Promise

Promise
78


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Riana melihat mata suaminya berkaca-kaca.


Devan menggeleng lalu membawa Riana dalam pelukannya. "Aku tidak apa sayang. Ada yang kamu inginkan?"


Riana menunduk, jauh dilubuk hatinya dia memang menginginkan sesuatu.


"Hemm katakan kau ingin apa?"


Riana mendongak menatap wajah suaminya. "Hemm... Aku menginginkan mu" Ucapnya pelan tapi masih bisa didengan oleh Devan.


Devan tersenyum geli melihat tingkah malu-malu istrinya, kenapa juga dia malu padahal ini bukan kali pertama mereka melakukannyaa. Tapi, ini oertma kalinya Riana meminta langsung pada Devan.


"Sayang, ini masih siang dan kamu mengingkanku." Ucap Devan menggoda.


Raut wajah Riana seketika berubah mendung. "Ya sudah kalau tidak mau." Riana langsung membalikkan badannya meninggalkan Devan.


"Sayang, aku hanya bercanda! Berapa kalipun kau inginkan aku akan tetap melakukannya."


Satu hal yang kini Devan tahu, jangan mengajak ibu hamil bercanda dia akan terlihat sedikit menakutkan.


Devan benar-benar kewalahan menghadapi sikap abstrak istrinya, dia jadi gampang menangis, marah dan lebih menakutkan jika dia ingin sesuatu yang sangat susah Devan dapatkan.

__ADS_1


"Yank, kamu dimana?" Tidak ada sahutan dari Devan, Riana langsung beranjak dari tempat tidur. "Perasaan dia disini? Kemana dia?"


"Lastri, kau melihat Devan?" Tanya Riana, melihat Lastri membawa segelas susu coklat di tangannya.


"Tuan Devan berada di ruangan kerjanya nyonya, saya diminta memberikan susu ini pada anda"


Riana meraih segelas susu coklat diatas nampan Lastri, sekali teguk susu itu lolos di tenggorokan Riana. "Maksih Lastri."


...***...


Pertama kali Ar melangkahkan kakinya di rumah setelah sekian lama, ada kelegaan di hatinya. Lamuan Ar harus buyar saat ponselnya bergetar, saat melihat nama yang tertera di layar wajahnya berubah kesal. Ini yang ke tujuh kalinya Angga menelponnya


"Hemm.." Ar langsung mengakhiri telepon Angga untuk kesekian kalinya, entah sudah berapa kali pria jomblo akut itu mengatakan hal yang serupa sampai-sampai Ar sangat bosan mendengarnya.


"Bang Ar, bantuin Momo!" Suara melengkin Momo membuat Arrian menoleh, wajahnya tersenyum damai menadapati wajah gadis yang selalu mendukung dan merawatnya selama ini.


"Kata Angga abang nggak boleh ngangkat yang berat-berat Mo."


"Ya ampun ini mana berat bang Ar?" Momo mengangkat bungkusan makanan yang sempat mereka beli di perjalanan tadi.


"Baiklah, biar Momo yang membawanya. Abang tunggu aja didalam!" Arrian menahan senyumnya, gadis ini begitu menggemaskan saat ngambek seperti ini.

__ADS_1


Sekali tarikan Ar memaksa Momo jatuh kedalam dekapan Ar, jarak mereka begitu dekat membuat jantung Momo berdetak tidak karuan.


"Aaa... Abang mau ngapain?"


Ar sedikit mendekatkan wajahnya. "Bukannya kau ingin dibantu?" Lirihnya.


Tanpa pikir panjang lagi Momo memberikan bungkusan itu ke Ar demi keselamatan jiwa dan raganya.


"Wajahmu memerah, apa kau sakit?" Tanya Ar sedikit khawatir.


Momo menggeleng cepat. "Tidak! Aku baik-baik saja, abang diluan masuk Momo akan nyusul."


Melihat Ar sudah hilang dari balik pintu Momo berusaha mengatur nafas dan detak jantungny, sesekali dia menepuk dadanya.


"Gue kenapa? Belakangan ini gue seperti ini kalau deket abang Ar. Tunggu! Apa ini ciri-ciri gue kena penyakit jantung? Ahh... Tidak boleh gue harus konsul kedokter secepatnya." Gerutunya kembali menurunkan beberapa koper lagi dari mobilnya.


Ar yang masih berdiri dibalik pintu hanya bisa tersenyum lepas medengar Momo berceloteh tidak jelas.


"Aku juga meraskaan hal yang sama? Jantung berpacu begitu indah saat berada didekatmu, ini pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan ini getaran begitu merdu bersenandung syahdu."


Arrian

__ADS_1


__ADS_2