Promise

Promise
59


__ADS_3

Sejak kejadian itu Riana sangat dingin pada Devan, bahkan dengan sengaja Riana menghindar. Untung saja mama dan papanya tidak dirumah hingga tidak ada kecanggungan diantara mereka.


"Ri, kita harus biacara" Devan, menahan tangan Riana yang hendak pergi dari kamarnya


"Aku hampir terlambat."


"Itu perusahann milikku, dan kau adalah istriku. Siapa yang akan marah jika kamu terlambat?"


"Bukan kah kau harus profesional?"


Tanpa pikir lagi Devan membuat panggilan telpon.


"Lix, hari ini liburin perusahaan!" Dia tidak menunggu jawaban dari Felix, Devan langsung menutup panggilannya.


.


"Kau sudah gila Devan?"


"Ya aku gila Riana, aku gila karena kamu Riana." Bentak Devan.


"Kau terus mendiamiku, katakan jika aku salah! Jangan diam seperti ini, marahi aku jika kau kesal. Jika kau terus diam itu akan membuat hubungan kita tambah bermasalah Riana."


Riana menutup matanya frustasi, dia tidak mengerti dengan sikap Devan. Memang belakangan ini dia mengabaikannya itu sebagai hukuman agar pria ini kapok dan kenapa juga sih terlalu banyak wanita menginginkan prianya.


"Sayang maafkan aku! Ini tidak seperti apa yang ada dipikiranmu, soal kejadian hari itu hanya salah paham. Dia datang padaku memiinta maaf dan dia..."


"Memelukmu, dan kau hanya diam saat gadis lain memelukmu?" Potong Riana, membuat Devan diam seribu bahasa.


"Apa salah jika aku marah? Aku mengabaikan mu karena aku marah dan kau sepertinya tidak perduli dengan perasaanku. Kau hanya memikirkan dirimu. Ada titik dalam hidup ini seseorang harus berhenti dan memutuskan untuk tidak perduli lagi Devan, jangan sampai aku berada dititik itu."


"Tidak sayang" Devan langsung menarik Riana kedalam pelukannya. "Maafkan aku Riana, aku mencintaimu. Aku janji tidak akan melukai lagi perasaan mu Riana."


"Kau hanya berjanji tapi tidak menepatinya, kau ingat ini janji yang kedua kau ucapkan padaku.

__ADS_1


Devan semakin mengeratkan pelukannya. "Kali ini aku tidak akan mengingkarinya. Maafkan aku Riana."


Riana menghelai nafasnya pelan, dalam lubuk hati ya paling dalam dia juga sangat mencintai pria ini, sangat merindukannya. Tapi, tidak bisa dipungkiri dia marah, dia cemburu saat melihat Devan bersama Lunar ada rasa was-was dalam hatinya, bagaiman jika Devan lebih memilih kembali kepada masa lalunya dan meninggalkan dirinya, apa dia sanggup? Sedang cinta dan sayang ini kian menggunung untuknya.


"Janji tidak mengulanginya lagi?" Riana menunduk mentap Devan, seiring dengan itu Devan mendongak. Matanya menyimpan kesedihan


"Awas jika mau mengkarinya, aku akan pergi dari sisimu, dan bersembunyi di tempat yang tidak akan bisa kau temukan."


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau akan tetap disisiku, bersamaku hingga tua nanti." Devan mencium seluruh wajah Riana, sebagai pelepas rindu.


"Cukup Devan, ayo kita sarapan lalu kekantor."


Bukannya menurut Devan kembali mencium bibir Riana dengan lembut, pada akhirnya Riana ikut larut membalas setiap kecupan dan isapan pria ini suguhkan, hingga dia tidak sadar saat ini Devan sudah membaringkannya diatas sofa.


"Ahh..." Leguh Riana lolos begitu saja saat Devan mulai menggeria dibalik bajunya.


"Devan" Riana melepaskan ciumannya.


"Aku datang bulan" Lirih Riana


"Lagi?"


Riana mengagguk pelan "Awalnya aku pikir aku hamil, karena telat datang bulan tapi..."


"Tidak apa sayang, kita masih punya banyak waktu." Devan mengelus lembut rambut Riana "Itu artinya aku harus bekerja keras tiap malam."


"Bekerja keras?"


"Iya? Bekerja keras membuatmu hamil."


"Iiihhh dasar mesum" Riana menenggelamkan wajahnya di dada bidang Devan saking malunya.


Aku sudah pernah meraskan kehilangan dan itu sangat menyakitkan. Kali ini aku akan menjaga cinta ku, cinta kita Riana.

__ADS_1


#


Sepanjang jalan menuju rumahnya Riana terus tersenyum, sesekali dia menyapa beberapa pedagang yang sudah menjadi langganannya sejak kecil.


Entah kenapa soreh ini begitu indah, serayu angin mengehembus memberikan sedikit kesejukan. Tidak biasanya taman di dekat kompleks begitu ramai, bahkan nenek Mia yang sangat jarang keluar rumah ikut menikmati keindahan soreh ini.


"Kau mengenal mereka semua?" Tanya Devan yang sejak tadi terus memerhatikan istrinya.


"Hemm... Mereka temanku"


"Teman? Dengan nenek yang tadi juga?" Tanya Devan sedikit terkejut.


"Hemm.. Memangnya kamu, tidak memiliki teman?" Ejek Riana.


"Ha? Siapa bilang? Aku punya temen kok. Ar, Angga, Felix dan aku punya teman hidup yaitu kamu."


Rian tersenyum malu, dilihat dari tampilan suaminya yang sangat dingin bak kulkas lima pintu tapi dia pandai juga menghanyutkan hati Riana.


"Kenapa disembunyiin sih senyumnya? Kan aku juga mau lihat sayang?" Goda Devan


"Apa sih?"


"Sini aku lihat senyumnya" Devan, berusaha membalikkan wajah Riana tapi, sia-sia entah mengapa kekuatan gadis itu semakin bertambah jika di sedang malu.


......................


Riana



Devan


__ADS_1


__ADS_2