeri dan bergetar.


"Jimin, p-perutku ngilu dan sakit.. t-tolong.." Rintih Hyerin menatap Jimin berharap ia mau menolong.


"Hyerin.. istriku.. kau bahkan tidak tau siapa suamimu yang sebenarnya, berani sekali kau macam-macam denganku." ucap Jimin mengambil buku diatas meja.


Jimin duduk di sofa yang berjarak agak jauh dari Hyerin dan membaca buku ditangannya. Hyerin hanya menunduk mengelus perutnya agar sang bayi tenang. ia meringis merasakan sakit dan ngilu terasa sedikit pergerakan didalam sana.


Jimin mengerutkan dahinya, menatap perut Hyerin yang bergerak.


"anak kuat.."


nyerinya sedikit berkurang, pergerakan sudah tak terlihat. Hyerin menghela nafas pelan dan bersandar pada sofa.mengelus perutnya yang semakin membesar ia sangat menyukainya. Hyerin tersenyum tipis, tampaknya ia tidak mendengar ucapan Jimin barusan.


"anak kuat, kau anak kuat"


tanpa ia tau Jimin tengah menatap tajam kearahnya, akhir-akhir ini Jimin sering sekali marah tanpa sebab yang Hyerin sendiri tidak mengerti kenapa.


"kemasi barang-barang ku dan kita akan kembali kekorea besok" ucap Jimin.


"baik"


Hyerin segera bangkit, ia menarik koper besar milik Jimin yang sedikit kotor. ia bersihkan kemudian mengambil baju-baju Jimin dari lemari. dengan telaten ia melipat satu persatu baju suaminya itu dan memasukkannya ke dalam koper.


tak lupa dengan koper untuk sepatu-sepatu Jimin juga ia bersihkan dan masukan menjadi satu. Jimin adalah orang yang tidak suka barangnya berantakan. Hyerin mengaturnya dengan sangat rapi dan ringkas.


"Jimin, aku sudah selesai merapihkannya"


"heemm, keluar dari sini"


"baik"


saat membuka pintu dan ingin keluar Hyerin terkejut karena ada Jems didepan pintu


"Jems"


"maaf telah mengangetkan anda Nyonya, aku perlu bicara dengan Tuan" ucap Jems.

__ADS_1


"tidak papa, masuklah"


Jems mengangguk kemudian masuk kedalam


pintu tertutup tapi Hyerin penasaran apa yang akan dikatakan Jems.


"Tuan, nona Astrid ada disini untuk menemui anda" suara Jems terdengar hingga keluar.


"usir saja, aku tidak butuh"


"Tuan, jika mengusirnya begitu mudah aku tak mungkin datang menemui anda" ucap Jems.


"apa yang dia inginkan!"


"Nona Astrid mencintai anda, tentu saja datang untuk menebar pesonanya pada anda. ia bahkan mengirim surat berkali-kali "


"surat?"


Hyerin menguping dari luar sana, setelah mendengar nama Astrid ia buru-buru menoleh ke lantai bawah dan benar saja Astrid tengah duduk disofa ruang tamu yang sudah jelas dia menunggu Jimin.


"jadi Astrid mencintai Jimin? apakah dia datang ke Milan juga karena Jimin?" Gumam Hyerin.


"Nona Astrid berkata ingin tidur dengan anda, dia mengirim surat dan email setiap hari ke akun Anda. dia mengatakan bahwa dirinya lebih hebat dari nyonya Hyerin" Ucap Jems.


"lebih hebat dari Hyerin? aku kira itu benar, tapi sayangnya Hyerin tak ada tandingannya "ucap Jimin ketus.


"dia bahkan tak bisa disamakan dengan Nyonya Park, bahkan melayaniku sekalipun" tambahnya.


Hyerin terdiam, banyak tanda tanya dalam otaknya. kenapa Jimin mengatakan demikian, padahal Jimin dan Hyerin melakukannya disaat ia mabuk. dan tak sering melakukannya disaat Jimin tengah sadar.


