
malam harinya,
Hyerin datang kekamar Jimin setelah selesai memompa ASI untuk si kecil. ia meninggalkan putranya bersama bibi Kim. ia meminta pada bibi Kim untuk tidak melakukan apapun jika mendengar suara-suara dari kamar Jimin.
Jems dan Jeremy juga berjaga diruang tamu serta pengawal lainnya diluar rumah. dengan langkah berat Hyerin berjalan perlahan untuk sampai di kamar Jimin.
"Nyonya.. apa anda baik-baik saja?" Tanya Jems yang menghampiri Hyerin.
"terimakasih Jems, aku baik-baik saja.. apa Jimin berada di kamarnya?"
"Tuan ada di ruang baca, ia baru saja keluar dari kamar dan menuju kesana" jawab Jems.
"baiklah.. terimakasih" ujar Hyerin tersenyum.
"nyonya.. apa butuh sesuatu?"
langkah Hyerin terhenti, ia menghela nafas pelan dan berbalik menatap Jems dibelakangnya.
"Jems, aku minta padamu jika sesuatu terjadi di ruangan yang dimana ada aku dan Jimin didalam, tolong kau dan yang lainnya untuk berpura-pura tidak mendengarnya.." ucap Hyerin.
"nyonya.."
"aku akan menghampiri Jimin"
Hyerin langsung pergi dan menuju keruang baca. ia membuka pintu, Jimin duduk dikursi putarnya dengan sebuah buku ditangannya. Death note, buku berjudul inilah yang dibaca oleh Jimin.
buku dengan sampul hitam yang bertulis death note ini bukanlah buku baca tapi buku catatan. Hyerin mendekat dan berhenti didepan meja Jimin.
"bukankah aku menyuruhmu dikamar? kenapa datang kemari?" tanya Jimin tanpa menatap Hyerin.
"tadinya aku akan kekamarmu tapi Jems bilang kau ada disini jadi aku kemari menemuimu" ucap Hyerin.
"hemm.."
"Jimin, aku datang menemuimu untuk memenuhi janjiku. aku, aku datang membawa ini.." Hyerin mengeluarkan sesuatu dari saku baju tidurnya dan meletakkan di atas meja.
Jimin menurunkan buku yang menutupi wajahnya kemudian melihat benda diatas meja itu.
"apa maksudnya kau memberikan benda itu?"
"Itu.. sesuai yang aku katakan. aku siap untuk dikuliti olehmu" jawab Hyerin.
Jimin bisa melihat jemari Hyerin gemetar dan kakinya yang tidak bisa tenang. tangannya terlihat basah dan berkeringat.
ia menutup bukunya dan menaruhnya di laci, Jimin mengambil benda tajam diatas meja yang diberikan Hyerin kemudian memainkannya. detik berikutnya ia berdiri menghampiri Hyerin yang berdiri tak jauh darinya. pisau dengan bentuk pendek bulat itu adalah pisau khusus untuk menyayat kulit hewan.
__ADS_1
"Hyerin.. Hyerin.. kau terlalu repot untuk membawa pisau ini, kenapa harus dengan pisau jika bermodalkan kuku panjang ku saja aku mampu merobek perutmu dengan tujuh lapisannya" ucap Jimin melempar pisau itu.
"menguliti manusia dengan pisau itu terlalu mudah.. menggunakan tangan itu akan lebih baik dibandingkan pisau, rasa sakitnya juga akan terasa lebih nikmat.. mau mencobanya??"
Jimin melangkah maju mendekati Hyerin, ia berdiri disana dan tak berani melangkah mundur. Hyerin memejamkan mata dan terlonjak saat Jimin menyentuh lehernya dengan satu tangan. mencengkeramnya lumayan kuat hingga Hyerin sulit bernafas.
"Hyerin.. asal kau tau, Anna adalah wanita yang paling aku cintai.. menyakitimu sama saja menyakiti Anna karena satu organ miliknya ada padamu!"
"tapi tak masalah, kalian berdua sama-sama menyebalkan!! dan suka mencampuri urusanku!!"
BRUAK!
Jimin mendorong Hyerin kuat dan membentur meja kaca diruangan itu.
"suara itu.. apakah benar.?" Jems tampak kaget setelah mendengar suara keras dari ruang baca.
