
keesokan harinya,
Jeremy telah tiba dihotel, ia langsung menemui Hyerin, tapi sayangnya Jimin sedang menghadiri rapat dewan dengan pejabat tinggi di Milan.
tok tok tok..
"siapa itu.."
tok tok tok..
"iya siapa?"
"Nyonya, ini aku Jems"
"ahh baik, tunggu sebentar"
Hyerin buru-buru bangun dan membuka pintu, seharian itu dia berada di kamar hotel dengan beberapa cemilan yang di makan. kartu yang diberikan Jimin saat itu tidak pernah lagi diminta oleh Jimin. jadi Hyerin bisa menggunakan kartu itu untuk membeli makanan yang dia suka. tentu saja makanan yang sehat untuk bayinya.
ceklek,
Hyerin membuka pintu, terdapat Jems yang berdiri disana dengan totabag besar ditangannya. ia terkejut dan sangat kaget saat melihat Hyerin.
"eum? kau sudah sampai yaa, Jimin sedang keluar. apa yang kau bawa?" tanya Hyerin, ia masih menguyah sesuatu didalam mulutnya.
Jems memandangi Hyerin sendu, tatapannya terlihat bahwa ia sangat kasihan dengan Hyerin.
"nyonya.. apa anda baik-baik saja?"
Hyerin terhenti, ia menatap Jems dengan wajah membiru, rambut sedikit berantakan dan pakaian rumahan biasa.
"aku baik-baik saja, tolong jangan beritahu hal ini pada ibu.. aku baik-baik saja, sungguh" ucap Hyerin tersenyum.
"ahh ayo masuklah dulu.." tambahnya.
"nyonya, ini titipan dari ibu besar untuk anda yang tengah mengandung. ada vitamin dan susu Inggris asli. ini sangat baik untuk kesehatan" ucap Jems.
"terimakasih Jems "
"kamarku ada disebelah kamar Nyonya, anda bisa menelfonku kapan saja jika anda butuhkan" ucap Jems.
__ADS_1
"kau tidak mau masuk dulu?"
"terimakasih Nyonya tapi, Tuan muda akan membunuhku nantinya"
"ahh baiklah, kau pasti lelah istirahat lah dengan baik. aku akan menelfonmu jika butuh sesuatu. terimakasih banyak" ucap Hyerin senyum.
"baik Nyonya"
Jems langsung pergi menuju kamar hotel disamping kamar Hyerin. wanita muda itu tertunduk, memegangi matanya yang membiru.
"ini akan hilang sebentar lagi, hanya butuh waktu yang cukup panjang" gumam Hyerin.
"baiklah aegi sayang, mari kita lihat apa yang nenek kirim untukmu" Hyerin tersenyum dan langsung masuk kekamarnya.
hanya senyumannya yang terlihat baik-baik saja, mental dan fisiknya sangat lelah dan letih. Hyerin berusaha membohongi dirinya dan menolak sadar bahwa dia juga butuh pelukan hangat dari sang suami.
setiap malam, saat Jimin tertidur Hyerin selalu memandangi wajahnya. dengan pelan dan hati-hati ia selalu menyentuh tangan kekar Jimin. setitik air mata selalu meluncur setiap malam saat dia melakukannya. Hyerin hanya berani memandangi wajah Jimin saat sedang tidur.
wajahnya yang sangat tampan dan teduh membuat Hyerin sangat bahagia. meskipun wajah itu bisa berubah dalam satu detik.
"waaahhh ini enak sekali.. eumm.."
Hyerin menikmati kue kering dari ibu mertuanya itu. ada beberapa vitamin, susu, dan juga buah-buahan segar dari kebun keluarga Park. semua buah yang ditanam disana bibitnya adalah impor dari luar negeri.
ia sangat senang, menempelkan pakaian itu di tubuhnya dan berputar-putar didepan cermin. setidaknya dengan berpura-pura bahagia ia bisa melupakan bahwa Jimin membencinya. ia berniat mengganti pakaian itu untuk menyambut Jimin saat datang nanti tapi sesuatu terlintas dalam pikirannya.
selamanya kau akan hidup disampingku! sudah ku katakan kau tidak boleh bahagia kecuali aku mengijinkannya!
senyumannya pudar, ia menatap dirinya di pantulan cermin. sangat berantakan dengan wajah yang berantakan juga. lebam dan membiru sedikit bengkak dan matanya memerah.
