
"Syukur lah dokter Angga dia telah kembali." Ucap dokter Robert, ahli jantung yang menangani Arrian. "Ini hanya serangan jantung ringan sukurlah tidak ada masalah dengan alat vital lainnya."
"Terima kasih Robert."
"Hahah... Ini sudah tugasku Dokter Angga sebagai junior dan ahli dalam bidang ini aku akan berusaha yang terbaik untukmu."
Setelah berbicang-bincang sekitaran keadaan Arrian mereka semua pamit kini hanya Angga dengan lamuannya yang entah sudah berada dipuncak gunung apa.
Hingga lamuan dokter tampan itu teralihkan kearah pintu yang sudah terbuka. Mata Angga membulat terkejut mendapati Momo berdiri diambang pintu.
"Kkkk... Kau?"
Pelan Momo mendekati pria yang sedang terbaring lemah dengan wajah pucat pasih. Bahkan dia sudah tidak memperdulikan tatapan penuh tanya Angga
Air matanya sudah tak tertahanan lagi menganak di pipinya, laki-laki yang sudah menganggapnya adik sendiri kini terbaring tak berdaya dengan kabel-kabel yang Momo tidak ketahui apa fungsinya.
"Sejak kapan abang Arrian seperti ini?" Tanyanya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya.
"Hampir tiga bulan."
"Dan Dokter tidak memberi tahu Riana keadaan abang Ar."
Angga hanya bisa tertunduk dalam diam.
__ADS_1
"Aku akan menghubungi Riana, selama ini dia mencari keberadaan bang Arrian." Tanpa kesiapan Momo, Angga merebut ponsel gadis berambut pendek itu.
"Aku mohon jangan lakukan! Saat ini Arrian sedang dalam pemulihan. Aku mohon bersabarlah untuk saat ini!"
"Lalu bagiamana dengan Riana? Apa Dokter tidak memikirkan perasaannya? Dia sangat menghawatirkan keadaan kakaknya."
"Ini tidak akan lama, keadaan Arrian semakin membaik. Aku akan melakukan apapun untukmu jika kau ingin bekerja sama denganku."
Bagai terhipnotis, Momo diam sejenak menilik penuh keseriusian wajah dokter menyebalkan didedepannya.
"Anything?"
Angguk Angga dengan penuh kesiapan. "Oke biarkan aku menjadi wali abang Ar, selama disini."
"Permisi tuan Dokter terhormat, anda tidak perlu menghawatirkan masalah pribadiku. Aku hanya ingin mendengar jawaban anda tuan Dokter."
'Anak siapa ini ha? Begitu menyebalkan?'
Momo memajukan kepalanya lebih dekat kearah Angga "Dokter, aku tau kau sedang mengejekku didalam sana. Tapi itu tidak masalah, aku hanya ingin jawaban sekarang juga! Atau aku bisa langsung menghubungi Ri..."
"Okee, deal" Ucapnya pasti sambil mengulurkan tangan nya pada Momo, gadis itu tentu menyambutnya dengan kemenangan.
"Kenapa dia begitu tidak sabaran?" Ucapnya pelan tapi masih bisa Momo dengar
__ADS_1
"Dokter apa anda mengatakan sesuatu?"
"Tidak."
Angga segera meninggalkan Momo seorang diri, lama-lama berada satu ruangan dengan gadis ini mambuat tekanan darah Angga memuncak.
"Ri, lo tenang aja gua bakal jaga abang Ar sampai dia sembuh ! Gua janji !"
*
Momo menjauhkan ponselnya dari daun telinganya, bagaimana bisa suara mamanya terdengar begitu nyaring.
"Mama, aku akan baik-baik saja disini. Lagi pula kan ada Nana disini, dia akan menjagaku seperti berlian" Rayunya pada sang mama dari sambungan telepon.
"Siapa yang akan menjaga butik jika aku disana ha? Bagaimana dengan kuliahmu Momo. Apa kau juga lupa bulan ini kau juga harus pemotretan brand baru." Geram Erin, andai wanita itu berada didepan Momo mungkin gendang telinganya sudha pecah karena suara nyaring sang mama.
"Mama sayang, soal butik aku sudah mengirim seseorang untuk menggantikanku, masalah pemotretan brand baru kita aku akan mengirim alamat Nana, aku akan melakukan pemotretan disini Selebihnya mama nggak usah kawatir biar Momo yang urus semua! Bagaimana?"
"Baiklah sayang! Tapi janji setelah kamu pulang dari situ, kamu harus mau kencan dengan anak teman mama. Oke!"
"Sudah dulu ya mama, panggilan luar negeri sangat mahal. Aku mencintaimu Erin Hardikusuma! Ummmmccchhhh" Tanpa menunggu lama lagi Momo mengakhiri teleponnya.
"Kencan? Hahahahah no thanks Nyonya Hardikusuma" Lirinya dengan senyum devil.
__ADS_1
......................