
Langkah Arrian terhenti sesaat, melihat Riana sibuk menyiapkan sarapan. Sedikit ada kecanggungan dan rasa bersalah menggelut di nalurinya.
"Kak Ar, ngapain berdiri disitu?" Suara Riana meleburrkan lamuannya.
"Tidak, mana Devan? Tumben sekali dia belum bangun jam segini?" Ucap Arrian kembali melangkah hingga dia duduk di kursi meja makan.
"Dia ada ditaman belakang bersama Zoya. Dimana Momo?"
"Aku disini." Sahut Momo dari belakang. "Kau masak apa? Kenapa begitu wangi?"
Riana berusaha menahan tawanya, dia begitu ingin ketawa mendengar Momo berbica sedikit formal padanya.
"Kenapa Riana? Apa ada yang salah?" Tanya Momo.
"Tidak" Riana masih berusaha menahan tawanya, bahkan wajahnya sampai memerah.
Momo meletakkan sendoknya diatas meja. "Aku juga sama seperti mu, ini pertama kalinya dan sangat menggelikan."
Seperdetik kemudian tawa kedua gadis itu pacah, mereka tidak sanggup lagi menahannya.
"Kalian ini kenapa?" Tanya Arrian sedikit geram, apa dia hanya patung disini.
Riana dan Momo menatap Arrian lalu kembali tertawa.
***
"Kak Ar, tentang rencana kak Ar ingin mengelolah perusahaan kita tempo hari Riana..."
"Sudah jangan dibahas lagi, maafkan kakak yang tidak mengerti dirimu..." Potong Arrian
__ADS_1
"Tidak. Maksud Riana, jika kak Ar menginkannya Riana setuju. Aku yakin kakak sudah memikirkannya matang-matang."
Arrian sejenak diam, menatap dalam sorot mata adiknya mencari keseriusan disana.
"Riana, aku dan abang Ar sudah membicarakan ini. Kami akan tetap disini bersamamu." Ucap Momo.
"Riana, kamu yakin dengan keputusan ini. Kamu tau kan aku, jika sudah memulainya disana tidak kakak tidak akan mundur lagi."
"Kak, aku yakin. Lagi pula jika aku merindukan kalian aku bisa kesana bersama Devan dan Zoya." Ucap Riana penuh kesungguhan. "Kata Devan beberapa bulan terakhir ini perusahaan ayah disana tidak baik."
Riana tertunduk menyembunyikan air matanya. "Maafkan aku kak, karena terlalu egois! Aku bahkan tidak memikirkan kalian berdua. Maafkan aku, rasa takutku begitu besar sampai-sampai mengesampikan perasaan kalian. Kak Ar hanya perlu berjanji pada Riana! Mulai sekarang kakak harus bahagia, melakukan apapun yang kakak inginkan, kakak tidak perlu memikirkan adik kecil mu lagi! Sekarang gadis itu sanagt kuat dan tangguh jadi jangan memikirkan apapun."
Devan mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca disana.
"Dan buat lo Mo, lo harus banyak sabar dengan tingkah laku kaka Ar. Gue yakin lo udah tau segalanya dibanding gue."
"Lo nggak salah Ri, nggak ada yang perlu dimaafin." Ucap Momo.
Dibalik dinding Devan tersenyum bahagia, tak terasa air matanya jatuh. Zoya dengan lembut menghapusnya lalu mencium pipi Devan.
"Dont cay appi" Ucapnya.
"Sorry litle girl, ini karena mami sangat hebat." Zoya yang penasaran mengintip. "Appi, mami cayy.."
Zoya berusaha turun dari gendongan Devan lalu berlari pada Riana.
"Mami.."
"Mami.."
__ADS_1
Teriaknya berusaha menggapai Riana dengan langkah kecilnya.
Happ...
"Jangan lari-lari Zoya kamu nanti jatuh sayang." Ucap Riana lembut.
***
Pelan Devan memeluk pinggang Riana dari belakang, mengecup lembut pipinya.
"Zoya udah tidur?" Ucapnya pelan.
"Hemm, baru saja. Kenapa? Kau menginginkan sesuatu?" Riana memutar badan lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Devan.
"Tidak, aku hanya merindukanmu sayang."
"Apa sih, aku hanya meninggalkanan mu beberapa menit kau sudah rindu. Gombal."
Devan menarik tubuh Riana, meneggelamkan kedalam dekapannya.
"Kau sudah bekerja sangat baik hari ini sayang."
"Hemm.. Aku berusaha sangat keras untuk itu papi. Apa aku tidak dapat hadiah?" Ucap Riana.
Sekali hentakan Devan mengangkat Riana. "Aku akan memberikannya saat ini juga sayang." Bisik Devan.
bersambung...
__ADS_1