Promise

Promise
91 (P8)


__ADS_3

Rintik hujan masih terus mentes dari atas langit, Riana masih sibuk membereskan beberapa barang yang akan dia bawa kebutiknya.


"Riana, dimana Zoya?" Tanya Arrian setengah berteriak melihat Riana seorang diri diruang keluaga.


"Hee? Dia disini tadi." RRiana memutar badannya mencari keberadaan Zoya. "Apa dia tiadk dikamarnya?" Riana berjalan mendekati Arrian


"Tidak, aku sudah menncarinya tadi."


Mereka berdua berpencar mencari keberadaan gadis mungil itu. Dapur, taman belakang rumah, kamar mandi, dan kamar bermain. Riana masih tidak menemukannya anaknya.


"Zoya... Kamu dimana sayang?" Teriak Riana, mencari dibawah meja. Gadis kecil itu sangat suka bersembunyi disana, masih saja Riana tidak menemukannya.


"Dimana kamu sayang?" Lirihnya.


"Bibi... Bibi tidak melihat Zoya?" Tanya Riana pada salah satu pelayan dirumahnya.


"Nona kecil tadi berjalan keluar Nyonya."


Riana menangguk dan segera berlari ke pintu utama. Sekali tarikan Riana membuka pintu membawanya ke teras depan, betapa terkejudnya saat melihat Zoya digendong oleh pria yang belum Riana lihat wajahnya.


"Zoya?"


Pria dengan tinggi setengah inci dari tubuhnya berbalik, dia pria selama ini Riana rindukan, pria yang selama ini membuatnya menangis disemperempat malam. Dia tersenyum begitu hangat menatap Riana.


Mata Riana sepertinya sudah mengak sungai, tinggal menunggu kapan air mata itu tumpah. Berulang kali dia menyadarkan dirinya jika semua ini bukan mimpi, pria yang berdiri didepannya sedang menggendong Zoya benar pria yang pernah meruntuhkan dunianya beberapa tahun terakhir ini.


"Sayang... Aku kembali"

__ADS_1


Suara itu keluar bersamaan dengan tetesan Air mata Riana tumpah.


...***...


"Kemana mereka?" Lirihnya menyusuri setiap kamar dirumah itu. "Zoya, Devan, kalian dimana sih?"


Semenjak Devan kembali, sedetikpun dia tidak ingin berpisah dengan putrinya. Ketika Lily dan Roger ingin mengambil Zoya pasti terjadi perdebatan hebat diantar anak dan ibu itu.


"Zoya..."


"Devan..."


"Kenapa Riana? Mereka berdu hilang lagi?" Arrian berjalan mendekati Riana di meja makan


Riana mengangguk. "Ini sudah sering terjadi kak semenjak Devan kembali. Dia sering terlambat masuk kantor karena keasikan bermain dengan Zoya." Runtuk Riana.


"Ya, awalnya nggak masalah kak. Tapi ini keseringan kak, baru berapa bulan Devan kembali sudah dua sekertaris mengundurkan diri. Bahkan kemarin aku terpaksa ikut rapat mendampingin Devan sebagai sekertarisnya."


Arrian menggeleng mendengar celotehan adiknya sudah kaya mesin jahit.


"Ah.. Kak bagaimana keadaan Kak Ar? Belakangan ini aku lihat kakak sering kerumah sakit, apa ada masalah dengan jantung kakak?" Tanya Riana. Setaunya selama dua tahun terakhir kakaknya sudah tidak pernah merasa kesakitan lagi.


"Hem.. Tidak, aku mengunjungi Momo disana. Dua hari yang lalu dia masuk rumah sakit."


"Ah? Kok bisa? Kenapa dia nggak bilang sama Riana kak?"


"Ehh.." Andai ucapan bisa ditarik kembali maka ia akan lakukan, bagaimana bisa dia lupa jika Momo melarangnya memberitahu Riana perihal dia berada dirumah sakit.

__ADS_1


Riana berlari ke kamarnya mencari ponselnya dan langsung menghubungi Momo, ini sudah ketiga kalinya Riana menelpon Momo tapi tidak dijawab.


"Ishh.. Awas ya lo!" Peringatnya


"Kamu kenapa sayang?" Riana memutar badannya melihat Devan baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ya ampun, kamu dari mana aja sih? Dari tadi aku muterin rumah ini cari kamu tau nggak." Runtuk Riana kesal.


"Aku sejak tadi dikamar mandi sayang."


"Dimana Zoya?"


Devan mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ingatan istrinya itu. "Sayang, ada apa denganmu? Kamu tidak inget kemarin mama datang mengambil Zoya."


Riana memegang keningnya. "Ya ampun, bagaiman bisa aku lupa? Maafkan aku sayang" Sesalnya.


Devan tersenyum kecil lalu mendekat pada Riana. "Nggak papa, aku ngerti kok sayang." Ucapnya lalu mencium kening Riana pelan. "Apa kau sudah keramas? Kenapa kepalamu bau."


Riana buru-buru menjauhkan dirinya pada Devan. "Aku lupa keramas."


"Pantas kau jadi pelupa."


Riana menatap Heran Devan. "Apa hubungannya, orang jarang keramas dan pelupa?"


"Kau masih bertanya sedangkan kau mengalaminya sendiri."


Riana menutup matanya kesal. "Devan...!"

__ADS_1


Devan sudah lebih dulu menjauhi Riana sebelum gadis itu mencubitnya, sepertinya selama Devan tidak ada Riana belajar ilmu dalam. Bagaimana tidak pukulan dan cubitannya begitu sakit.


__ADS_2