
"Mo, Hendry kemana sih? Udah seminggu kita kuliah dia nggak pernah masuk." Tanya Riana, seraya menyedot boba miliknya.
"Tau nih telepon gua nggak diangkat, sms gua nggak di respon" Tutur Momo masih sibuk dengan hpnya.
"Apa dia kena hukuman lagi sama papanya? Lo taukan Hendry pemberontak kelas kakap di keluarganya."
Momo acuh dia masih asik dengan dunianya.
"Lo lihat apa sih?" Tanyanya mulai kesal melihat gadis berambut pendek itu terus ketawa sendiri.
"Biasa Run BTS, gua ngakak terrus tau nggak lihat mereka. BTW, Lo ikut nggak acara Study toor minggu depan?"
"Hemm? Dimana?"
"Pulau Dewata, ayolah Ri! Kita liburan sebelum lo hamil." Momo sejekap terdiam tatapannya turun ke perut rata
Riana. "Ngomong-ngomong kok lo belum hamil sih? Apa Devan belum melakukannya?"
"Apa sih?" Karena pertanyaan aneh itu Momo mendapat cubitan manja di pinggangnya.
" Ya ampun bencanda Ri."
Riana hanya membalas dengan senyum. Terlintas dibenaknya, kenapa sampai saat ini dia juga belum hamil-hamil padahal dia sudah melakukannya.
"Ri.. Lo baik-baik aja kan?" Tanya Momo.
"Hemmm..." Riana menunduk penuh beban di pikirannya.
......................
"Sayang, aku ada kerjaan diluar kota. Aku sudah menyuruh mama untuk pulang menemanimu." Tutur Devan.
"Ahh...? Hari ini?" Riana beranjak dati duduknya hingga berdiri dihadapan Devan.
"Iya sayang maafkan aku! Aku lupa memberitahumu." Tangan kekar Devan mengelus lembut pipi Riana yang mulai chabi
"Hmm... Tapi besok aku akan ikut study toor dengan teman kampusku yank. Apa boleh aku ikut?" Tatapan mata Riana seakan memohon agar pria yang sangat dia cintai ini mengizinkannya iku serta.
"Dimana?"
__ADS_1
"Pulau Dewata." Alis Devan terangkat.
"Nggak boleh ya."
Devan tersenyum menarik tubuh Riana dalam pelukannya. "Boleh sayang, asal jangan deket-deket dengan cowok lain. Setelah kerjaan ku selesai aku akan menyusulmu."
"Hemmm?" Riana mendongak menatap penuh selidik wajah suaminya.
"Kenapa? Aku ingin mengawasi istriku Riana, aku tidak akan membiarkannya di goda olah pria lain."
*
Riana melirik jam dipergelangan tangannya lima menit lagi bus yang membawa mereka ke bandara akan berangkat sedang Hendry belum juga datang.
"Mo, lo yakin Hendry bakalan ikut." Riana meliriki sejrkan Momo yang sedafi tadi sibuk menghubungi Hendry.
"Hemm? Tau nih, nomornya kagak aktif Ri."
Kepala Riana terus mencari keberaan sahabatnya dari segala arah, namun pria bermata sipit itu tak kunjung datang hingga mobil yang mereka tumpangi meninggalkan area kampus.
"Hendry kenapa sih? Kalau ada masalah bilang kek kekita. Nggak asik banget tu anak" Gerutu Momo kesal.
Momo berdecik kesal gadis itu memilih membuang wajahnya keluar jendela. Sepanjang perjalanan Riana pun memiliki banyak tanya ada apa dengan Hendry, pria itu seakan hilang ditelan bumi. Matanya menatap jauh memandang hingga lamuanya enyah saat hpnya berdering.
"Kenapa? Kok mendadak sih?" Tanya Riana sedikit guras pada sambungan diseberang sana.
Gerakan refles Momo menatap Riana seakan tahu siapa penelpon itu.
Riana menndegarkan penjelasana Hendry "Yaudah, mau gimana lagi? Gua sama Momo udah OTW nih kebandara." Ucapnya lemas.
"Hendry?" Tanya Momo.
Riana mengangguk lemah. "Katanya dia nggak ikut, ada urusan yang ngga bisa ditunda."
Momo menyeritkan alisnya penuh tanya. "Emang dia ada urusan apa? Tumben tu anak nggak bilang"
"Mo, Hendry juga butuh privasi kali. Kan masih ada gua Mo" Rayu Riana.
Meski berat Momo memaksa senyumnya, Riana pun sama entah kali ini sangat berbeda. Entah kapan terakhir Momo dan Riana bepergian seperti ini tanpa Hendry.
__ADS_1
......................
Devan tersenyum tipis membayangkan traksi Riana jika mengetahui dia juga berada di pulau ini. Ini lah alasan mengapa Devan begitu mudah mengizinkan Riana ikut study toor.
"Semua udah gua selesain sekarang waktunya gua have fun, lo jangan ganggu gua dengan tingkah konyol lo atau masalah rumah tangga lo!"
Tegas Felix.
"Gimana kalau gua ilang?"
"Bodo amat. Selamat bersenang-senang tuan Devan" Felix berlalu sangat bahagi saking bahagianya dia menyaapa beberapa turis wanita yang baru masuk ke hotel.
"Cihh... Dasar playboy jomblo." Gerutu Devan.
Sekali lagi Devan melirik ke arah pintu hotel tapi, masih sama gadis yang dia tunggu tak kunjung mincul dibalik pintu itu. Karena kantuk menyerang Devan beranjak ingin kekamarnya.
"Devan" Suara seorang gadis menghentikan langkah Devan seiring dengan itu dia memutar badannunya.
"Kamu ngapain disini?" Lunar mendekat kearah Devan
"Aku ada urusan disini Lunar." Jawab Devan.
"Dimana istrimu?"
"Aku sedang menunggunya."
"Oh... Bagaiman jika kita minum kopi sekalian menunggu istrimu" Ajak Lunar penuh harap.
"Tidak perlu aku akan menunggunya dikamar."
Devan kenapa kau begitu dingin padaku?
Lunar tersenyum getir "Ayolah! aku juga menunggu seseorang lagi pula kita hanya minum kopi di kafe depan sana"
Devan sejenak berfikir, akhirnya menyetujui ajakan Lunar.
Debu jalan bercampur terik matahari langit Bali seakan membakar kulit, tapi itu tidak sebanding dengan hati Riana yang memanas saat melihat suaminya bersama wanita lain.
Aku membencimu Devano.
__ADS_1
......................