
Setelah kepergian Jimin, Astrid benar-benar marah. ia disamakan dengan Hyerin bahkan dari mulut Jimin sendiri yang mengatakan bahwa Hyerin lebih baik darinya.
"Hyerin, dia hanya batu penghalang. setelah Anna datanglah dia, wanita-wanita pengganggu. lihat saja Jim, kau sendiri yang akan membuang Hyerin nanti dan memilihku. aku tak akan menyerah semudah itu!" kesal Astrid dan tak lama langkah kaki seseorang datang mendekatinya.
Jems datang dengan membawa selembar kain dan melemparnya pada Astrid.
"dasar pelayan tidak tau diri! apa maksudmu melemparkan dengan kain busuk ini?!!" marah Astrid.
"sebaiknya anda pergi dari sini, jika hanya untuk membuat keributan aku akan memblacklist anda dari tamu Tuan muda" ucap Jems santai.
"tidak tau diri, kau pikir kau sehebat apa sampai mengancamku begini hah??" balas Astrid.
"dibandingkan denganmu, harga diriku lebih baik Nona Astrid. pintu keluar ada disebelah sana, aku tidak antar kau jalan sendiri saja" ucap Jems masa bodo.
Astrid berdecih ia segera keluar dari rumah Jimin dan pergi begitu saja.
disisi lain,
Hyerin duduk disamping tempat tidur Jimin dan menunggu Jimin datang kekamar itu. setelah mempermalukan Astrid, Jimin pergi ke dapur dan membuat kopinya sendiri kemudian datang kekamar.
pintu terbuka Hyerin tak menyadarinya karena membelakangi arah pintu. disebuah laci meja samping tempat tidur ada foto pernikahan mereka disana. Hyerin memandanginya dan mengusap lembut foto Jimin yang tersenyum tipis disana.
"foto ini.. saat itu Jimin menggenggam tanganku dengan erat, jari-jari ku seakan patah diremas oleh tangan kekarnya. itu genggaman benci yang mendalam" Gumam Astrid.
Jimin mendekat tanpa sepengetahuan Hyerin, ia duduk di bibir kasur dan adu punggung dengan Hyerin tapi wanita ini tetap tak menyadarinya.
"aegi sayang, lihatlah ini. dia ayahmu sangat tampan kan? jika kau pria ibu harap kau setampan ayahmu"
Hyerin tersenyum, hatinya terasa sesak dan ngilu. ia mengelus perutnya dan meletakan foto itu diatas meja.
"sangat bagus jika terpanjang seperti ini" ucapnya.
dari kaca frame foto Hyerin melihat bayangan seseorang yang duduk dibelakangnya. ia sedikit terkejut dan parno saat itu. ia menatap lekat dan memastikan siapa orang itu.
buru-buru Hyerin mengambil foto itu dan menaruhnya kembali di laci. ia spontan berdiri dan menoleh kearah Jimin.
"kaget?" Jimin yang santai dengan segelas kopi ditangannya hanya melirik kearah Hyerin.
"maaf.."
lagi-lagi wanita ini menunduk halus, memainkan jemarinya yang indah dan mengelus perut buncitnya. Hyerin selalu kaget saat Jimin melakukan sedikit pergerakan dari posisi sebelumnya.
"Apa itu kebiasaan mu? menunduk dan memainkan jemari seperti orang idiot" ketus Jimin mendekat.
Hyerin terdiam, ia tak tau harus menjawab apa. Hyerin sangat takut jika tak sengaja menyinggung Jimin dan membuatnya marah.
__ADS_1
"jawab"
"a-aku.. aku itu bukan kebiasaan ku, aku hanya takut kau marah denganku. aku tidak tau harus menjawab apa tapi itu memang bukan kebiasaan ku. tolong, t-tolong jangan pukul aku" ucap Hyerin gemetar.
"aku akan dengan suka rela kau pukuli setiap hari tapi saat setelah aku melahirkan anak kita, aku akan menyerahkan diriku untuk dipukuli olehmu setelah melahirkan. a-aku tidak mau anak kita terluka aku mohon" Hyerin berucap tanpa menatap Jimin tapi ia menyatukan kedua tangannya pada Jimin.
pyaarrr!!!
Jimin membanting gelas kopi yang ia pegang dan menarik rambut Hyerin. membantingnya dikasur dan mencengkram rahangnya.
"T-tidak Jim.. a-aku minta maaf, aku salah bicara aku mohon maafkan aku.. a-aku lancang denganmu hiks, tolong jangan pukuli aku.. ampuni aku" matanya berkaca-kaca menatap Jimin sendu.
tangannya menahan tangan Jimin agar cengkraman nya tidak semakin kuat.
"kau melebihi batasan mu! apa di otak kecilmu itu hanya ada Jimin yang jahat? kau selalu berfikir seperti itu yang membuatku emosi Hyerin!!!" bentaknya menggema.