"Nyonya Park? kenapa aku sedikit senang saat dia menyebutkannya untukku" gumam Hyerin tersenyum.


mendengar pintu kamar akan terbuka,Hyerin dengan sigap berjalan seperti sedang lewat didepan kamar.


"eum? Hyerin?" Jimin mengerutkan dahinya saat melihat Hyerin disana.


"aku mencari bibi Jinna, aku pikir dia ada disana" ucap Hyerin alasan.


"Astrid ada di bawah, masuk kekamarku dan tetap didalam sampai aku kembali"


"tapi kenapa?"

__ADS_1


"masuk, jangan banyak tanya" Jimin mendorong Hyerin dan menutup pintunya.


"pria arogan ini, apa maksudnya ini aku malah dikurung disini. apa mau bermesraan dengan Astrid? huh" decih Hyerin kesal.


Jimin jalan keruang tamu dan menemui Astrid. tampak senang diwajahnya saat melihat Jimin duduk didepannya.


"Jim.."


"katakan apa yang kau butuhkan? jika tidak penting segeralah keluar dari sini" ketus Jimin pada Astrid.


"dari sejak kau dan Anna masih berpacaran dulu sampai sekarang kau tak pernah berubah" ucap Astrid smrik.


Astrid berdiri dan mendekat kearah Jimin, diruang tamu itu hanya ada mereka berdua. Jems berada dilantai atas untuk tetap didepan kamarnya agar Hyerin tidak keluar. sedangkan Bibi Jinna ntah pergi kemana. Astrid terus mendekat dan tiba-tiba duduk dipangkuan Jimin dan berhadapan dengannya.


"eum... ahhh.. ini nyaman sekali" ucap Astrid.


tak menolak justru Jimin merapatkan tubuh mereka. Astrid bisa merasakan sesuatu yang menonjol ditempat yang ia duduki. tatapan Jimin tajam dengan smirk khas miliknya. ia mencengkram erat pinggang ramping Astrid dan semakin rapat tubuh keduanya.


"munafik jika kau tak tergoda padaku.."


Astrid mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin tapi Jimin menolaknya. ntah apa rencana Jimin ia tak berkata sepatah katapun. Astrid meraba seluruh lekuk wajah Jimin dan berhenti di lehernya. meraba jakunnya dan membuka kancing bajunya hingga separuh dada Jimin terlihat.


"Jimin'aa.. aku sudah lama mencintaimu, aku ingin menikah denganmu.. tak masalah jika harus jadi yang kedua setelah Hyerin" ucap Astrid.


Jimin hanya tersenyum dan berdecih pada Astrid tapi wanita ini tetap tak merespon nya dan melanjutkan aktifitasnya dengan membuka baju Jimin.


"kau melebihi batasan mu Astrid" ucap Jimin mencengkram tangan Astrid.


"aku bahkan ingin yang lebih dari ini" balas Astrid.


ia merapatkan dadanya pada wajah Jimin dan membuka kancing bajunya dihadapan Jimin. tidak ada reaksi apapun diwajah Jimin saat melihat dua buah gundukan kenyal terpampang jelas di depan matanya.


*Tidak seseksi milik Hyerin* Batin Jimin.


"kau tidak ingin mencobanya?" Astrid meraih tangan Jimin dan memimpinnya untuk menyentuh dua buah miliknya. ia memimpin tangan Jimin untuk sedikit bermain dan meremasnya.


Jimin merubah posisi mereka menjadi Astrid dibawah kungkungannya. ia mulai melakukan aktifitasnya tapi saat akan mendekat, Jimin berhenti tepat disamping telinga Astrid.


"kau pikir aku tertarik dengan wanita murahan sepertimu? milik Hyerin lebih menggoda daripada milikmu.. seluruh sisinya padat dan sangat kenyal. berbeda sekali dengan milikmu"


"dan satu hal lagi, kau tidak sehebat Hyerin saat menggoda!"

__ADS_1


kemudian Jimin menjauh merapihkan pakaiannya dan meninggalkan Astrid begitu saja. Astrid terpaku, ia tak akan pernah menyangka Jimin akan mengatakan hal seperti itu.


__ADS_2