Promise

Promise
47


__ADS_3

*


"Aku pergi ya! Jangan terlalu merindukanku, kau harus makan yang teratur dan ingat selama aku pergi jangan macam-macam disini! Kamu juga jangan terlalu dekat dengan Rio atau Hendry! Pokoknya jauhi manusia berjenis kelamin pria! Awas kalau kamu melanggarnya aku akan menghukummu jika kembali." Devan menekan ucapannya. Sungguh Riana sangat malu pada Felix karena sifat kekanak-kanakan suaminya itu.


Felix sudah kehilangan kesabarannya, dia menarik tangan bosnya agar masuk kemobil. Fix Devan sudah kena virus kebucinan tingkat dewa, padahal mereka hanya pergi selama dua hari tapi dilihat dari ucapan perpisahan Devan seperitinya mereka akan tinggal selama sebulan disana.


"Hati-hati dijalan" Teriak Riana seraya melambaikan tangannya mengantar kepergian sang suami.


Riana melangkah masuk dia melirik jam dinding dirumahnya, hampir pukul sembilan pagi. Jika dia kekantor pasti bu Jess akan mengomelinya tapi, dia juga masih banyak laporang yang harus dia selesaikan. Oke, Riana memutuskan masuk kantor omelan bu Jess sudh sering dia dengar jadi sudah biasa.


"Riana, kamu mau kemana?" Tanya Arrian yang baru saja tiba.


"Mau ke tempat magang kak laporan Riana numpuk."


"Mana Devan? Kamu ngga bareng?"


"Baru tadi dia jalan kak menuju bandara katanya, ada pertemuan penting di Malaysia." Jelas Riana yamg diangguki Arrian


"Hemm... Ini kamu bawa mobilku! Maaf kakak tidak bisa mengantarmu."


"Tidak apa kak. Tapi ini seriuskan Riana bawa?" Tanya Riana meyakinkan secara mobil lamborginhi berharag fantastis itu adalah mobil kesayangan kakaknya.


"Hem... Kamu hati-hati! Setelah kerjaanku selesai kita cari mobil untukmu" Tutur Arrian.


"Kenapa tiba-tiba? Padahal dulu kakak adalah garda terdepan menolak saat aku meminta dibelikan mobil." Arrian hanya tersenyum dia tidak menyangkal apa yang diakatakan adiknya, semua benar.


"Kak Ar, tidak perlu membelikanku mobil! Devan sudah membelikanku." Ucap Riana seraya melanggak pergi.


"Aku pergi ya kak... Aku menyangi mu kak Ar"

__ADS_1


...*...


Riana senyum-senyum sendiri menatap layar hpnya, gadis itu sudah seperti abg yang baru merasakan jatuh cinta. Hendry hanya menggeleng tidak percaya melihat temannya yang satu ini gadis cuek soal cinta ternyat bisa juga jatuh cinta. Beda halnya dengan Momo gadis yang sering tersenyum itu tiba-tiba berubah suram.


"Mo, lo kenapa sih? Ada masalah? Cerita sama kita, siapa tau gua sam Hendry bisa bantu." Ucap Riana. Sejak tadi, Momo yang paling cerewet diantara mereka bertiga tiba-tiba jadi pendiam itu adalah sesuatu yang sangat horor bagi Riana.


Merasa tidak di respon oleh Momo, tatapan Riana mengarah pada Hendry.


"Hend, Momo kenapa sih? Dia ada masalah apa sih?" Bisik Riana.


"Hemm... Pacarnya selingkuh"


"Ha? Momo punya cowok? Kok gua ngga tau sih?" Tatapan Riana langsung tertuju pada Momo yang masih murung. "Mo, siapa tu cowok? Berani benget dia ngenyakitin sahabat gua."


"Miko" Timpal Hendry


"Si Miko? Mantan lo jaman SMA dulu?" Jelas Riana, yang diangguki Hendry. "Ck... Lo ya udah pernah jatuh kelubang yang sama masih aja dilewati. Miko itu brens*k Mo dan lo masih termakan rayuan gombalnya."


"Cinta? Lo masih cinta sama dia karena belum mendapat penggantinya Mo. Coba lo buka hati loh itu untuk cowok lain! Gua yakin lo bakal ngelupain kadal unta itu."


Wah baru juga kemarin Rianan jatuh cinta sekarang sok menasehati seakan dia adalah pakar cinta.


"Ri, emang ada kadal unta?" Ucap Hendry wajahnya sangat serius menatap Riana.


"Ada, no si Miko." Ucap Riana kesal "Udah lo jangan kaya cewek-cewek di drama-drama yang selalu sabar di selingkuhin! Lain kali kalau mau jatuh cinta lo pastiin dia cinta ngga sama lo, atau setidaknya lo yakin dia tidak miliki orang lain" Riana menarik tubuh kurus Momo kedalam pelukannya.


"Meski gua sam Hendry berkoar-koar kaya bebek disini kalau emang dari diri lo yang ngga bisa ngelupain dia percuma Mo. Gua hanya sebagai sahabat ngga mau liat lo sedih hanya karena cowok brens*ek seperti Miko ."


"Ri..." Tangis Momo tumpah didada Riana

__ADS_1


"Lepasin Mo seuatu yang ngebuat lo sedih. Gua yakin suatu saat nanti akan datang seseorang yang membuat semuanya berubah, yang ngebuat lo nngelupain kalau lo pernah sakit dan ngenhubas semua itu dengan kebahagiaan luar biasa."


Meski tidak mengobati sakitnya setidaknya perasaan gadis itu sedikit membaik


"Daripada kita sedih-sedihan disini, gimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Cari makanan gitu" Ucap Hendry penuh semangat tentu hal ini berhasil mengalihkan perhatian kedua gadis itu. "Tenang gua teraktir."


"Oke deal" Tanpa berfikir lagi Riana mengiyakan.


"Lo pada lupa? Ini masih jam kantor. Lo pada mau bolos lagi ha? Inget ini bukan kampus."


"Hemm... Kita kan bukan pegawai tetap disini, kalau bolos lo ngga bakalan kehilangan gaji atau kena pinalti dari perusahaan." Timpal Hendry. Momo terlihat berfikir, lagi pula biasanya kan dia yang selalu ngajak Hendry dan Riana bolos. Fix Momo ngga sehat.


"Udah ayo." Hendry menarik tangan Momo yang masih melamun, Riana semangat 45 mengekor dibelakang.


"Tap.."


"Udah ayo! Sekalian kita bantuin si Hendry ngehabisin duitnya." Potong Riana.


Disinilah mereka, dengan semangatnya Riana menarik tangan Momo yang masih terlihat tidaj bersemangat diikuti Hendry dibelakang mereka. Pertama Riana mengajak Momo ke restoran China karena gadis itu sangat menyukai makanan khas tirai bambu itu.


"Yakin gua boleh pesan apa aja?"


"Hemm... Jangan kan makannya Mo , restouran ini Hendry juga bisa membelinya."


"Terserah lo aja mau makan yang mana, mumpung hari ini gua lagi baik."


Riana dan Momo tersenyum licik menatap pria bermata sipit itu.


Hendry dan Riana saling melempar pandangan lalu menatap Momo yang sedang makan dengan lahapnya, sesekali dia menrik ujung bibirnya tersenyum. Ya setidaknya hari ini gadis itu bisa melupakan kesedihannya

__ADS_1


......................


__ADS_2