
*
Merasa kepalanya sangat sakit, perlahan Riana membuka matanya. Samar-samar dia menangkap potret wajah kedua sahabatnya dan kakaknya Arrian.
"Ri... Gimana perasaan lo? Lo kenal gua kan?" Ucap Momo seraya membantu Riana menyandarkan dirinya
"Ya ampun Mo, Riana tu cuman pingsan karena nggak makan seharian, bukan kejedot di ban kereta api sampai ilang ingatan. Ada-ada aja ni anak" Ingin sekali Hendry menjitak kepala Momo agar otaknya sedikit encer.
"Ya kali dia ilang ingatan pas dia pingsna Hen"
"Nggak gitu konsepnya Mo, udah ngomong sama orang otak pas-pasan kayak lo nggak guna" Hendry melirik Arrian yang sejak tadi memperhatikan perdebatan mereka. "Bang Ar, kalau cari istri jangan kaya Momo! Abang bakalan capek ngejelasin semua ke dia terutama soal arah, dia nggak bisa bedain mana utara dan timur yang dia tahu hanya selatan bang soalnya rumahnya menghadap keselatan."
"Diem nggak loh!" Tatapan tajam Momo tidak membuat pria bermata sipit itu takut, malah dia menjulurkan lidahnya mengejek Momo.
Ar menyunggingkan senyumnya melihat kedua sahabat adiknya saling berdebat, suasan rumah itu seakan hidup kembali.
Benar saja kehadiran Momo dan Hendry mengurangi kesedihan Riana. Saking asiknya menghibuur Riana mereka tidak sadar senja mulai menyapa.
"Ri... Gua dan Hendry balik dulu! Besok gua kesini lagi hem. " Riana mengangguk.
"Gua udah buatin loh mie goreng, juga susu. Lo harus makan sampai habis!" Ada apa dengan Momo? Dia sudah seperti seorang ibu yang memaksa anaknya makan.
Sebelum pergi Momo kembali duduk disisi Riana. "Ri, gua yakin lo kuat ngehadapin semua ini. Jika memang Devan masih hidup gua yakin dia bakal kembali ke loh. " Riana menundukkan kepala, menyembunyikan kesedihannya
"Gua balik dulu, besok gua kesini lagi temenin lo"
__ADS_1
Riana mengantar kedua sahabatnya itu sampai depan pintu utama, lambaian tangan mengntar kepergian mereka.
Ingatnnya kembali beberapa hari yang lalu saat dia mengantar Devan. Air matanya tak terbendung lagi dia kembali menumpahkan cairan bening itu. Bersamaan dengan derasnya hujan dijagad sana, alam sekan ikut bersedih meratap kemalangan gadis itu.
Bulan ini senja mendatangkan hujan air dan rindu yang sama-sama derasnya. Riana melangkah tak menengok lagi. Lastri, pak Dimang dan bibi Lia saling menatap, wajah mereka menyimpan kesedihan berbuat sesuatu untuk menenangkan tuannya sia-sia gadis itu kembali tenggelam dibalik kamar menyimpan sejuta kenangan bersama Devan.
Riana kembali membaringkan tubuhnya diatas lantai dingin, air mata dipelupuk matanya sekana sudah mengering. Tanganya kembali bersidekap memberikan ketenangan tersendiri. Perlahan gadis itu menutup matanya malam ini sepertinya dia melewatkan makan malamnya.
Tubuhnya seakan melayang diudara mungkin mimpi, rasanya baru sebentar dia tertidur namun gemericik air dari bilik kamar mandi membangunkannya. Riana melirik jam digital di atas nakas sudah pukul sepuluh malam.
Siapa yang malam-malam begini mandi dikamarnya? Apa mama? Batin Riana.
Cicitan pintu kamar mandi terbuka perhatian gadis itu teralihkan. Riana melototi pria yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi, yang hanya mengenakan handuk putih wajah segar nan tampan membuat Rian terpaku.
Apa saat ini dia betada didunia mimpi? Kalau iya biarkan Riana terus tertidur, lagi dan lagi air mata itu dengan kurang ajarnya keluar tanpa permisi
"Wah... Bahkan aku bisa mendengar suaranya sekarang"
"Ri, jangan buat aku kawatir! Kamu baik-baik aja kan sayanh?" Devan menangkup lengan Riana tangan dinginnya membuat gadis itu tersentak
"Kak Devan?"
"Iya ini aku, kamu sakit? Apa ada yang melukaimu ha?" Wajah Devan mulai panik. Riana berulang kali menggeleng berusaha menyadarakan dirinya. Belakangan ini sering terjadi dia berhalusinasi Devan berada disampingnya tapi, ini nyata.
"Kak Devan..."
__ADS_1
"Iya Ri... Ini aku sayang" Devan membelai lembut pipi Riana
"Riana ngga mimpikan? Ini nyata kan?
" Ini aku Devan suami kamu, semua ini nyata"
Riana langsung menghambur dalam pelukan Devan, ini nyata sangat nyata. Lagi, Riana menangis namun bukan kesedihan namun rasa bahagia. Tidak lama Riana melepaskan pelukannya, lalu mendorong kuat tubuh kekar sedikit gelap itu.
"Jahat, jahat." Riana memukul dada bidang suaminya yang polos. "Jahat, karena kamu aku terus menangis sepanjang hari. Aku selalu berpikir kamu pergi ninggalin aku. Hiksss... Hiksss... Dan aku belum mengatakan perasaanku, jika aku juga mencintaimu" Riana menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Devan tersenyum tipis mendengar pengakuan istrinya yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Kamu masih bisa tersenyum? setalah apa yang kamu lakukan? Beberapa hari ini aku terlihata snagat buruk, sepanjang hari Ku terua menangis dan sekarang melihat aku bersedih seperti ini kau malah tersenyum. Kamu jahat." Devan terus menatap wajah istrinya yang nemerah ingin rasanya Devan mengigit hidung merah itu
"Ini tidak adil. Kau selalu membuatku kesal, kau terus membuatku bersedih. Kau ingat saat diruangan rapat Jessica hampir menciummu rasanya aku ingin meledakkan kantor mu, aku cemburu saat mengetahui kau masih menyimpan kepingan kenangan mu bersama mantan kekasihmu. Tapi sialnya aku semakin mencintaimu, jantung ku tak berhenti berdegub kencang saat kau menciumku." Riana kembali mentihkan air matanya. Apa gadis itu sangat mencintai suaminya? Entah sudah berapa kali dia menangis.
"Jadi, kau mencintaiku?" Devan mengangkat dagu istrinya agar wajah mereka saling berhadapan. Mata bengkak Riana se-habis menangis semakin menambah kecantikannya.
"Apa hanya kata itu yang kamu tangkap ha?"
"Iya... Kata itu sejak lama ingin aku dengar. Jadi suami kamu susah ya, hanya ingin mendengar 'aku mencintaimu' aku harus jadi korban pesawat jatuh dulu." Satu pukulan melayang di lengan Devan.
"Kamu masih bisa bercanda?, setelah apa yang terjadi"
Devan menatap lekat wajah istrinya lalu menarik Riana dalam pelukannya agar gadis itu tenang.
"Aku sudah disini" Devan mengeratkan pelukannya, sungguh dia sangat merindukan gadisnya. Devan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Riana, mencium aroma tubuh yang sangat dia rindukan beberapa hari ini.
__ADS_1
......................