Promise

Promise
40


__ADS_3

"Riana sudah tidur? Devan mengangguk dalam langkahnya.


"Apa sebaiknya kalian tidak tinggal disini sayang? Mama takut kejadian ini akan terjadi lagi."


"Iya ma, mungkin sebaiknya seperti itu. Aku akan pindah setelah rumah kami sudah rampung."


Hery menarik nafasnya berat "Papa akan mengurus penjahat itu besok. Papa pastikan mereka akan mendekam di penjara selama sisa hidupnya." Suara dingin Hery seakan ingin mengoyak tubuh orang sudah berani melukai menantu dan anaknya.


......................


Devan yang baru saja selesai mandi menatap heran Riana yang masih terbungkus selimut. Tidak seperti biasanya gadis itu seperti ini, selama pernikahan mereka ini pertama kalinya Riana terlambat bangun. Devan mulai mendekati Riana lalu menyibak selimut yang membukus rapat tubuh Riana


"Ri... Bangun yuk! Udah pagi." Ucap Devan lembut.


"Hmmm..." Riana kembali menarik selimut lalu membungkus seluruh tubuhnya.


"Ayo! Ini hampir pukul tuju sayang" Devan kembali menyibak selimut istrinya dia melihat wajah Riana sedikit pucat. Devan tersenyum manis tangannya mengusap buliran kringat di kening istrinya. Betapa kagetnya Devan saat merasakan suhu badan Riana terasa panas.


Devan panik sepanik-paniknya, belum cukup semalam rasa bersalahnya karena gagal melindungi wanitanya dan sekarang gadis itu sakit seperti ini. Sekali hentakan Devan mengangkat tubuh ramping Riana ke mobil.


"Aku tidak apa kak, aku hanya ingin tidur "


Bahkan mata gadis itu masih terpejam.


"Devan ada apa sayang? Riana kenapa?" Suara Lily membuat Devan menghentikan langkahnya.


"Riana sakit ma, aku ingin membawanya kerumah sakit." Devan kembali melangkah menuju mobil yang sudah terparkir didepan pintu utama rumahnya.


"Iya, kamu diluan sayang! Nanti mama nyusul."


Devan terus memeluk erat tubuh Riana sesekali dia mengecup pucuk kepala gadis itu.


"KAU BISA LEBIH CEPAT DARI INI?" Bentak Devan, Dika supir pribadi keluarga Devan menginjak pedal gas menambah kecempatannya, ini pertama kalinya dia mengemudi dengan kecepaatam diatas rata-rata


"Kak, kenapa teriak? Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin tidur kak" Suara Riana makin melemah.


Setelah drama menyalip dan melanggar rambu lalulintas mereka sampai di rumah sakit, Devan mengangkat tubuh Riana masuk keruang UGD. Salah satu perawat yang melihat Devan, segera mendorong brangkar rumah sakit bersamaan dengan itu Angga terlihat mengahampirinya juga


Tanpa menunggu lagi Dr. Angga memeriksa keadaan Riana, perawat yang lain ada yang memasang infus dan ?mengambil sampel darahnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Suara lantang Devan membuat perawat yang baru ingin mengambil sampel darah Riana tersentak kaget.


Buhakan pasien dan petugas medis di ruang UGD itu ikut kaget dan terdiam.


"Dia mau ngambil sampel darah Riana."


"Baagaimana kalau istri gua sakit karena benda tajam itu ha? Ganti jangan pakai itu?"

__ADS_1


Bolehkah mereka yang ada diruangan itu tertawa mendengar ucapan yang tidak masuk akal dari seorang CEO perusahaan raksasa dinegara ini? Sebaiknya jangan jika kalian masih ingin bernafas bebas dinegara ini.


Angga menutup matanya kesal andai Devan bukan sahabanya dan salah satu pemegang saham terbesar dirumah sakit ini mungkin dia sudah menendang jau pria menyebalkan ini dari hadapannya.


Jalan satu-satunya agar rumah sakit ini beroprasi dengan lancar Angga memindahkan Riana ke ruang VVIP jika disana apapun yang pria aneh ini lakukan tidak akan menganggu siapapun.


"Angga, ini sudah hampir dua jam kenapa istri gua nggak bangun-bangun?"


"Itu karena pengaruh obat Devan, sebentar lagi dia pasti bangun"


Angga berusaha setenang mungkin menghadapi kekawatiran Devan yang berlebihan.


"Ini sudah kedelapan kalinya lo bilang gitu tapi Riana masih belum sadar juga."


Riana merasa tidurnya terganggu mengerjabkan matanya berusaha mengumpulkan puing kesadarannya


"Riana! Kamu tidak apa kan? Apanya yang sakit? Hem?"


Riana yang masih lemas hanya mampu menggeleng kan kepalanya


"Kan udah gua bilang bentar lagi bini lo sadar."


Angga mendekat niat ingin memeriksa keadaan Riaana namun tangan kekar Devan menahan gerakan Angga.


"Lo mau ngapain ha?" Tanya Devan dengan tatapan tajam.


"Terus ngapain lo mengarah kesana?" Ucap Devan, matanya mengarah ke dada sang istri.


