Promise

Promise
88 (P5)


__ADS_3

"Ri, semua baik-baik saja kan?" Tanya Zacky mulai khawatir. "Aku akan tetap disini, memastikan kalau kalian baik-baik saja." Zacky bersikeras untuk tetap berada disana.


"Zacky, please." Ucap Riana melemah dan tatapan senduhnya.


Meski berat Zacky menuruti keinginan Riana, dia paling tidak bisa menolak jika gadis itu meminta sesuatu padanya. Dengan cepat Zacky keluar dari pintu, sebelum dia benar-benar pergi Zacky menghentikan langkahnya dan berbalik. "Aku ada di lobi. Jika terjadi sesuatu kamu hubungi aku!" Riana mengangguk pelan dan Zacky benar-benar meninggalkan merek berdua.


"Mo, jangan buat gue bertanya-tanya seperti ini! Memangnya apa yang tejadi sih?" Riana menuntun Momo untuk duduk dan memberikan sebotol air mineral untuknya.


"Ri !!! Devan, Ri..." Momo kian terisak


"Mo.. Momo!" Riana mengguncang tubuh Gadis itu agar dia kembali ke akal sehatnya. "Tenangin diri lo! Sebenarnya ada apa sih? Lo buat gue khawatir tau nggak."


"Ri... Devan masih hidup." Jerit Momo seraya memeluk erat tubuh Riana.


Shok, itulah Riana rasakan saat ini. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat Momo melontarkan kata yang selama ini Riana harapkan dan bagian doa yang selama ini dia gemakan di penghujung malam.


Tidak ingin merasa kecewa Riana berusaha menyangkal sesuatu yang dia harapakan selama ini, senyumnya seakan menahan sesuatu.


"Mo, cukup jangan buat gue ngeharap sesuatu yang mustahil. Selama ini gue udah...? Gue udah..?" Riana menggantung ucapannya, dia membuang pandangannya jauh.


Momo memaksa Riana menatapnya. "Ri, lihat mata gue! Apa gue seperti orang yang lagi bohong?"

__ADS_1


Riana terdiam sejenak lalu menggeleng. "Kalau emang Devan masih hidup, kenapa selama ini dia nggak nemuin gue Mo? Udah cukup selama ini gue udah menderita Mo, gue udah nggak mau berharap lagi dengan sesuatu tidak mungkin."


Momo menarik paks tangan Riana dan memberikan secarik kertas. " Lo bisa datang ke rumah sakit itu dan ngejawab semua yang ada di hati lo."


Riana terdiam masih memegang secarik surat yang Momo berikan, jujur dia tidak sanggup kecewa. Terlalu banyak ketakutan membelenggu di hati Riana.


"Devan kenapa kau begitu kejam padaku?" Batinnya.


...***...


Momo terduduk lesu di sebuah taman pusat kota, sesekali dai menghembuskan nafasnya berat. Jauh-jauh dia ke negara ini untuk menyaksikan konser BTS namun dia kehabisan tiket.


"Tidak apa Momo... Uahhhhh Kim Taehyung" Teriaknya membuat burung merpati berterbangan karena suara Momo begitu kencang.


"Ya, kau gadis aneh itu kan?" Momo membalikkan badannya saat mendengar suara yang sangat dia kenal. "Kau menangis?" Tanya Angga mulai mendekat.


Momo berusaha menyembunyikan kesedihannya tapi sial air matanya terus berjatuhan hanya perkara kehabisan tiket konser.


"Kau kenapa? Apa penduduk disini menyakitmu?" Tanya Angga kian mendekat ke arah Momo.


"Jangan lihat aku dokter aneh!" Bentak Momo.

__ADS_1


"Okey.. Okey...! Kalau begitu berhenti menangis wajahmu kaya kentang rebus sekarang" Ucapnya sedikit menjauh.


"Kentang rebus?" Teriak Momo kian membulatkan matanya menatap ke arah Angga.


"Hey, aku hanya bercanda. Jadi katakan kenapa kau menangis ditengah taman siang bolong begini? Jangan bilang kau menangis gara-gara pria, itu sangat..." Angga menghentikan ucapannya saat Momo menatap tajam ke arahnya. "Wahh..." Ucapnya takjub


"Memang selah menangis untuk seorang pria jika kau menyukainya ha? Terlebih jika kau jarang bertemu dengannya." Tanpa Momo sadari air matanya kembali menetes.


"Meski kau menangis sehari semalam tidak akan mengubah apa-apa kan? Berpikirlan sedikit logis Momo." Tutur Angga.


Momo menghela nafasnya panjang. "Kau benar, menangis seharian disini tidak ada gunanya. Aku tetap kehabisan tikat"


Angga memutar kepalanya menatap Momo penuh tanya. "Tiket? Bukannya kau menangis karena seorang pria?"


"Hemm... Hanya tiket itu jalan satu-satunya aku bertemu dengan ke tujuh pria yang membuatku menangis disini."


Angga berpikir sejenak dan mengeluarkan sebuah tiket dari saku jasnya. "Apa tiket ini yang kau maksud?"


Momo membulatkan matanya saat melihat benda melebihi sebongkah berlian yang kini terpampang nyata di depannya. "Bbbb... Bagai mana kau tau? Ahh tidak bagaiman kau mendapatkannnya?" Tanya Momo masih memfokuskan pandangannya pad tiket itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2