
Hanya kebahagiaan terpancar di wajah kedua pengantin itu, Arrian tak sedetik pun melepaskan gengaman tangan Momo. Gadis itu benar-benar bahagia, pikirnya selama ini cintanya hanya sebatas angan.
Disudut ruangan pria dengan tatapan sendu sedari tadi menghembuskan nafasnya berat sebelum melangkah memberi ucapan dan doa restu pada kedua mempelai.
"Selamat atas pernikahan lo Ar, gue nggak nyangka lo bakal nikah juga. Terlebih dengan gadis menyebalkan ini" Tuturnya.
Arrian terenyum saat melihat wajah jelek istrinya menatap Angga.
"Thanks udah mau datang disela-sela kesibukan lo. Gue harap lo juga ngikutin jejak gue dengan Momo"
Lagi-lagi Angga tersenyum penuh kepalsuan. "Mudah-mudahan, atau gue lebih baik jadi bujang selamanya." Ucapnya mengudang tawa.
"Jangan." Ucap Riana. "Jangan pernah ngikutin jejak menyesatkan om Reza dokter Angga. Kau akan kesepian." Tutur Riana menunjuk ke arah Reza sedang menikmati segelas minuman di tangannya.
"Aku lebih tua darimu jadi jangan mengguruiki anak kecil."
"Tapi aku lebih berpengalaman daripada anda dokter Angga."
Angga kehabisan kata-kata, dia hanya bisa menaikkan kedua alisnya mendengar ucapaan gadis yang selama ini dia rawat layaknya adik sendiri.
"Oke kau menang Riana." Ucapnya mengundang tawa.
...***...
Tubuh Momo terasa remuk setalah pesta pernikahannya di gelar. Dia melirik jam diatas nakas menujukkan pukul satu dini hari, namun gemercik air masih saja terdengar di sudut kamar hotel itu.
Momo melangkah ke arah lemari, mengeluarkan paper bag yang ibunya berikan tadi.
__ADS_1
"Apa ini?" Lirihnya saat membuka kotak berisi pakain minim yang kekurangan bahan.
"Mama, apa yang ada dipikiranmu? Bagaimana bisa aku memakai pakaian ini depan abang Arrian?" Ucapnya
"Kenapa? Apa ada masalah?" Suara yang tiba-tiba bersaut di belakang Momo sontak membuatnya kaget, dengan gesitunya di emnyembunyikan pakaian haram menurutnya.
"Nggak kok." Ucapnya sedikit canggung. Pria yang begitu dingin dan tertutup kini memamerkan perut abisnya didepan Momo.
"Kenapa tidak mengganti bajumu?"
"Aahhh? Iya. " Ucapnya langsung berlari.
Sementara Momo didalam. kamar mandi, Arrian bsrusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan. Berulang kali dia menghembuskan nafasnya tapi masih sama debaran itu kian hebat.
***
Pelan dia membuka pintu kamar mandi, mencondongkan sedikit kepalanya memastikan jika Arrian sudah tidur.
"Kemana dia?" Lirihnya. "Baguslah jika dia tidak di sana." Hanya beberapa langkah Momo sampai di tempat tidur, secepat mungkin dia menyelimuti dirinya.
"Kalau dia tidak disini? Lalu kemana dia?" Ucapnya berusaha duduk dan menutupi tubuhnya.
Di balkon Arrian merogoh kembali saku celananya kemudian kembali mengeluarkan kotak rokok untuk kedua kalinya. Momo yang baru saja berdiri dibelakangnya, belum sempat pematik api itu membakar ujung rokok Arrian. Tanpa kesiapannya Momo langsung merebut rokok itu lalu membuangnya ketempat sampah.
"Abang." Ucap Momo. "Rokok nggak baik untuk kesehatan."
Arrian tersenyum mendekat pada istrinya. "Kau kedinginan? Sampai-sampai membukus dirimu dengan selimut tebal ini."
__ADS_1
"Ihh.. Jangan alihkan pembicaraan. Mulai hari ini abang nggak boleh merokok." Tegas Momo.
Pelan Arrian menyentuh rambut Momo lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Iya sayang, aku tidak akan melakukannya."
"Hemm... Sayang? Mati gue, kenapa rasanya semakin panas disini." Batinnya.
"Kamu kenapa? Wajahmu memerah." Momo langsung menggeleng dan mundur selangkah.
"Kenapa tidak tidur? Ini sudah malam." Ucap Arrian.
"Tadi mau, tapi Momo cari abang dulu."
"Baru ditinggal sebentar udah kangen."
"Apa sih."
"Ya udah yuk kita tidur, abang udah ngantuk." Arrian menarik selimut Momo agar dia bisa menggenggam tangan istrinya.
"Jangan abang." Ucapnya.
"Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu didalam situ?"
Momo menggeleng cepat, tangannya kian memegang kuat selimutnya agar tetap melekat koko ditempat seharusnya benda itu berada.
Namun kekuatan Arrian jauh lima kali lipat dari kekuatan Momo, membuat selimut itu kini berpindah tangan.
Betapa terkejutnya Arrian melihat tubuh molek istrinya, sush paya dia menelan slifanya yang teras lengket.
__ADS_1
...***...