Siapapun, bisakah kalian mengirim pria bodoh ini ke luar kota? Tidak keluar peredaran bumi pun jika perlu. .


"Tuan Devan, mari kerja samanya oke. Setelah melakukan pekerjaanku , aku akan menghilang dari hadapan kalian berdua."


Suara Angga mulai melemah, menghadapi pria cemburuan ini dengan urat leher akan mengundang perang terbesar abad ini.


Benar saja Devan menurut, Angga memeriksa Riana dengan prosedur yang sudah dia ketahui. Lalu, dokter tampan itu mengambil hasil tes darah yang baru saja labolatorium kirimkan padanya.


"Istri gua kenapa? Apa bisa membahayakan hidupnya?." Angga tersenyum melihat kekawatiran yang berlebihan dari pria ini, sudah lama dia tidak melihatnya.


"Jawab! Gua ngga suruh lo senyum monyet di depan gua"


"Oke Tuan Devan, Riana kena gejala tipes. Untuk sementara dia harus istirahat total jangan buat dia kecapean Van atur pola makanannya juga! Sepertinya dia sering anemia." Jelas Angga.


"Itu artinya dia tipes?"


"Ini baru gejalanya Devan." Ucap Angga. Aneh, pria didepannya ini adalah mahasiswa terbaik di Universitas Oxford dan CEO perusahan terbesar di negara ini tapi kok otaknya sedikit kolot ya? Fix Devan hanya beruntung di karir dan juga wajah. Kenapa tidak satupun Angga miliki? Ets ini bukan karena dia iri hanya dia kesal selalu dibuat susah oleh sahabatnya itu.


Sedangkan Riana yang sejak tadi memperhatikan sikap manis Devan hatinya terus berbunga-bunga, bahagianya tak bisa lagi dia untai dalam bentuk kata-kata mendapat perhatian seperti ini dari sang suami

__ADS_1


"Kenapa? kamu mau sesuatu?" Suara Devan membuat Riana sadar dari dunianya sendiri.


Melihat Riana hanya diam Devan meletakkan leptop diapangkuannya lalu mendekat kesisi Riana


"Lapar?"


"Kenapa diam?" Ucap Devan seraya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi Devan melihat seluruh wajah cantik itu.


"Tidak. Aku tidak apa" Lirih Riana


Devan menghembuskan nafasnya pelan, tangan kekarnya menggenggam hangat tangan Riana.


"Kamu ingin ngomong sesuatu?" Devan menatap senduh wajah istrinya.


"Maafin aku, sepertinya aku menjadi beban dalam hidup kak Devan" Saat ini Riana berusaha menahan tanginsnya agar tidk tumpah.


"Kata siapa? Aku ini suami kamu Ri, kamu tanggung jawabku. Bagaimana jika Arrian berfikir kalau aku lepas tanggung jawab terhadapmu? Dia pasti akan mengambilmu dariku Ri dan aku tidak mau itu terjadi Riana. Aku sayang kamu" Ucap Devan tulus. Devan tidak bisa lagi mengelak dia sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri.


Riana menatap lekat wajah suaminya sekan mencari kebohongan disana. Namun Riana tidak menemukannya semua hanya ketulusan.


"Aku sayang kamu Riana" Sekali lagi Devan mengucapkan kata itu untuk meyakinkan Riana. "Aku tidak ingin itu terjadi Riana, selamanya kamu milikku."


Saking bahagianya Riana menghamburkan dirinya dalam pelukan Devan tak terasa air matanya jatuh membasahi pundak Devan


"Jangan nangis sayang, aku nggak mau kamu sedih."


Riana menggeleng lembut seraya menghapus jejak air mata dipipinya. "Aku nangis bahagia. Bahagia telah menaklukkan hati kak Devan"


"Sampai kapan kamu memanggilku dengan sebutan 'kakak'? gendang telingaku sudha gatal mendengarnya. Kau tau aku seperti menikahi anak dibawah umur Riana."


"Emang ada yang salah? Kak Devan kan lebih tua dari Riana jadi wajar aku panggil dengan sebutan kakak. Lagi pula itu hanya sebuah panggilan"


"Haa? Hanya panggilan katamu? Aku ini suami mu Riana. Cukup panggil namaku Devan, atau panggilan aku seperti pasangan suami istri pada umumnya! Contohnya sayang, honey, atau suamiku. Kan enak didengar Ri"


"Tapi ka..."


Cup... Ucapan Riana terhenti kala Devan mendaratkan ciuman lembut di bibir gadisnya itu.


"Jika kau membantahku, aku akan melakukan lebih dari sekedar ciuman ini Riana!" Bisik Devan. Gadis itu berdegik ngeri, melakukan lebih dari ciuman di rumah sakit? Yang benar saja? Apa pria ini sudah kehabisan kewarasannya.


Melihat tatapan Riana tibul dibenak pria itu menggoda istrinya. "Kenapa sayang? Apa kau sudah siap?" Devan semakin memajukan tubuhnya seiring dengan iti Riana juga ikut mundur


......................


Dr. Angga


__ADS_1


__ADS_2