
Langit sore ini begitu indah setelah seharian hujan turun begitu derasnya. Riana dan Momo dengan hati-hati berpijak diatas tanah menyusuri setiap pusarah hingga mereka sampai di makam Hendry.
"Hay Hen gue ama Riana dateng nih. Sorry baru sempat ngujungin lo." Ucap Momo, dia masih sibuk menaburkan bunga diatas pusara sahabatnya itu.
"Sorry Hen gue belum bisa bawa Zoya kesini, tapi gue janji sutu saat nanti gue bakal bawa keponakan lo. Dia itu cantik banget kayak gue. "
"Boong Hen, Zoya lebih mirip Devan. Nggak ada sedikit pun waja Riana disana." Timpal Momo.
"Diem nggak lo!" Ucap Riana mencubit lengan Momo. "Nggak kerasa ya udah enam taun lo ninggalin kita, gue rindu banget sama lo. Tau nggak Hen, cewek bucinnya BTS ini jadi ipar gue terus dia nikah kayak udah hamil diluan tau. Mendadak banget, gue udah kayak tante-tante rempong tau nggak." Momo terkekeh kecil.
"Hend gue rindu banget sama lo, disaat gue butuh tempat curhat atau masukan nggak tau kemana. Mau ke Riana masalah dia jauh lebih ganas dari pada guue."
Kedua gadis itu terkekeh meski air mata mereka masih tumpah.
"Hend, gue ama Riana pamit dulu ya.! Mungkin kedepannya gue bakal jarang nemuin lo. Lo baik-baik ya disana, maaf kemarin gue juga ngambil beberapa lembar uang di tabungan lo buat beli album BTS. Lo nggak marah kan?" Ucap Momo.
Riana maju selangkah, menunduk membisikkan sepenggal Doa untuk Hendry. Semua sudah tercatat di garis kehidupan kita sebelum memijakkan kaki keduni ini.
Momo dan Riana saling bergadengan meninggalkan pusara Hendry, wajah mereka terus mengukir senyum. Persahabatan yang masih terjalin sampai sekarang meski hanya tinggal nama diatas nisan.
...***...
"Kak Ar, janji hubungin Riana! Sesibuk apupan kalian." Lirih Riana masih enggan melepas pelukannya.
__ADS_1
"Iya kaka janji Riana."
Riana melepas pelukannya, beralih pada Momo. "Mo, baik-baik lo ya. Gue percaya lo bisa jagain kakak gue."
"Bukannya kata-kata itu cocok untuk abang Ar, Ri? Badangue kecil masa iya suruh negajain orang besar kayak dia."
Arrian mendekat ke arah Devan, disana Zoya terus menyembukan wajahnya di balik pundak ayahnya.
"Zoya... " Arrian menyentuh pundak gadis kecil itu berharap dia berbalik. "Zoya papa Ar, janji akan ngunjungin Zoya. Papa Ar akan beliin Zoya rumah barbie yang gede."
Rayuan itu berhasil meluluhkan hati Zoya, dia tersenyum lalu menaikkan jari kelingkingnya.
"Pomise"
Setelah kepergian Arrian dan Momo, Riana belum juga berhenti menangis. Devan sudah kehabisan akal membujuk istrinya.
Devan harus sampai membuka wikipedia mencari cara agar wanita berhenti sedih. Beri wanita-mu uang, ajak belanja, ajak makan, belikan barang yang dia suka. Itu tidak berhasil pada Riana.
"Sayang, udah dong nangisnya. Aku harus bagaimana supaya kamu berhenti menangis?" Ucap Devan ditengah keputus asaannya.
Devan menghembuskan nafasnya gusar, dari luar terdengar ketukan pintu. Devan segera berjalan membukanya.
"Ada apa?" Tanyanya pada salah satu pelayan rumahnya.
__ADS_1
"Tuan di bawa ada artis. Katanya mau ketemu nyonya Riana." Ucapnya
"Artis? Kenapa bisa ada artis dirumahku?" Devan melirik Riana yang sudah duduk disisi ranjang. Melangkah lalu mengikat rambutnya.
"Siapa Nis?"
"Itu Nya artis yang sedang naik daun Heris Mahendra." Ucapnya penuh kekaguman. "Nyonya bisa mintain tantangannya soalnya neng fans banget sama dia."
"Ada-ada aja kamu Nis, ya udah kamu suruh dia nunggu sebentar aku cuci muka dulu."
"Iya Nya."
Langkah Riana terhentinsaat Devan menarik pegerlangan tangannya.
"Siapa itu Heris? Jangan bilang kamu main api dibelakangku Riana." Selidik Devan
"Apa sih, dia itu artis ibu kota."
"Terus ngapain dia kerumah kita, nagpain cariin kamu segala?"
"Kamu lupa kalau aku ini desainer? Mungkin dia datang mau bikin baju." Ucap Riana, melepas genggaman suaminya.
"Awas ya kalau macam-macam" Ancamnya yang tidak di gubris Riana.
__ADS_1
...****************...