Promise

Promise
60


__ADS_3

Kali ini Riana harus menelan kekecewaan, saat dia sampai dirumahnya Ar tidak ada.


"Pak Adam, bagaimana keadaan Alia?" Tanya Riana saat menadapati Adam memangkas tanaman bonsai kesayangan Arrian.


Adam mendongak, menatap Riana.


"Berkat Nona Riana, Alia sedang menjalani pemulihan."


"Sukurlah..." Balas Riana dengan senyuman.


"Sayang" Devan menghampiri Riana lalu memeluk mesrah pinggangnya.


Adam cepat-cepat membuang wajahnya, dia kembali menyibukkann dirinya.


"Kenapa? Kau ingin makan?" Tanya Riana dijawab anggukan oleh Devan.


Entah, Devan tidak suka saat Adam memandang istrinya tatapan itu penuh cinta yang mendalam.


"Kau ingin makan apa?" Tanya Riana seiring dengan langkahnya


"Apapun itu sayang, kan aku sudah bilang aku akan makan apapun jika mau yang memasaknya." Ucap Devan.


Disisi lain Adam yang tadinya sibuk dengan gunting ditangannya hanya bisa menunduk, melihat gadis yang selama ini dia sukai dalam diam bahagia bersama pria lain.


Menyukaimu sama sekali bukan rencanaku, terlalu banyak kata 'andai' mengitari otak dan hatiku yang hanya menjadi penyesalan. Adam


#


"Devan, kamu kenapa sih? Dari tadi aku tanya jawab 'hmmm' doang? Kamu marah?" Tanya Riana menatap penuh selidik wajah suaminya


"Gak"


Riana menghembuskan nafas berat, dia menangkup kedua pipi pria yang sejak tadi cembeerut seperti bayi.


"Kalau aku ada salah kamu bilang! Jangan diam seperti ini, jika kau terus diam itu akan membuat hubungan kita semakin renggang sayang." Tutur Riana lembut dia mengukang apa yang Devan katakan tempo hari.


Devan mendongak menatap bola mata hitam pekat istrinya. Betapa takutnya dia jika harus kehilangan cintanya, Devan tidak menyangka begitu mencintai gadis yang dia nikahi karena perjodohan sahabatnya.

__ADS_1


Devan mengangguk pelan bak bayi kecil "Sekarang bilang sumiku ini kenapa?"


"Aku cemburu" Lirihnya


"Cemburu?" Riana menautkan alisnya tidak mengerti "Cemburu karena apa?" Ulang Riana


"Aku cemburu melihatmu bersama Adam"


"Ha?"


"Iya, aku tidak suka dia memandang mu seperti tadi. Tatapan seakan ingin memilikki dan mengambilmu dariku"


Riana menahan senyumnya. "Tidak akan ada yang akan mengambilku dari mu sayang, hatiku sepenuhnya menjadi milikmu." Riana menarik pria dewasa itu kedalam pelukannya.


"Kau memanggilku sayang?"


"Hemmm... Karena kau memang sayangku" Lirih Riana terus mengelus lembut kepala suaminya.


"Panggil aku seterusnya seperti itu" Devan mengeratkan pelukannya meresapi aroma tubuh wanitanya begitu mendalam.


......................


"Iya sayang aku sudah dijalan" Ucap dengan nada lembut. Teruntuk gadis yang selalu dia rindukan disebrang saluran sana.


"Mau kopi? Dengan somai?"


Devan tersenyum mendengar permintaan istrinya, apa ini tanda-tanda akan ada kehidupan baru didalam perut Riana. Devan langsung mematikan sambungan telpon dan mulai mancari apa yang istrinya inginkan.


"Vano?" Dia refleks berbalik saat namanya dipanggil. Senyum yang sejak tadi mengukir wajahnya lenyap seketika.


"Kamu minum kopi juga? Setauku disini tidak ada kopi mint kesukaan mu"


"Ini untuk istriku."


Senyum Lunar bak tettelan bumi gadis itu kembali menatap sendu wajah Devan.


"Sepertinya kau sangat mencintainya." Tutur Lunar berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Hemm... Maaf Lunar aku buru-buru Riana pasti sudah menungguku." Langkah Devan harus terhenti saat Lunar menahan pergelangan tangannya.


"Vano, setidaknya biarkan aku menjadi temanmu." Tutur lunar dengan raut wajah sendu.


"Istriku tidak akan menyukainya Lunar." Devan berbalik melanjutkan langkahnya dia juga melepas jas yang tadi sudah Lunar sentuh . Lunar menaatap punggung pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya , atma-nya meringis seiring dengan itu air matanya ikut jatuh.


Lunar melangkah dengan tatih memasuki kediamannya, mata sembab tatapan kosong mengundang tanya.


"Aaaaa..." Teriak Lunar meluapkan kesedihannya. Alam seakan menghukumnya dulu dia dengan angkuhnya meninggal kan Devan bersam pria yang jauh lebih kaya darinya dan pada akhirnya dia sendiri terluka.


Isak tangisnya menggema begitu nyaring hingga Rey dan Mia menerobos kekamar gadis itu.


"Lunar kau kenapa?" Gadis berparas Asia itu memeluk erat tubuh kakak sepupunya.


"Mia... Aku kalah Mia, Vano tidak mencintaiku lagi" Tangis Lunar kian pecah dalam pelukan gadis cantik itu.


Mia hanya bisa mendekap tubuh kurus kakak sepupunya, nyatanya gadis itu tahu segalanya tentang hubungan Lunar dengan Devan, bagaiman Lunar meninggalkan Devan yang begitu tulus mencintainya.


"Sudah mbak, kak Vano udah bahagia sekarang, mbak Lunar juga harus mencari kebahagiaan mbak sendiri tanpa menghancurkan kebahagian kak Vano lagi."


"Tidak Mia, jika aku tidak bisah memiliki Vano maka gadis itu pun sama dia juga harus kehilangan Vano." Tegas Lunar.


"Cukup mbak! Apa mbak nggak ingat? Mbak sendiri yang ninggalin kak Vano bersama pria brens*k itu. Selama ini kak Vano begitu menderita karena ulah mbak Lunar dan disaat dia sudah menemukan kebahagiaannya bersama kak Riana mbak Lunar ingin menghancurkannya lagi."


Rey yang sejak tadi hanya diam tampak kaget mendengar nama Riana.


"Kau tahu gadis itu?" Lunar mendongak menatap tajam Mia.


"Hemm... Selama ini aku selalu mengawasi kak Vano, apa mbak pikir selama ini aku tenaang setelah mbak Lunar meninggalkannya? Aku selalu dihantui penyesalan mbak, andai hari itu aku tidak memaksa mbak Lunar berpura-pura menjadi aku saat ayah menjodohkan ku dengan Jey kalian pasti masih bersama. Ini salahku mbak." Tutur Mia, menundukkan kepalanya penuh penyesalan.


"Kumohon mbak, jangan gangguk kak Vano lagi biarkan dia bahagia dengan kak Riana." Mia menangkup kedua tananga Lunar memohon.


Lunar, membawa Mia kedalam pelukannya "Ini bukan salah mu Mia, semua salah mbak. Sudah jangan menagis lagi."


Jadi benar gadis yang dinikahi Devan adalah Riana? Kenapa harus pernikahan yang menjadi penghalang diantara kita Riana? Rey


......................

__ADS_1


__ADS_2