
*
Devan menyelimuti tubuh istrinya yang sudah terlelap sedari tadi. Hanya bercahayakan sinar rembulan diluar sana Devan membuka tas hitam yang dia ambil tempo hari dari apartemennya, ia megeluarkan buku usang yang sudah sobek dibagian sampulnya.
Wajahnya sedikit ragu saat melalukan panggilan.
"Aku Devan, kapan kamu ada waktu?" Tanya Devan pada seseorang dalam sambungan telepon diseberang sana.
"Oke" Devan mematikan teleponnya.
Hanya melakukan panggilan sesingkat sepertinya Devan begitu lelah hingga buliran keringatnya keluar. Dia menghembuskan nafas lega seiring dengan itu dia menyandarkan punggungnya agar sedikit rileks.
"Sayang, kamu kenapa?"
Suara nan lembut membuat Devan melirik kesamping, seutas senyum melengkung diujung bibirnya mendapati Riana sudah berdiri didekatnya. Devan menarik Riana untuk duduk dipangkuannya.
"Apa ada masalah dikantor?" Tutur Riana lembut, dia memandang penuh cinta wajah suaminya
"Tidak sayang. Kenapa kau bangun? Apa aku menganggumu?" Tanyanya sambil mengelus lembut surai panjang milik istrinya.
"Tidak, aku bangun karena kau tidak disampingku."
__ADS_1
Devan tersenyum melihat sikap manja istrinya, sekali hentakan dia menggendong Riana hingga membaringkannya di atas pembaringan. Devan mendekap penuh kasi tubuh Riana, mengelus lembut punggungnya hingga gadis itu temggelam dialam mimpi. mimpi.
...*...
Devan harus menunda beberapa rapatnya karena sesuatu hal yang jauh lebih penting. Langkah seirama dengan pelayanan yang menuntunya ke ruangan VIP di restoran khas Jepang itu Hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan ruangan 212. Anggun, pelayan itu membuka pintu bermaterial bambu dihadapan Devan.
"Selamat datang tuan Devan" Sapa seorang wanita cantik dengan tahi lalat di bawah bibirnya
"Sudah lama kita tidak bertemu kau semakin mempesona Devano." Sanjungnya dengan senyum mengambang diwajah
"Aku tidak perlu sanjungan mu Scarlite, aku mengajakmu bertemu karena sesuatu hal."
"Santai Devan, kau selalu saja terburu-buru. Bahkan kita belum memesan makanan." Gadis itu mulai kesal.
"Oke... Oke. Bicaralah tuan menyebalkan." Ujar Scarlite wajahnya yang ceria seketika tenggelam, tatapan dingin seakan mengoyak jantung yang menatapnya.
"Aku butuh bantuan mu, sahabatku sekarat dan dia butuh donor jantung. Aku yakin ini pekrjaan gampang untukmu Scarlite" Tutur Devan langsung pada intinya.
Sejenak gadis itu memandang wajah Devan begitu serius. "Sepertinya dia orang penting dalam hidupmu Devano. Tapi, ini pekerjaan cukup sulit dan tidak murah ." Ujar Scarlet, menyandarkan dirinya.
"Berapapun biayanya aku akan bayar."
__ADS_1
"Ini bukan soal biaya Tuan Devan, jika itu organ lainnya mungkin mudah bagiku mencari pendonor untukmu. Tapi, ini organ inti hanya pasien mati otak yang bisa menyumbangkan jantungnya Devan, itupun jika pihak keluarganya ingin." Jelasnya
"Sudah lama aku bekerja dibidang ini sangat susah mendapatkan seperti yang kau inginkan."
"Aku tau itu tapi setidaknya kau membantuku. Hanya kau hatapan tarakhirku Scarlite."
Gadis itu takjub baru kali ini Devan memohon seperti ini padanya.
Scarlite tersenyum sinis dia menyilangkan kakinya dengan anggun
"Apa dia seorang wanita, apa dia kekasihmu?"
"Bukan, dia seorang pria."
"Oke, aku akan berusaha dan menjadikannya milikku."
"Tentu! Jika kau sanggup membuatnya jatuh hati." Devan berdiri dari duduknya. "Aku mengharapkan mu Scarlite."
Angguk Scarlet yang hampir tak terlihat. "Kau boleh kirimkan aku rekaman medisnya. Mungkin ini akan memakan sedikit waktu Tuan Devan."
"Aku mempercaimu." Devan berjalan meninggalkan Secarlite yang masih menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Kau masih sama seperti dulu Devan." Lirinya tersenyum sinis.
......................