"tidak.. baju ini tidak boleh rusak, jika aku memakainya aku takut baju ini akan rusak. sebaiknya aku simpan saja"
"Jimin.. dia selalu datang dengan amarah yang aku sendiri tidak tau kenapa. ntah aku bersalah ataupun tidak dia pasti akan menghajarku, jika aku memakai baju ini pasti bajunya akan robek dan rusak"
Hyerin melipat kembali baju itu dan memasukkannya kedalam totabag.
"sebaiknya begini saja.. aku simpan saja dan pakai saya akan bertemu ibu nanti.."
"aegi sayang, lihatlah ibu mendapatkan kado dari nenekmu. ini sangat bagus kan.."
__ADS_1
Hyerin selalu berbicara dengan bayinya, setidaknya kehadiran sang buah hati mampu membuatnya tersenyum dan menjadi alasan untuk tidak bersedih.
"kau tau sayang? dulu ibu sempat berfikir bahwa ayahmu akan baik pada ibu, ibu pikir dia tidak akan ringan tangan padaku. tapi ternyata aku salah. semuanya berubah dalam satu detik yang bahkan ibu sendiri tidak tau"
"dulu ayahmu hanya sering berkata-kata hal yang menyakitkan saja, tapi siapa sangka bahwa semakin hari ayahmu memiliki hobi baru memukuli ibu dan menyiksa ibu "
"tapi tidak masalah, ini semua demi bibimu, Anna. jika dia masih hidup dia pasti senang kalau tau ibu mengandungmu. atau bisa jadi, kau ada didalam kandungannya. jika kau berada dalam kandungan bibimu, ayahmu pasti sangat mencintaimu " ucap Hyerin berbicara dengan bayinya.
banyak hal yang dia ceritakan sampai Hyerin tidak tau bahwa Jimin mendengar semuanya. untungnya Hyerin tidak berbicara soal matanya.
"aegi sayang.. suatu saat jika kau sudah dewasa, semoga saja ayahmu bisa menyayangi mu dan mencintaimu.."
"ibu benar-benar berharap kita akan mendapatkan cinta dari ayahmu"
"apapun yang ayahmu lakukan meksipun dia ingin membunuh ibu, selamanya ibu tidak akan membencinya. ibu selalu mencintainya seumur hidup ini.. ibu berharap kau menjadi anak yang sangat baik nantinya seperti ayahmu"
Hyerin sangat bersemangat menceritakan hal-hal random pada bayinya. ia menatap hamparan laut yang luas dan biru dihadapannya perlahan ia menutup mata dan merasakan angin segar menerpa wajahnya. tanpa dia tau Jimin tengah berdiri disampingnya.
"kau terlalu banyak berharap Hyerin. aku takut anak itu akan memiliki banyak permintaan saat lahir nanti. sama seperti ibunya!" bisik Jimin membuat Hyerin langsung membuka matanya dan menoleh.
Hyerin terdiam, ia tak bisa berkata apapun. harapan dan impiannya sangat banyak. sejak kecil impian Hyerin tak pernah menjadi kenyataan. semuanya hanya sekedar impian. wajar saja jika semakin lama impiannya semakin banyak.
"maafkan aku, aku hanya.. hanya mengobrol dengan anak kita saja.. maafkan aku.." ucapnya menunduk.
Jimin mendekat, menarik Hyerin dan mendekatkan wajahnya ke telinga Hyerin.
"jangan pernah mengharapkan sesuatu yang kau sendiri sudah tau itu tidak akan pernah terjadi. selamanya jika kau hidup denganku maka kau akan hidup menderita! aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia! Paham?!!" bisik Jimin.
Hyerin terdiam, ia semakin menunduk dan setetes air matanya mulai keluar. ia mengusap kasar meskipun matanya sangat sakit saat disentuh.
"aku mengerti, aku tau hidupku sudah ada padamu. apapun yang kau inginkan akan aku kabulkan" ucap Hyerin.
"jika aku bilang gugurkan bayi itu? apa kau bersedia?"
"Jim.. aku mohon, biarkan aku merawat anak kita. meskipun tidak bahagia setidaknya aku memiliki alasan untuk tidak bersedih. aku akan melakukan semua janjiku yang telah aku katakan kemarin"
"jika kau melanggar janjimu akan ku pastikan kau tidak akan bertemu dengan bayimu!" ucap Jimin.
"aku mengerti.."
__ADS_1
Jimin menjauh, ia masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya untuk segera istirahat. Hyerin hanya terdiam dan terpaku ditempatnya ia menatap Jimin dengan tatapan penuh cinta tapi malah ia mendapatkan sebaliknya dari suaminya itu.
"dia ayahmu, dia pria yang sangat baik" ucapnya pada perut datarnya.