Promise

Promise
43


__ADS_3

*


Sejak kepulangan Riana dari rumah sakit sifat Devan berubah sedikit aneh, bagaimana tidak ? Pria itu terus menempel pada istrinya bahkan Devan memilih kerja dirumah dibanding masuk kantor.


"Mau kemana?" Tanya Devan saat melihat Riana sudah rapi. Blouse putih dipadukan dengan rok span cream pendek, rambut panjang sepinggang dia kuncir entah belakangan ini cuaca sangat terik


"Kekantor, sudah seminggu Kakak mengurungku dirumah jadi, hari ini aku akan masuk."


"Tidak! Kamu masih sakit Riana, kamu tidak dengar apa kata Angga? Kamu harus istirahat dirumah."


"Aku sudah sehat kak Devan, aku janji di kantor aku tidak akan melakukan pekerjaan yang berat." Rayu Riana, wajahnya dia buat seimut mungkin agar suaminya itu luluh.


Itulah kelemahan Devan jika istrinya mengeluarkannjurus andalannya dia sangat pandai merayu hingga benteng pertahanan Devan selalu runtuh.


"Tunggu aku mandi kita kekantor barengan." Ucap Devan seraya berlalu di hadapan Riana.


*


"Kalian mau kemana?" Lily menghampiri anak dan menantunya yang baru saja turun.


"Kekantor ma, sudah seminggu aku tidak masuk kantor. Laporan magangku juga belum rampung, bisa-bisa aku mengulang tahun depan lagi jika begini ma."


"Tapi kamu masih dalam pemulihan sayang, mama nggak mau kamu sakit lagi kaya kemarin."


"Tenang mama! Aku akan mengawasinya dan membuat menantu kesayangan mu ini tetap berada disisiku." Seringai licik Devan mengambang diwajahnya, Riana mengerutkan keningnya perasaannya mulai tidak enak.


"Awas jika kau menyusahkan menantu kesayangan mama Devan"


"He hey, mama ini kenapa tidak bisa percaya sama Devan sih. Dia hanya menantu kesayangan mama sedang dia istri Devan yang paling berharga diduni ini. Mana mungkin aku membiarkannya kelelehan." Riana menatap heran suaminya . Sejak kapan dia menjadi seaneh ini?


"Atau kua tinggal dirumah, biar Felix yang nengerjakan laporan mu syaang."


"Tidak. Mama kami pergi dulu, aku akan segera pulang" Riana mengecup pipi Lily terlebih dahulu. "Kami menyayangimu mama" Seru Riana dalam langkahnya. Jika sehari lagi gadis itu tinggal dirumah mungkin dia sudah stress

__ADS_1


*


Seperti biasa Riana akan turun sebelum Devan memasuki area gedung kantornya.


"Sampai kapan kamu akan begini? Apa aku tidak cukup ganteng sehingga kau tidak ingin jika orang tau aku a1dalah suamimu?


Riana menatap lekat wajah maskulin sang suami, tangan kecilnya menangkup kedua pipi Devan yang sedikit kasar karena bulu-bulu brewok itu.


" Bukan seperti itu, aku hanya ingin mereka tidak memperlakukanku berlebihan karena aku adalah istrimu"


Itu tidak akan lama Riana, setelah menggelar resepsi pernikahan kita dunia akan tahu kau milikku, milik Devano Andreas


"Kalau begitu berikan aku ciuman?"


"Hemm... Disini? Bagaimana jika ada yang lihat?"


"Kita didalam mobil Riana, tidak ada yang akan melihat."


"Sudah..."


"Itu yang kamu sebut ciuman? Apa kamu anak abg yang baru pacaran?"


"Hehe... Aku akan melanjutkan ke step selanjutnya lain kali" Ucap Riana sembari keluar dari mobil Audy RS7 berwarna hitam milik Devan.


Devan dibuat gemas karena tingkah lucu istrinya.


