
"Gila lo ya Van, jam segini ngebangunin gua." Gerutu Felix kesal. "Cepetan bilang lo mau apa."
Devan langaung melihat beberapa buah mangga tepat di belakang Felix diikuti ekor mata pria lajang itu.
"Are you serius?"
"Ngapain gua malam-malam kesini kalau mau ngerjain lo Lix."
"Gila ni bocah, ini udah malam nggak bisa besok apa? Ini namanya mencuri kalau nggak minta Van. Lagian lo aneh-aneh aja mau makan mangga tengah malam."
"Udah lo nggak usah banyak alessan gua mau mangga itu sekarang!"
"Wah.."
Di tengah perdebatan mereka dari arah jam dua belas seorang pria remaja berpakaian serba hitam celana robek-robek mendekat ke arah mereka.
"Kenapa bang Felix" Sahutnya mengalihkan pandangam kedua pria dewasa itu.
"Mayooor" Mereka berdua saling bersamalam dengan tinju.
"Ahh... Kebetulan lo disini, gua mau minta mangga lo nih."
"Mangga? Tunggu aku ambilin bang." Devan takjub dengan cara memanjat pria berwajah sangar itu hanya beberapa kali berpijak dia berhasil sampai diatas apa mungki dia titisan kera sakti ya.
"Bang! mau yang masak, mengkal atau yang muda bang?" Teriaknya.
"Kalau boleh semuanya lah Yor"
Hanya butuh waktu lima menit sekantong mangga pesana Riana kini berada ditangan Devan.
"Ngidam bang tengah malem mau makan mangga?"
"Haha ngadi-ngadi lo Yor, bukan gua tapi nih temen gua yang nyari." Mulut mayor membentuk huruf 'o'
Devan yang sejak tadi memutar otaknya menatap Remaja bertindi didepannya ini "Kamu bilang tadi ngidam?"
__ADS_1
"Aaaa.. Iya bang, biasanya sih gitu kalau orang ngidam maunya aneh-aneh. Kaya ibu saya bang pas ngidamin adik saya mau makan coto khas makassar tengah malam."
Devan dan Felix saling memandang, seutas senyum mengambang diwajah pria manik abu itu.
"Berapa harga mangganya Mayor?"
"Nggak usah bang gratis, moga-moga aja ini berita baik." Ucapnya tulus.
"Thank Yor. Porsa" Teriak Felix mengikuti langkah Devan.
"Oke bang! Porsa" balasnya dengan tawa.
"Lo pecinta bang H. Roma Irama Lix?" Tanya Devan di selah lamgkahnya
"Ha? Sapa tu Van?" Tanya nya heran.
"Bang H. Roma, tu si raja dandut masa lo nggak tau? Terus ngapain lo teriak 'porsa' tadi?"
"Tu bocah kalau ngeliat gua selalu teriak 'porsa' ya mana gua tau kalau itu menyngkut si raja dandut."
*
Sedikit berlari Devan memasuki pintu utama rumahnya, disana ada Lastri dengan wajah cemas menyambut kedatangan Devan.
"Tuan... Tuan dari mana saja? Tanyanya
"Ada apa? Riana mana?" Tanya Devan mulai khawatir.
"Nyonya di ruang keluarga, sejak tuan keluar tadi nyonya muda terus menangis tuan."
Tanpa pikir panjang lagi Devan mencari keberadaan istrinya. Nafas lega menghembus begitu saja saat melihat wajah sebab istrinya kini tertidur pulas.
Pelan Devan menghampiri Riana, menjokkokkan dirinya sejajar dengan perut rata gadis itu.
"Apa benar kau sudah hadir didalam sana?" Ucapnya lirih.
__ADS_1
pelan dia memindahkan istrinya kekamar.
*
Devan mengerjabkan matanya, berusaha mengumpulkan puing-puing kesadaranya. Betapa terkejutnya saat tidak mendapati Riana disampingnya, tanpa pikir panjang lagi Devan berlari menurungi tangga mencari keberadaan gadis ya g sudah membuatnya panik di pagi buta begini.
"Ya ampun sayang, ini masih pagi kamu juga belum sarapan udah makan mangga." Ucapnya panik.
Devan berbalik menatap tajam gadis berkepang dua yang bati saja membuat rujak untuk Riana
"Tantri"
"Lastri Tuan."
"Terserah. Apa yang kau lakukan membiarkan istriku makan mangga dengan perut kosong di pagi buta begini"
"Ahh?" Lastri melirik Riana yang sedang asik menyantab rujaknya.
"Kenapa diam?" Geram Devan
"Tuan, nyonya Riana sudah menghabiskan sepiring besar nasi goreng, seporsi bubur ayam, tiga potong senwich dan ini mangkok ketiga rujak nyonya Riana sudah habiskan. Bahkan nyonya Riana memakan martabak yang saya beli tadi malam tuan."
"Ah?" Devan melirik Riana tidak percaya jika istrinya menghabiskan semua makanan yang Lastri sebutkan tadi.
"Sayang, kenapa kau tidak memakai baju?" Tanya Riana dengan polosnya.
"Itu karena aku mencemaskanmu" Jawab Devan sedikit kesal, pria itu berlalu begitu saja.
"Lastri, pria memang tidak bisa dimengerti."
"Benner nyonya."
Devan menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, dia segera meraih ponselnya dan mencari tahu semua tentang kehamilan. Hatinya terus bersenandung doa semoga saja benar jika Riana sedang mengandung.
Sejam beralalu mata Devan mulai perih membaca semua artikel tentang kehamilan. Ada baiknya jika Devan membawa Riana ke ahli kandungan minggu ini.
__ADS_1
bersambung