Promise

Promise
65


__ADS_3

Riana memberotak namun pegangan Rey lebih kuat. Dari arah berlawanan sebuah tangan nan kekar mencengkram kuat pergelangan Rey. Urat-uratnya seakan ingin keluar kepermukaan kulitnya.


Devan menatap tajam Rey, tatapan tidak suka pada pria didepannya ini.


"Lepaskan tangan mu bung!" Peringat Devan


Rey menatap datar Devan, dia tidak kaget lagi melihat pria itu tiba-tiba berada dipulau ini, apa lagi jika tidak ingin menemani istrinya. Pelan Rey melepas cengkramannya.


"Sayang, kau kenal dia?" Tanya Devan.


"Hemm, dia Rey sekelas denganku." Jawab Riana diplomatis "Rey kami permisi dulu." Riana langsung menarik tangan Devan menjauh.


*


"Dia tertarik padamu kan?" Pertanyaan Devan membuat Riana tersedak. Sigap, Devan memberikan segelas air untuk istrinya.


"Dari reaksimu dia benar menyukaimu."


Riana tersneyum tipis "Apa kau cemburu tuan Devan?"


"Tau."


Penuh kasih Riana menggenggam erat tangan Devan yang sedang cemberut. "Ya Rey menyukaiku tapi, kamu harus ingat hal ini! Meski ada seribu Rey didunia ini yang menyikaiku itu akan kalah olehmu, karena aku memilihmu sayang."


Devan mendongak menatap bola mata kejujuran isrinya. Riana menatap heran saat pria itu berdiri meninggalkan kursinya.


Tanpa aba-aba atau kesiapan Riana, Devan menyatukan bibirnya sontak membuat mata gadis itu membola kaget.


Beberapa pengunjung menatap malu-malu dan ada juga merasa iri.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Melakukan yang ingin aku lakukan." Devan kembali ketempatnya.


"Tapi ini ditempat umum Devan, Llihat! Kita jadi pusat perhatian."

__ADS_1


"Biarkan saja, aku mencium istriku bukan istri orang."


"Devan" Geram Riana.


Devan hanya tersenyum tipis, senyum yang menyesatkan Riana.


*


Drt... Drt...


Riana terbangun dari tidurnya saat ponselnya bergetar lalu melihat siapa yang menelpon. Ternyata gadis yang belakangan ini Riana terus cari, tanpa menunggu lama lagi Riana memencet tombol hijau.


"Halo, Mo lo di..." Pertanyaan Riana menggantung saat dia mendengar suara isak tangis diseberang sana.


"Halo Mo, lo kenapa? Lo dimana?" Suara Riana mulai panik dan khawatir


"Ri, kerumah sakit tipe C sekarang! Kita ketemu sama Hendry untuk terakhir kalinya."


*


"Mo..." Teriak Riana, membuat gadis berambut pendek itu berbalik matanya sidha sebab karena terus menangis.


"Ri... Hendry Ri, dia koma." Tangis Momo kian pecah.


Riana menggeleng tidak percaya. "Nggak mungkin Mo, tua anak pasti ngerjain kita Mo." Momo terus terisak tanpa menyanggah ucapan Riana.


"Ri..." Suarah keputus asaan Momo semakin meyakinkan Riana, namun gadis itu masih menyangkal kebenarannya.


Pelan Riana dan Momo masuk kekamar inap Hendry, langkah Riana terhenti saat melihat ibu dan ayah Hendry saling berpelukan dalam tangisnya.


Hati gadia itu meringis pedih melihat wajah tampan yang dulu sangat ceria kini terbaring tidak berdaya diatas kasur, tubuhnya penuh alat bantu yang sama sekali Riana tidak tahu untuk apa.


Pelan Riana mendekat kesisi kasur Hendry diikuti Momo.


"Hend, gua dateng Hend. Kenpa selama ini lo sembuyiin dari gua sama Momo? Bahkan sampai akhir pun lo masih kaya gini sama kita." Tangis Riana pecah begitupun denga Momo air matanya sudah tak terbendung lagi.

__ADS_1


Riana berbalik menatap kedua orang tua Hendry. "Tante tia" Riana menghambur dalam pelukan ibu Hendry "Tante, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa Hendry seperti ini?" Isak Riana.


"Kata sekertarisnya beberapa bulan terakhir Hendry mengeluh sakit kepala, minggu lalu dia pingsan dan sampai sekarang Hendry nggak sadar-sadar. Setelah dokter telusuri ternyata ada tumor dan pendarahan di otaknya y Riana, dia menyembunyikan semua penderitaannya selama ini Riana."


Riana terkejut bagaimana bisa Hendry begitu tega padanya, selama ini Riana melihat sahabatnya itu baik-baik saja.


"Tapi Hendry masih bisa sadar kan tente."


Tia diam seribu bahasa, wanita itu kembali terisak menunduk dalam kesedihan.


"Tante...?" Riana mengalihkan pandangannya ke arah ayah Hendry yang juga tertunduk, bahkan jejeran dokter yang sejak tadi berdiri diruangan itu ikut tertunduk. Hingga pandangannya berhenti pada Angga yang berada di pojok belakang.


"Kak Angga.?" Suara keputus asaan Riana membuat pria dengan wajah lelah itu mendongak.


"Ri... Sabar, ini sudah takdir Hendry.".


"Kak Angga aku mohon, jangan berkata seperti itu." Tangis Riana kembali pecah.


"Untuk kasus Hendry ini tidak mudah Ri, meski obat-obatan, alat bantu dan mesin ventiator bisa membantu Hendry bernafas agar jantungnya tetap berdetak dia tidak akan sadar dan kembali bernafas sendiri,


karena otaknya sudah tidak berfungsi Ri."


Bagai disambar badai di siang bolong jiwa Riana seakan terhempas dari ketinggian. Itu artinya Hendry sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi.


"Dan hari ini kami semua berkumpul untuk penghormatan terakhir untuk tuan Hendry, Riana."


Mata Riana melotot tidak mengerti "Maksud kak Angga apa?"


"Hari ini, semua alat bantu tuan Hendry akan dilepas..."


Riana kaget hingga tidak bisa menahan topangan tubuhnya, untung saja Devan sigap menahan tubuh istrinya. Riana bersidekap dalam dekapan Devan menumpahkan segala kesedihannya.


Saat ini aku terklihat seperti orang bodoh, membiarkan gadis paling aku cintai menangis dan ini terakhir kalinya kau akan menangis sayang aku janji itu. Devan.


......................

__ADS_1


__ADS_2