Promise

Promise
Promise Eps 8


__ADS_3

Author POV;


malam itu hari yang sangat panjang, hampir pukul 01:50 malam Jimin baru selesai dengan pembahasan kerja samanya dengan Hoseok. Hyerin telah tertidur dan Jimin meminta seseorang untuk membawa Hyerin kekamar hotel yang telah di bokingnya sejak awal.


setelah selesai membahas pekerjaan Jimin dan Hoseok meminum sedikit red wine. tanpa sadar Jimin telah meminum hingga beberapa botol dan membuatnya mabuk. Hoseok membiarkannya karena ia tau Jimin pasti lelah hingga meminum sebanyak itu.


"hentikan Jim, kau minum terlalu banyak" Hoseok menegur Jimin dan merebut botolnya.


"sebaiknya kau istirahat saja. bawa Hyerin kekamar yang kau pesan sebelumnya"


"Anna..."


"Jim hei!!"


Jimin terus memanggil nama Anna dan terpaksa Hoseok membangunkan Hyerin untuk membawanya kekamar.


"kamar 207 lantai 4 cepat bawa dia"


"baik.." Hyerin membopong Jimin dan menuntunnya sampai dikamar hotel kamar Hoseok ada disamping kamar Jimin.


"dia mabuk berat, tubuhnya bau alkohol.."gumam Hyerin.


wanita cantik ini berinisiatif untuk melepaskan sepatu dan jas yang dikenakan suaminya. satu persatu dan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Jimin.


"Jimin, kapan baru kau bisa mencintaiku.."


Hyerin menatap wajah Jimin yang tertidur pulas. dengan keberanian yang telah ia kumpulkan, Hyerin menggenggam tangan Jimin.


"bahkan saat kau tertidur aku baru bisa menggenggam tangan kekar ini" gumam Hyerin.


Hyerin tak pernah jenuh menatap wajah Jimin yang sedang tertidur. dengan tangannya yang penuh luka Hyerin masih terus menggenggam tangan jimin.


tiba-tiba Jimin membuka matanya membuat Hyerin terkejut dan buru-buru melepaskan genggaman nya.


"j-jimin.."


"apa yang kau lakukan?!" Jimin menatap Hyerin dengan wajah mabuknya.


"a-aku, aku hanya membantumu melepaskan sepatu dan jas yang kau kenakan. a-aku hanya membantumu saja aku tidak berniat melakukan apapun padamu.." ucap Hyerin gugup menjelaskan.


"sshhh.. panas sekali.. kenapa panas sekali!!"


"o-ohh aku akan menambahkan AC nya untukmu, tunggulah.."


saat Hyerin akan berdiri, Jimin menariknya hingga Hyerin jatuh diatas tubuhnya.


"j-jimin..."


"jangan pergi, tolong bantu aku.. ini panas sekali.."


"Anna tolong bantu aku.."


damn! hati Hyerin seperti diremas saat Jimin menganggapnya sebagai Anna. Hyerin lemas dan menatap Jimin sendu.


*aku Hyerin Jim, bukan Anna. istrimu adalah Hyerin bukan Anna* batin Hyerin sendu.


Jimin merubah posisinya dan mengungkung Hyerin dibawah nya. membuat Hyerin tak bisa bergerak dan mengunci seluruh pergerakannya. cengkraman yang sangat kuat membuat Hyerin ketakutan dan berusaha melepaskan dirinya.


"Jimin tolong, lepaskan aku. apa yang kau lakukan"


"bantu aku Ann, ini sangat panas. aku benar-benar menginginkan nya. aku ingin kau"


"tolong, tolong bantu aku untuk menghilangkan rasa panas ini.. Anna aku mohon bantu aku.."


"aku Hyerin, bukan Anna!"

__ADS_1


Hyerin memejamkan matanya, menahan sakit dihatinya dengan bibir gemetar yang tak bisa mengucapkan apapun. wanita semakin ketakutan dan sedikit memberontak tapi Jimin, dia semakin menguatkan cengramannya pada Hyerin.


wanita muda ini menangis dan memohon agar Jimin melepaskannya. tapi satu tamparan berhasil membuat Hyerin bungkam dan menuruti semua yang Jimin lakukan padanya.


"jika menurut seperti ini kau terlihat tampak lebih baik daripada melawan seperti tadi! aku bilang layani aku itu artinya kau harus melayaniku!"


"aku mohon jangan, jangan sekarang. aku tidak mau berhubungan saat kau mabuk, tolong.. aku ingin kita melakukannya saat kau sedang sadar.."


Jimin menatap Hyerin dengan tatapan yang benar-benar menginginkannya. tatapan yang dipenuhi hasrat tinggi membuat Hyerin ketakutan dan menangis tanpa suara. hanya memohon dengan tatapan yang semoga Jimin mengerti.


"ini tidak akan sakit, aku janji padamu ini tidak akan sakit.. aku mohon bantu aku untuk sekali ini.."


"tidak Jim tidak.."


Jimin mulai melepaskan pakaiannya dan memaksa Hyerin. membuat wanita ini merasakan rasa sakit berkali-kali lipat dibandingkan sakit dihatinya.


Jimin terus mendorong tubuhnya kedalam tubuh Hyerin. gadis malang ini hanya bisa terdiam dan meremas kuat tangan Jimin yang menggenggam tangannya. menangis dalam diam dan tidak bisa memberontak.


