
malam harinya,
pukul 00.00
"dia tak boleh bahagia, semua penderitaan Anna harus dia bayar"
"karena dia Anna ku meninggal Jung, karena wanita sial*an itu Anna tiada.. "
"wanita sialan.. ternyata dalam hidupnya aku hanya pembawa sial..." Hyerin duduk di balkon kamar.
Hyerin sudah duduk di balkon sekitar setengah jam yang lalu. Jimin tengah tertidur dan Hyerin diam-diam duduk di balkon dengan membawa selembar kain untuk berselimut.
"rasanya, aku tidak akan punya kesempatan untuk membuat Jimin mencintaiku" Gumam Hyerin.
langit biru yang bertaburan bintang dan gemerlapnya lampu-lampu kota serta hamparan laut yang memantulkan cahaya bulan membuat Hyerin sedikit tenang. ia memeluk perutnya dengan lembut berharap bayinya baik-baik saja dengan keadaan ini.
"tak apa sayang, meskipun ayahmu seperti itu ibu tidak akan pernah membencinya. kau juga harus menyayanginya yaa.. setelah kau lahir nanti, ibu harap kita bisa selalu bersama" ucap Hyerin tersenyum.
"ahh iyaa aegi sayang, besok kita pergi berbelanja untuk kebutuhan di mansion baru. kita akan tinggal disana untuk beberapa saat"
"kau tiga bulan kedepan pasti kau sudah berkembang sayang.."
Hyerin terus berbicara, ia tak tau bahwa suaranya memantul hingga kedalam kamar. hal yang membuat tidur sang suami terganggu.
Jimin membuka matanya karena mendengar sayup-sayup suara wanita. ia menoleh kearah tempat tidur Hyerin yang kosong dan matanya beralih pada pintu balkon yang terbuka. sedikit bayangan Hyerin terlihat diluar sana.
"sayang ibu... aegi sayang, cepat besar yaa.. besok kita akan membeli beberapa buah dan sayuran untuk stok bulanan. dan susu untukmu juga..."
"akan ada banyak orang yang menyayangimu nantinya.."
Jimin telah berdiri diambang pintu, tangan yang mengepal dan rahang mengeras. ternyata suara Hyerin benar-benar mengganggu tidurnya.
"Hyerin"
__ADS_1
Hyerin membatu, mendengar suara Jimin yang serak basah. nafasnya tercekat seakan jantungnya terhenti seketika. perlahan dia menoleh, Hyerin berharap itu hanya sebuah perasaannya saja tapi ternyata Jimin benar-benar berdiri disana.
"Jimin.. k-kau bukankah, bukankah kau sedang tidur" Hyerin gugup, ia benar-benar terkejut malam itu.
"masuklah, akan ku jelaskan" ucap Jimin.
perlahan Hyerin melangkah masuk, rasanya sangat berat untuk masuk kedalam kamar. Hyerin takut, sangat takut.
Jimin mengunci pintu balkon setelah Hyerin masuk.
"bukankah sudah ku bilang, berhentilah berbicara pada bayimu.. kenapa masih melakukannya ditengah malam dan mengganggu tidurku ?"
Hyerin terdiam, jujur dia tidak bermaksud begitu, ia bahkan tidak tau kalau suaranya bisa nyaring kedalam kamar.
"Jimin aku minta maaf, aku tidak bisa tidur jadi aku duduk di balkon dan mengobrol dengan anak kita sebentar. maaf telah membangunkanmu" ucap Hyerin lirih.
matanya redup tapi memberikan tatapan tajam pada Hyerin, masih dalam keadaan yang sangat mengantuk. Jimin mengambil red wine dengan kadar 57.1% diatas meja. dalam satu kali tegukan sebotol red wine itu langsung habis dalam satu menit.
"Hyerin, ku beritahu satu hal"
"aku.. paling benci ketika tidurku terganggu!"
"apapun alasannya jika berani aku terbangun dari tidurku sebelum aku bangun sendiri, itu artinya kau cari masalah denganku"
Jimin berucap dengan suara dalam yang membuat Hyerin gemetar. ia takut jikalau Jimin memukulinya.
"a-aku benar-benar minta maaf Jim.. maafkan aku tolong tolong maafkan aku.."
Hyerin berlutut dihadapan Jimin, ia memohon tapi Jimin tidak meresponnya. ia menarik laci dan mengambil ikat pinggangnya dari dalam sana.
"Hyerin, apa kau pikir kata maaf dan permohonan mu itu berguna untukku?" Jimin melipat ikat pinggang itu menjadi dua. memegangnya dengan erat hingga otot tangannya terlihat. rahangnya mengeras karena benar-benar emosi.
kepalanya sedih oleng dan pusing akibat sebotol red wine dengan kadar tinggi serta tidurnya terbangun karena terkaget dengan sebuah suara.
__ADS_1
Jimin berdiri, menarik rambut Hyerin dan menatap wajahnya. Hyerin yang telah menangis sejak tadi tak bisa berbuat apapun. ia menatap Jimin dengan wajah memelas dan menyatukan kedua tangannya.
"a-aku mohon jangan pukul aku, a-aku minta maaf hiks tolong ampuni aku Jimin'aa.. aku mohon aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji.. aku janji hikss.. tolong maafkan aku"
Hyerin menangis sesegukan sambil menyatukan kedua tangannya, bahkan Jimin pun belum melakukan apapun padanya.
"kau tau apa akibatnya jadi berhentilah membuatku kesal" ucap Jimin datar.
ia melingkarkan ikat pinggang itu pada leher Hyerin dan menariknya kuat. membuat Hyerin sesak dan menahan ya agar tidak mencekiknya terlalu kuat.
"J-jimin .."
Jimin menarik Hyerin kesamping tempat tidur. membiarkannya duduk dilantai yang dingin sedangkan ia langsung merebahkan tubuhnya untuk tidur.
"besok pagi, jika aku melihat ikat pinggang ini terlepas dari lehermu maka aku akan melepaskan kepala mu dari tubuhmu" ucapnya.
Hyerin mengangguk cepat agar Jimin tidak menggila untuk memukulnya. ia sudah sangat bersyukur Jimin tidak memukulinya malam itu.
sangat cepat, baru saja merebahkan tubuhnya Jimin langsung tertidur pulang. Hyerin terdiam dibawah sana dengan ujung ikat pinggang digenggaman Jimin. Hyerin bersandar pada meja disamping tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan kain yang ia bawa tadi.
"tak apa, setidaknya Jimin tidak memukuliku. aegi sayang tidurlah nak.. ibu ada disini bersamamu" ucap Hyerin lirih. ia menyandarkan kepalanya pada sisi tempat tidur dan beberapa menit berikutnya ia tertidur dalam keadaan duduk.
"Jimin selamanya hidupku tergantung padamu"
"kau tidak boleh bahagia tanpa ijin dariku!"
"sudah ku katakan minum obat itu, jangan sampai kau hamil anakku!"
"dia tak boleh bahagia, semua penderitaan Anna harus dia bayar"
"karena dia Anna ku meninggal Jung, karena wanita sial*an itu Anna tiada.. "
meskipun matanya terpejam dan tertidur, tapi pikiran Hyerin tak pernah lepas dari banyaknya kata-kata yang telah ia dapatkan.
__ADS_1