Promise

Promise
77


__ADS_3

Hari yang indah di akhir musim semi, seertinya roti panas dan secangkir teh hangat akan sangat nikmat disantap di pagi hari. Momo baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan dirinya, senandung lagu BTS terus mendayu di bibir mungilnya. Hingga dia tidak sadar sejak tadi Angga memperhatikannya.


"Ahhhhhhh." Pekik Momo kaget mendapati Angga menatapnya aneh "Kau mengagetkanku pak Dokter, bagaimana kalau aku jantungan kau mau bertanggung jawab ha?" Gerutunya kesal


"Kenapa kau pusing rumah sakit ini luas dan banyak kamar. Jika itu terjadi aku tinggal memasukkanmu kesalah satu kamar itu." Jawabnya enteng


"Ha? Aku yakin kau pria kesepian tanpa seorang kekasih."


"Tau dari mana?"


"Dari wajahmu sangat jelas kau kurang kasih sayang. Lagi pula mana ada gadis yang mau dengan pria kotor sepertimu? Meskipun kau seorang dokter"


Ucap Momo dengan nada meledek.


"Kotor? Aku sudah mandi"


"Ohh masa? Hahah sana bercermin bersihkan tahi matamu sebesar jagung itu"


Angga langsung memutar badannya menatap cermin tepat dibelakangnya. "Mana tahi mat..." Kesal, lagi-lagi Angga dipermainkan oleh anak ingusan ini. "Kau...."


"Pak Dokter.." Tunjuk Momo kearah Arrian.

__ADS_1


"Aku tidak akan tertipu anak ingusan."


Momo langsung mendekat kearah Arrian yang sudah membuka matanya. "Abang Ar?"


Angga langsung mendekat, memeriksa keadaan Arrian. "Kau bisa menelpon dokter?"


Momo berlari ke meja perawat tepat didepan kamar Arrian, hanya beberapa menit segorombolan dokter berjalan begitu cepat menuju kamara Arrian.


"Wah, mereka lebih terlihat ingin menghajar abang Ar dibanding mengobatinya." Lirih Momo.


Hampir tiga jam Momo menunggu diluar, enta apa yang para dokter itu lakukan didalam sama. Saking bosanny Momo bahkan mengambil hampir dua ribu foto selfi dan tak ada satupun menurutnya bagus.


"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak masuk?" Tanya Angga tiba-tiba, entah sudah berapa lama pria menyebalkan itu berda didepan Momo.


"Memang ada orang jika sudah sadar keadaannya memburuk? Kau benar mahasiswa atau anak TK sih?" Tanya Angga frustasi.


"Ah? Mungkin ada, contohnya seperti pak Dokter." Momo menjulurkan lidahnya lalu meninggalkan Angga seorang diri.


"Auh dasar bocah tengil."


***

__ADS_1


"Terima kasih Mo, sudah merawatku disini" Ucap Arrian memecah kecangungan dan keheningan diruangan persegi itu.


"Ahh..? Tidak masalah, abang Ar juga sering merawat kami bertiga." Ada kesedihan di bola mata Arrian, dia sangat merindukan adiknya.


Momo memutar otaknya, apa dia mengtakan sesuatu menyinggung perasaan pria didepannya.


"Abang Ar sakit? Tunggu Momo pangil dokter dulu" Langkah Momo harus terhenti saat Arrian menahan pergelangan tangannya.


"Tidak Mo, abang Ar hanya..." Tangis Arrian pecah membuat Momo semakin bingung.


"Abang rindu Riana ya?" Lirih Momo. "Kenapa tidak menemuinya? Dia juga sangat merindukan abang Ar."


Arrian menggeleng pelan. "Tidak, tidak sampai abang benar pulih Mo."


Momo menghela nafasnya pelan. "Kalau begitu aku kan menceritakan semua tentang Riana selama abang sakit."


Entah berapa kali Arrian menangis mendengar cerita Momo, lalu tertawa hingga air matany keluar. Dia bahagia sangat bahagia sampai dia lupa jika saat ini keadaannya belum pulih benar.


Dari balik pintu Angga sejak tadi memperhatikan kedua orang didalam sana tanpa mengganggunya sedikitpun.


Senyum Angga mengabang setiap kali Momo melucu yang menurutnya sangat garing, anehnya dia tetap tertawa.

__ADS_1


"Manisnya." Lirih Angga.


......................


__ADS_2