*tubuhku dan seluruhnya memang milikmu, kau berhak menyentuhnya dan melakukan segalanya yang kau suka. tapi, bukan seperti ini yang ku inginkan. aku ingin kita melakukannya disaat kita memiliki perasaan yang sama, bukan disaat kau menganggapku sebagai Anna.. Jimin tolong hentikan, kau menyakitiku* batin Hyerin menangis sendu.


ia tak bisa melakukan apapun selain menerima dan membiarkan Jimin melakukan keinginannya.


*


*


09.00 WKS


Hyerin mengerjapkan matanya dan mulai terbangun. ia melihat sekeliling dan mengingat kejadian malam tadi. ia menoleh dan mencari keberadaan Jimin yang sudah tidak ada disampingnya. Hyerin berusaha bangkit dari tidurnya dengan sangat hati-hati.


"Jimin, dimana dia..."


samar-samar ia mendengar suara gemercik air berasal dari kamar mandi, tampaknya Jimin sedang membersihkan dirinya.


tok tok tok,


suara pintu kamar diketuk. Hyerin ingin membukanya tapi sedikit bergerak membuatnya kesakitan.


"apakah klien Jimin yang semalam? " yang dimaksud oleh Hyerin adalah Hoseok.


"siapa??" Hyerin berteriak dari dalam.


"Nyonya ini aku, Jems"


"tunggu sebentar, Jimin sedang mandi"


"baik"


Jems, dia adalah tangan kanan Jimin dan termasuk kepala pelayan dirumah ibunya. sebelum menikah Jems adalah pengawal pribadi Jimin.


"Jems, tumben sekalian dia datang. apakah Jimin yang memintanya?"


dengan sangat hati-hati Hyerin turun dari ranjang dan memungut pakaiannya. memakainya dan segera membuka pintu meskipun area sensitif nya sangat perih dan ngilu.


"harus sedikit dipaksa, jika dibiarkan aku akan terlihat seperti orang pincang"


Hyerin membuka pintu, mendapati Jems yang berdiri disana dengan sebuah totabag ditangannya.


"Jems? ada apa?"


"ahh nyonya muda, Tuan memintaku datang memberikan ini" ucap Jems sambil menyodorkan totabag ditangannya.


"ini apa?"


"nyonya muda, silahkan melihatnya sendiri. karena telah diterima saya pamit dulu"

__ADS_1


"baiklah, terimakasih Jems"


"sama-sama nyonya"


setelah jems pergi, Jimin baru keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"eoh, Jim.. ini barang yang kau minta pada Jems. dia baru saja memberikan ini tadi" kata Hyerin sambil memberikan totabag itu.


"itu untukmu" ucap Jimin singkat.


"untukku?"


"heemm.."


Hyerin agak bingung sebenarnya apa isi dari totabag sekecil itu. Hyerin langsung membukanya dan mendapati satu papan obat.


deg,


"penunda kehamilan? Jim ini... apakah tidak salah jika untukku?" Hyerin membukanya dan bertanya pada Jimin untuk memastikan apakah Jems tidak salah memberikan.


Jimin menoleh menatap Hyerin dari atas sampai bawah.


"itu sama sekali tidak salah, obat itu memang untukmu! minum satu butir untuk pagi ini dan satu butir untuk malam nanti!" ucapnya singkat.


"t-tapi kenapa? kenapa aku harus minum obat penunda kehamilan ini?"


"kenapa? karena aku tidak ingin kau hamil anakku!"


Hyerin terkejut, hatinya sangat sakit mendengar ucapan Jimin. ia meremas erat baju bagian dada dan menjatuhkan obat itu.


"kenapa? kenapa kau tidak ingin aku hamil?"


"semalam itu anggap saja malam pertama kita, tentu saja aku tidak ingin kau hamil karena aku tidak ingin memiliki keturunan darimu!"


Hyerin bungkam, tidak bisa berkata apapun lagi ia menatap obat yang ada dilantai itu. hatinya sakit dan benar-benar terluka. ia tak bisa membantah dan melawan Jimin untuk tidak meminum obat itu.


"ayo minum!"


setelah memakai pakaian Jimin duduk disofa menyilang kan kakinya dan menatap Hyerin tajam dengan tatapan benci.


"jangan mengandung anak yang nantinya akan ku benci seperti dirimu" ucapnya.


Hyerin masih terdiam dengan menatap obat itu dan detik berikutnya ia memungutnya.


"kenapa diam saja! aku bilang minum obat itu!"


"Jimin, apa kau benar-benar tidak ingin memiliki anak dari rahimku?" tanya Hyerin sendu.


"aku tidak ingin anakku dilahirkan oleh wanita sepertimu! minum obat itu dan jangan membantah ataupun bertanya bnyak lagi! cepat!" bentaknya.


"apakah harus ku paksa dulu?!!"


"tidak, tidak papa. aku akan meminumnya.."


Hyerin meraih segelas air disamping tempat tidur kemudian menelan dua butir obat. meskipun Jimin mengetahui bahwa Hyerin menelan dua butir obat penunda kehamilan, pria ini sama sekali tidak melarangnya meskipun ia tau dosis dari obat itu sangat tinggi.


"aku sudah meminumnya, sekarang aku akan membersihkan diri"


"bagus sekali.."


dengan langkah patah-patah Hyerin menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. ia menatap wajahnya di depan cermin.


"maaf Jim, maafkan aku.."


Hyerin memuntahkan obat penunda kehamilan yang ia minum tadi. ternyata Hyerin tidak menelan obat itu dan hanya berpura-pura meminumnya saat dihadapan Jimin.

__ADS_1


__ADS_2