"Jems.. Kita bukan pertama kali mengenal Tuan muda" kata Jeremy memegang pundak Jems.
"kau benar, kita bukanlah orang yang baru mengenalnya"
brakk!
"tidak.. Aarrgghh... sakiit.. Tolong hiks.. Tidak!"
jeritan Hyerin terdengar keras sampai keluar ruangan. Jeremy dan Jems hanya bisa bertingkah seolah-olah tak mendengarnya. bibi Kim berusaha mengabaikannya tapi air matanya terus menetes tanpa henti sembari menggendong bayi kecil Majikannya itu.
"Ibu akan baik-baik, ibumu akan baik-baik saja"
bibi Kim mendekap bayi mungil itu dengan air mata yang telah banjir. suara-suara menyakitkan terdengar dari ruang baca. pecahan kaca dan suara dentuman didinding tak henti-hentinya terdengar.
"Jimin.."
"baru pemanasan saja sudah hampir mati, masih berani datang dengan benda tajam dan minta untuk dikuliti?! sudah benar-benar bosan hidup!"
"lihat bagaimana aku membereskanmu Hyerin!!"
"Aarghhh!! t-tidak.."
satu jam berlalu, suara-suara yang mereka dengar dari dalam ruang baca telah mereda, dan diganti dengan tangisan yang terisak hingga sesak mendengarnya. rintihan yang terdengar dari dalam sana membuat Jems dan Jeremy saling tatap.
"Jems, setelah ini kau pasti dipanggil untuk membereskannya " ucap Jeremy.
"aku mengerti"
"soal perintah Tuan, apakah sudah dilakukan?" tanya Jems
__ADS_1
"akan ku jelaskan saat semua ini selesai"
"baik"
AARRGGHHH!!
jeritan terakhir yang terdengar dari dalam sana, setelahnya tak ada lagi suara yang terdengar, tapi tiba-tiba
brak!!
Jimin membuka pintu dengan keras dan mendorong Hyerin keluar dari ruangan. lebam di sekujur tubuh dan darah yang mengalir dari hidungnya. wajah lebam dan membiru sangat terlihat jelas diwajahnya. wajah cantiknya tak terlihat cantik lagi.
"Jems!" panggil Jimin.
"Yaa Tuan.."
"bawa dia pergi dari hadapanku sebelum mati mengenaskan" Ucap Jimin.
"baik.."
Jems menggendong Hyerin dan membawanya kerumah sakit. Bibi Kim menyusul dengan tas besar persediaan pakaian Hyerin dan si kecil. Jimin tak melarangnya karena mungkin itu perintah Hyerin. wanita ini tau bahwa ia akan berakhir dirumah sakit, maka dari awal ia sudah meminta Bibi Kim menyiapkan semuanya.
"Jeremy.. aku butuh kau untuk membereskan ruanganku" suruh Jimin.
"Yaa Tuan.."
Jimin berjalan pergi menuju kamarnya, Jeremy langsung mengerahkan anggotanya untuk membereskan ruangan itu.
Rumah sakit,
"nyonya Park harus dirawat, luka ditubuhnya bukanlah luka yang ringan. kami harus memantaunya setiap saat agar kondisinya tidak memburuk. aku telah menyuntikkan obat bius agar dia tertidur sementara" jelas dokter.
" baik terimakasih banyak dok" ucap Bibi Kim sembari menggendong bayi kecil. dokter mengangguk dan pergi.
"berikan Tuan muda kecil padaku, biar aku menggendongnya. kau duduklah" ucap Jems.
"terimakasih.."
bibi Kim memberikan bayi itu dan duduk. ia terlihat tenang dan bermain dalam gendongan Jems.
"ibu akan baik-baik saja" ucap Jems pada Tuan kecilnya itu.
hanya ada mereka berdua dirumah sakit untuk menemani Hyerin. Jems telah menelfon dan meminta anggota elit untuk berjaga di luar dan di dalam rumah sakit. agar tidak begitu terlihat mereka menyamar sebagai orang biasa.
"oh? Jems?" suara yang tak asing bagi Jems. ia langsung menoleh dan melihat siapa pemilik suara tersebut.
__ADS_1
"eoh? Tuan Jeon?"