Promise

Promise
42


__ADS_3

*


"Kalau begitu suster ikut kekamrku! Aku akan melunasinya." Riana berlalu dengan langkah sedikit berlari. Andai gadis itu memiliki kekuatan gomu-gomu seperti Luffy simanusia karet (Karakter anime one piece) dia tidak perlu meenunggu begini didepan lift.


"Kamu kemana saja Riana?"


Suara Devan membuat Riana yang baru saja masuk dikamaranya melonjak kaget.


"Aku dari bawah kak," Riana berlalu melewati Devan.


"Kamu cari apa sih?"


Suara Devan terdengar gusar namun gadis itu masih sibuk mengobrak abrik tasnya.


"Riana, aku bertanya kamu cari apa?"


Riana memutar tubuhnya cepat, mendapati wajah suaminya sudah memera.


"Aku cari domoet aku, semalam kayak masih di dalam tas aku."


"Kamu mau apa? Cukup bilang sama aku kalau kamu ingin sesuatu Riana."


Riana kembali mencari benda persegi empat itu. Tidak mungkin juga kan dia meminta pada suaminya.


"Dapat"


Perawat yang mengikuti Riana dibuat kaget saat melihat keberadaan Devan disana bagaiman bisa salah satu orang berpengaruh terhadap perekonomian negara ini bisa berada disini? Dan lebih penting pria ini adalah pemegang saham tertinggi di rumah sakit ini.


"Tuan Devan" Ucapanya seraya menunduk hormat. Devan acuh jika menurutunya itu tidak penting.


"Ini suster!" Riana menyerahkan kartu atm pribadinya semakin membuat Devan bertanya-tanya.


Devan mencekal tangan gadis yang sejak tadi mengabaikannya. "Riana, ada apa ini? Sejak tadi kamu mengabaikan semua pertanyaan ku dan sekarang kau melakukan sesuatu yang tidak ku ketahui."


Riana mendongak menatap wajah Devan. Bukan karena apa Riana selalu mengabaikan pertanyaan pria ini hanya saja dia tidak ingin menyusahkannya.

__ADS_1


*


"Pastikan oprasinya lancar, dan pindahkan pasien itu ke ruang VIP"


Riana yang sejak tadi berada di belakang suaminya hanya bisa terdiam. Memang sekaya apa pria ini? Bahkan kepala dan direktur rumah sakit dibuat tunduk kepadanya.


"Baik Tuan Devan, maafkan kami jika membuat anda dan Nyonya tidak merasa nyaman."


*


Ada apa dengaannya? Apa dia marah? Batin Riana.


"Kak Devan, apa kakak marah?"


Devan yang sejak tadi hanya diam mengangkat wajahnya menatap Riana


Devan beranjak dari tempat duduknya pelan dia duduk disisi gadis yang sudah membuatnya kesal, anehnya perasaannya semakin bertambah untuk mencintainya "Tidak, bagaimana bisa aku marah pada wanita yang aku cintai?" Devan mengelus lembut pipi putih Riana "Tapi, aku minta sama kamu Riana, jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku! Jika kau ingin sesuatu atau melakukan sesuatu bilang sama aku! Karena aku suami mu Riana."


"Maafkan aku kak"


Riana dengan polosnya menyerahkan dompetnya biar pria itu mencari sendiri yang dia inginkan.


Tak... Riana melotot sempurnah saat Devan mematahkan kartu atm miliknya.


"Kak Devan, kaka kenapa matahin kartu Riana?"


"Agar kau tidak menggunakannya lagi." Devan menangkup kedua pipi gadis itu "Pakai semua yang aku berikan kepadamu. Karena semua yang ada padaku adalah milikmu Riana. Buat apa aku bekerja siang malam tapi kau tidak menikmati hasil kerja ku ha?"


*


Setelah Angga memperbolehkan Riana pulang Devan, menuju meja Administrasi membayar tagihan rumah sakit istrinya. Sedangkan Riana menunggunya di lobi rumah sakit.


"Nona Riana"


Suara pak Adam mmebuat Riana memutar lehernya.

__ADS_1


"Pak Adam."


"Nona Riana, saya mengucapkan banyak terima kasih! Entah bagaimana saya akan membalas semua kebaikan nona muda karena sudah menolong adik saya. Untuk biaya pengobatan Alia saya akan menggantinya." Ucap pak Adam tulus bola matanya bahkan mulai mengak sungai disana


"Pak Adam aku sudah menganggap pak Adam seperti keluarga ku sendiri. Aku dan kak Arrian seharusnya minta maaf karena tidak mengetahui keadaan Alia padahal kita tinggal bersama. Dan satu lagi pak Adam jangan pernah mengembalikan biaya pengobatan Alia aku akan sangat marah jika bapak mengembalikannya." Tegas Riana.


"Tap..."


"Hemmmm... Aku tidak terima alasan. Sampaikan salamku pada Alia semoga dia bisa melewatinya." Ucap Riana seraya meninggalkan pak Adam menuju mobil Devan.


Devan yang sejak tadi mendengar percakapan istrinya dan pak Adam mengukir senyum diwajahnya. Sepertinya Devan harus berterima kasih pada Arrian telah menikahkannya dengan bidadari secantik dan sebaik Riana. Sampai kapan pun Devan tidak akan melepaskan gadis itu Riana hanya miliknya seorang.


"Sayang..."


Suara Devan membuat Riana dan pak Adam berbalik pria itu langsung menunduk hormat.


"Pak Adam saya permisih dulu."


"Baik Nona"


Devan merangkul posesiv pinggang istrinya seakan mengumkan pada dunia jika gadis ini adalah miliknya.


Riana... Kau semakin jauh untuk kugapai, semakin semu dalam duniaku. Aku pikir dengan jarak yang telah ku buat akan menenangkan hatiku tapi salah hatiku semakin sakit.


......................


Devan



Riana



Adam

__ADS_1



__ADS_2