"Aku akan menunggu step selanjutnya sayang" Lirih Devan mulai menginjak pedal gas mobil memasuki gedung kantorr miliknya.


*


Devan baru saja turun dari mobil miliknya. Dia pria dingin berwajah tampan menjadi pusat perhatian saat ia memasuki lobi perusahaan miliknya. Bagi karyawan disana pemandangan ini mengalahkan indahnya sunrise.


Bebarapa karyawan terlihat menunduk hormat pada sang-CEO. Namun Devan terlihat tak perduli dan terus melangkah menuju lift yang baru saja terbuka. Didalam sana sudah ada Jessica menyambutnya dengan senyum namun Devan tidak memperhatikannya dia lebih fokus pada kedua wanita yang menatap tajam padanya.

__ADS_1


"Devan, kamu dari mana aja? Seminggu ini kamu nggak masuk apa ada sesuatu yang terjadi?" Jessica mulai mendekat kearah Devan. Melalui pantulan diding lift itu Devan yang tak sengaja melihat kedua wanita melotot seakan ingin menelannya hidup-hidup. Atmosfer di ruangan persegi itu berbah mencekam bagi Devan.


"Tidak ada Jess semua baik-baik saja" Ucap Devan berusaha menenangkan dirinya.


"Sukur lah tapi, kamu baik-baik saja kan? Kamu sangat berkeringat apa kamu sakit?"


Aku bahkan ddalam keadaan sangat baik, tapi... Kedua wanita itu yang membuatku sakit.


"Kehmmm... Mo, Kamu lihat tidak berita tadi pagi? Pria asal kota L di bacok lehernya oleh istrinya karena kedapatan bermesraan dengan wanita lain didalam lift" Mika berbicara pada Momo namun tatapannya menatap tajam Devan. Tidak bisa dipungkiri saat ini jantung Devan berdegub sangat kencang ini bukan debaran cinta saat dirinya bersama Riana, namun debaran ini sekan dirinya berhadapan dengan algojo yang sudah siap memenggal lehernya.


"Itu tu tidak seberapa bu, baru saja saya baca disosial media ku seorang wanita asal kota K memotong kelamin suaminya karena ketahuan bermesraan dengan seorang wanita. Ibu bayangin tu barang dipotong kalau saya sih ngga bisa bayangin."


Penuturan Momo sukses membuat Devan keringat dingin sehinga pria tinggi bak tiang listrik itu hampir terjatuh untung saja ada dinding lift disana menahannya. ketiga wanita didalam lift itu kaget bukan main terlebih Jessica.


Jess ingin membantu Devan namun pria itu menaikkan tangannya diudara agar wanita itu tidak menyentuhnya.


"Devan kau tidak apa kan?" Ucap Mika yang susah payah menahan tawanya.


"Aku baik... Sangat baik." Tutur Devan. Wajahnya yang pucat pasih menandakan dia sangat tidak baik.


Ting... Pintu lift terbuka lantai tujuan Mika dan Momo sampai, Kedua gadis itu melangkah keluar dengan senyum kemenangan.


"Devan kenapa kamu turun ini bukan ruanganmu.?" Ucap Jessica saat Devan ikut keluar mengikuti langkah Mika bahkan pria itu mempercepat langkahnya agar menjauh dari Jessica


"Aku ada urusan dengan Mika"


"Ada apa denganmu Devan?" Tanya Mika yang sudah dalam rangkulan Devan.


"Kau masih bertanyaa setelah apa yang kau lakukan ha. Tentu aku menyelamatkan diriku, kau ingin Riana menggorok leherku dan memotong harta paling berhargaku ha?" Ucap Devan bahkan nafasnya memburu karena ketakutan.


Mika sudah tidak bisa menahann tawanya, apa benar ini Devan yang dia kenal? Pria yang dia tau tidak takut apapun dan pada hari ini semua musanah, Mika menempatkan Devan ke golongan suami takut istri.


......................

__ADS_1


__ADS_2