
Devan terus mengawasi Riana, tak sedikitpun terlewatkan dari pandangannya.
"Bukannya tadi dia menangis seperti dunia akan runtuh? Aku sudah membujuknya dengan segala cara agar berhrnti menangis tapi tidak berhenti juga. Ketika pria itu datang entah kemana perginya air mata itu." Gumamnya kesal, sampai Devan tidak sadar air yang dia tuang kegelas sudah penuh.
"Tuan ngapain?" Ninis segera meraih botol di tangan Devan. "Tuan kalau mau berenang di kolam jangan didapur tuan."
"Siapa juga mau berenang, orang mau minum." Devan meninggalkan dapur dengan perasaan kesal.
Di kamar berulang kali Devan mondar mandir tidak jelas di kamar, terus menengok ke arah pintu menunggu Riana datang padanya.
Cicitan pintu terbuka Devan langsung berdiri menyilangkan tangannya didada. Riana menyengeritkan kedua alisnya tidak mengerti dengan ekspresi yang tidak bisa dia jelaskan di wajah Devan.
"Kenapa lama sekali di bawah."
"Karena baru selesai. Kenapa kau ingin sesuatu?" Riana melangkah melewati Devan begitu saja.
"Hanya itu yang kau katakan apa tidak ada yang lain?" Tanyanya sedikit kesal
Riana memutar badannya yang hampir memasuki kamar mandi. "Memang apa? Kalau kau ingin sesuati aku akan buatkan Devan."
"Sebelumnya aku bertanya kenapa lama sekali bertemu dengan artis itu?"
"Kerena baru selesai Devan, dia ingin memakai beberapa jas untuk tampil di acaranya. Kamu ini kenapa sih?"
"Kamu tanya aku kenapa? Kamu meninggalkan aku tadi Riana? Kau pergi menemui laki-laki itu. Dia juga terus tersenyum padamu tadi, aku tidak suka."
Riana menutup matanya berusaha menenangkan dirinya. "Aku kerja Devan, dia tersenyum kerena dia menyukai rancangan aku. Kamu jangan berlebihan deh."
"Mulai besok kamu nggak usah ker..."
__ADS_1
Cup, sebuah kecupan Riana daratkan di pipi Devan
"Papi, maafkan aku meninggalkan mu tadi! Aku hanya menemuinya karena ingin meminta bantuan padaku. Jangan marah ya" Rayu Riana, gadis itu bahkan menappakan pupy eyesnya begitu menggemaskan
Tidak Devan jangan tergoda, kau sedang marah.
"Ri..."
"Sayang" Potong Riana. "Aku merindukan mu" Suara Riana begitu menggoda membuat Devan diam membatu, ditambah sentuhan tangan Riana yang menari diatas dadanya semakin membuat Devan menahan nafasnya.
"Cukup Riana." Suara serak Devan mengentikan gerakan tangan Riana. "Kau yang menggodaku lebih dulu sayang."
Devan mengangkat tubuh Riana keatas ranjang, menunmpuhkan kedua sikunya agar tidak jatuh menindih tubuh istrinya.
"Apa kau sedang menggodaku?"
Riana tersenyum lalu mengalungkan tangannya dileher Devan. "Nggak, kamu- nya yang tergoda sendiri."
Riana mengelus pipi Devan yang penuh bulu-bulu halus. "Sabar..."
"Aku ingin menebus kesalahnku sayang, sewaktu kamu hamil aku tidak disampingmu. Menemani semua proses sapai Zoya lahir." Lirih Devan
"Tidak apa papi, semua sudah berlalu. Saat ini kau disisiku, aku sudah sangat bahagia itu lebih dari cukup." Sejenak Riana berfikir sepertinya ada yang terlewatkan
"Kenapa?"
"Bukannya tadi kamu ingin memberiku uang, mengajakku makan dan menjakku belanja? Mana uanganya?"
"Aku pikir kau tidak ingin tadi sayang."
__ADS_1
"Siapa yang bilang? Uangnya mana?"
"Sayang aku ingin jujur padamu?"
"Apa?"
"Saat ini aku hanya pria miskin berstatus suamimu? Semua uangku masuk di rekeningmu, asetku atas namamu, bahkan saham yang kumiliki juga atas namamu Riana."
Riana mengerutkan alisnya tidak mengerti
"Iya, jadi sekarang aku tidak memiliki apa-apa."
"Terus kenapa mau memberiku uang kalau kamu nggak punya uang Devan?"
"Hemm, aku melihatnya di wikipedia jika wanitamu meangis beri dia uang. Setidak aku mengatakannya akan memberimu uang sayang" Devan langsung memeluk Riana seperti anak kecil
"Kamu pikir aku akan luluh?"
"Ahh?" Seru Devan tiba-tiba
"Ada apa?"
"Kenapa ini semakin besar sayang?" Tangan Devan kini sudah berada ditempatnya.
"Itu karena kamu yang membuatnya besar." Riana melepaskan pelukannya. "Aku mau menghubungi kak Arrian dulu, mungkin mereka sudah sampai."
"Sayang, lalu bagai mana dengan ini?" Telunjuk Devan mengarah ke bawah diikuti mata Riana.
"Kenapa? Dia terlihat sangat baik." Ucap Riana cuek.
__ADS_1
...***...