
"Sayang, bagaimana kalau kita liburan?" Devan meminta pendapat Riana. "Semanjak kita sudah menikah, aku belum pernah membawamu bulan madu atau liburan." Tutur Devan.
Riana langsung menhentikan aktifitas potong buahnya, dia menatap Devan penuh selidik. "Apa kau melakukan kesalahan papi?" Ucapnya.
"Kesalahan? Tidak, memang kenapa?"
"Papi, kau tidak ingat? Aku dua kali pernah mengajakmu liburan tapi selalu menolak. Makanya aku bertanya."
Devan menghelai nafasnya, sedikit ada penyasalan dalam hatinya. "Maafkan aku sayang." Lirihnya.
Riana melettakkan piring dipangkuannya lalu mendekat kearah Devan yang sedang tertunduk. Riana mengangkat kepala Devan lalu mencubit pipi yang mulai berisi itu, sehingga membuat sang pemilik mengeluh kesakitan.
"Aaaa... Sakit sayang"
Tanpa memperdulikan keluh Devan, Riana terus mencubitnya. Bukannya membalas mencubit Riana, Devan malah memeluk mesrah gadis itu.
"Aku mencintaimu Riana."
"Aku tau..." Ucapnya melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, melewatkan kebersamaan kita, maafkan aku belum bisa membuatmu bahagia, maafkan aku... "
"Husss..." Potong Riana. "Tidak ada yang harus dimaafkan papi, kamu berada disisiku dan Zoya saat ini, aku sudah bahagia."
__ADS_1
Devan tersenyum lembut, dia mengecup lembut bibir Riana.
"Kalian sudah selesai?"
Riana langsung berbalik, dia sangat malu saat melihat Arrian berdiri dibelakang mereka.
"Kak Arrian, suka kebiasaan deh." Gerutu Riana kesal.
"Apa salahku? Kalian yang melakukannya aku hanya tidak sengaja melihat." Ucapnya berusaha membel diri.
Devan tersenyum melihat wajah lucu istrinya yang sedang kesal.
"Ada apa Ar? Bukannya lo mau pergi bulan madu?"
"Memang ada apa kak? Apa kak Arian akan lama di sana?" Riana langsung mendekat pada Arrian. "Semua baik-baik saja kan kak?"
"Ada apa dengan mu Riana? Semua baik-baik saja, hanya saja aku ingin mengelola sendiri perusahaan yang pertama kali ayah dirikan di kota itu. Mungkin kakak akan menetep disana Riana." Jelasnya
Wajah Riana seakan protes dengan kepitusan kakaknya. "Kenapa mendadak begini sih kak? Kenapa ngga bicarain dulu sebelumnya."
"Ini kakak udah bicarain sama kamu Riana."
Tanpa sepatah kata Riana meninggalkan ruangan keluarga dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Riana..."
"Biar gue yang bicara sama dia." Ucap Devan sambil meninggalkan Arrian menyusul Riana kekamar.
Riana menoleh saat cicitan pintu terbuka, dengan cepat dia menyapu air mata yang sejak tadi tumpah dipipinya.
"Sayang..." Devan mendekat lalu duduk tepat didepan Riana. "Kamu harus hargai keputusan Arrian, dia juga tidak ingin meninggalkan mu. Tapi pahami lah Riana, saat ini Arrian sudah punya keluarga dan tanggung jawab kamu harus mengerti dengan posisi kakakmu." Jelas Devan
"Aku hanya takut, aku juga tidak mengerti takut ini terlalu mendominan dalah hatiku Devan. Setelah apa yang terjadi, kita kembali bersama dalam satu keluarga dan kak Arrian tiba-tiba mengambil keputusan ingin pergi dan menetap di sana, aku tidak mau Devan. Sudah cukup aku hampir kehilangan kak Ar dan dirimu." Ucap Riana memalingkan wajahnya.
Devan langsung memeluk tubuh istrinya begitu erat, tanpa ia sadari air matanya ikut menetes.
"Maafkan aku sayang, ini semua salah ku. Aku salah meninggalkanmi, andai aku mengabarimu lebih awal tentangku mungkin kau tidak semenderita ini. Maafkan aku Riana."
Riana terisak menumpahkan kesedihann yang selama ini membelenggunya.
"Bolehka aku sedikit egois? Aku hanya ingin kita semua bersama. Aku tidak ingin kehilangan lagi Devan." Ucapnya melemah.
Hanya bercahayakan sinar rembulan lewat kain horden yang terhenpas semilir angin sepoin Devan memandangi wajah Riaan yang sudah terlelap, sesekali dia mengecup punggung tangannya. Diwajah itu masih tersirat kesedihan.
"Ini salahku, maafkan aku sayang."
...****************...
__ADS_1