"aku minta maaf hikss maafkan aku" Hyerin mulai menangis, tangannya gemetar wajahnya memerah dan nafasnya tersengal.
Jimin menatapnya sangat tajam, semakin mengeratkan cengkramannya tanpa kasihan.
"setelah bayi ini lahir, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu!" ucap Jimin dengan nada rendah yang tajam.
ia pergi begitu saja dan meninggalkan Hyerin.
"Tak apa Jim, aku akan menerima semuanya asal jangan sakiti anak kita" ucap Hyerin memegangi rahangnya.
"Ibu harap kau cepat lahir sayang.. kau pasti kesakitan disana, maafkan ibu nak" Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Hari-hari berlalu dengan begitu berat, setelah pulang dari Milan, Jimin semakin bertambah arogan dan emosian. Hyerin yang selalu menjadi korban tak pernah tau apa salahnya. Perut Hyerin juga semakin membuncit dan usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Hyerin selalu menghibur dirinya dengan bercerita dan mengobrol dengan sang bayi menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tuan informasi ini baru saya dapatkan" ucap Jems.
"ternyata begitu.. mau main kucing-kucingan denganku kah? wanita itu akan tau akibatnya karena telah mempermainkan aku sebagai suaminya dan kekasih sahabatnya!!" geram Jimin mengepal.
Jems hanya terdiam, ia tau maksud Jimin akibat dari yang barusan ia katakan. Jems takut jika Hyerin meninggal saat jimin memberinya pelajaran.
"Aegi sayang.. kau sudah besar sekarang, tinggal menunggu beberapa bulan lagi kita akan bertemu. ibu sangat tidak sabar" ucap Hyerin mengelus lembut perutnya.
Hyerin tak pernah keluar kamar, semua makanan minuman dan kebutuhan Hyerin disiapkan oleh pelayan rumah baru. bibi Jinna menjaga mansion mewah yang berada di Milan, jika sewaktu-waktu mereka kembali tak akan pusing lagi harus menginap di hotel.
sore itu Hyerin berdiri di balkon kamar, ia baru bisa bangkit setelah Jimin menghajarnya habis-habisan. matanya membiru dan bengkak. memar dikaki dan ditangannya sangat terlihat jelas. luka-luka cambukan juga terlihat dikaki mulusnya.
tangan dan kakinya gemetaran saat ia berdiri di balkon tapi Hyerin selaku menyakinkan bayinya bahwa dia baik-baik saja.
"kapan Jimin akan berubah, bahkan jika berharap dia berubah setelah aegi lahir itu sangat mustahil. setelah aegi lahir penderitaan ku akan segera dimulai" gumamnya sambil menatap langit biru dengan awan yang lucu.
__ADS_1
"dia benar-benar membenciku"
"HYERIIINN!!!!"
suara Jimin menggelegar dari ruang tamu, Hyerin buru-buru keluar dari kamar dan menghampiri Jimin yang memanggilnya dengan suara tak biasa.
"a-ada apa Jim?"
Hyerin gemetar, ia melihat Jimin memegang erat ikat pinggangnya dan menatap tajam kearahnya.
mata yang membiru dan bengkak itu terlihat sangat parah. ia menatap Jimin sendu tapi pria ini benar-benar tidak memiliki rasa kasihan dengan istrinya yang tengah mengandung.
"ada apa Jim? aku ada disini" Ucapnya lirih.
"bukankah sudah ku bilang, letakkan sepatuku dengan baik?"
"iya... kau sudah bilang"
"lalu kenapa ini masih ada noda dan berantakan!!!" bentak Jimin menarik rambut Hyerin.
"aku bersihkan lagi, a-aku akan bersihkan lagi.. aku bersihkan sekarang.." Hyerin memohon sangking paniknya dan takut jika ikat pinggang itu terikat dilehernya.
PLAAAKKK!!!"
tamparan dari sepatunya tepat mengenai pelipis Hyerin. mengeluarkan darah yang langsung mengalir karena sepatu yang sangat keras. ia tak terjatuh karena Jimin mencengkram tangannya dengan erat.
ia tak berkata apapun, hanya memegangi pipinya dan menunduk.
"maaf.."
setetes darah jatuh kelantai. disusul dengan beberapa tetes air mata bening dari mata Hyerin.
"Jimin'aa.., kau boleh menyiksaku tapi tolong bi-"
PLAAAKKK!!
Jimin menampar Hyerin dengan tangan kekarnya.
"kau tak memiliki hak untuk mengaturku! sampah!" ucapnya mendorong Hyerin hingga terjatuh.
"kenapa bayimu sekuat itu eum? kenapa tidak keguguran saja" Ucapnya kemudian pergi begitu saja.
"aku mengajarkan jiwa kuat untuk bayi kita agar suatu saat dia tidak akan kaget ketika dia melihatku mati mengenaskan ditanganmu" Gumam Hyerin menatap Punggung Jimin yang pergi menjauh.
"sebenarnya ada apa.. kenapa dia selalu menghajarku tanpa henti"
__ADS_1