
***
Sinar mentari menyapa bumi begitu cerah, Riana sejak pukul lima pagi sudah bergelut didapur menyiapkan sarapan untuk suami dan gadis kecilnya. Pancake buatannya begitu sempurnah dipadukan dengan lelehan madu diatasnya.
Riana berulang kali mengedipkan matanya kala melihat Devan sudah rapi, biasanya pria itu masih terbungkus dengan selimut jika jam segini.
"Tumben udah mau berangkat jam segini." Ucap Riana, memunguti pakaian Devan yang berserakan dilantai.
"Hem, hay sayang... Maaf aku lupa memberi tahu mu, pagi ini aku harus keluar kota. Tidak apa kan aku meninggalkan mu untuk seharian ini."
"Cih, aku sudah biasa jangan kan sehari kau meninggalkanki bertahun-tahun pun aku sanggup" Ucap Riana pelan tapi sangat jelas Devan mendengarnya.
Devan tersenyum kecil mulai mendekat pada Riana. "Apa kamu marah?" Ucapanya memeluk Riana dari belakang.
"Tidak."
"Maafkan aku sayang, semalam aku lupa meberitahumu. Aku janji setelah semua pekerjaan ini selesai aku akan secepat mungkin kembali padamu." Bisiknya, sensasi nafas Devan mengenai kulit leher Riana membuat gadis itu meras geli.
"Aku hanya takut jika..."
"Tidak, itu tidak akan terjadi lagi. Selamanya kita akan bersama."
Riana memutar badannya, lalu mengalungkan tangannya ke leher Devan.
"Jangan khawatir kan apa-apa lagi Riana." Riana mengangguk kemudian mengecup pipi Devan.
Devan seakan terhipnotis, setiap Riana berinisiatif menciumnya jantung Devan berdegub lebih cepat dari biasanya.
"Apa yang ingin kamu bawa? Aku akan menyiapkannya." Ucap Riana melepaskan pelukannya. "Kenapa?" Tanya Riana lagi, melihat Devan terus menatapnya.
__ADS_1
"Riana..." Ucap Devan pelan.
"Hemm..." Dia menatap Devan yang tengah mengada menatapnya juga.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu"
Riana mengerutkan keningnya. "Basi, turun sekarang kita sarapan! Aku ingin membangunkan Zoya dulu." Ia langsung meninggalkan Devan dikamar itu.
"Sayang aku serius..." Devan mengejar Riana yang hampir mencapai pintu kamarnya. Dengan cepat dia menarik pinggang Riana kemudian menggedongnya ke atas ranjang. Devan mengunci kedua pergelangan tangannya sehingga mata mereka bertemu.
"Devan, kamu kenapa sih?" Keluhnya berusaha melepaskan kukungan pria gila ini.
Perlahan wajahnya mulai mendekat membuat Riana melotot. "Kkkk... Kau mau apa ha?"
"Menurutmu?" Devan kian mendekatkan bibirnya ingin mengecup bibir sensul yang selalu berhasil menaikkan hasrat kelakiannya. Hanya beberapa inci saja bibir mereka bertemu, cicitan pintu terbuka membuatnya mengeram kesal.
"Papa... ! Gara-gara papa aku tidak jadi memberikan mu cucu lagi." Sungut Devan merubah posisinya menjadi duduk.
"Maafkan papa Devan. Lanjutkan projek kalian! Papa harap kau berhasil membuat dua sekaligus cucu untuk papa." Seiring dengan itu Heri meninggalkan mereka berdua.
"/Aaaaa...." Teriak Riana.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Devan begitu cemas.
"Kamu tanya kenapa? Hey papa tadi melihat kita Devan, aku sangat malu. Apa kau tidak malu ha?" Ucap Dewi setengah berteriak.
"Tidak. Jangan malu sayang, kita tidak melakukan dosa besar kok." Goda Devan.
"Terserah..." Riana keluar dengan kekesalan sudah setinggi gunung. Semakin lama diaa berada dikamar itu bisa-bisa Riana mencincang tubuh Zain lalu menjadikannya makanan ikan dibelakang rumah.
__ADS_1
Devan ikut bergabung dimeja makan bersama keluarganya, dia langsung mengambil Zoya dari pangkuan Heri.
"Sejak kapan papa disini? Tanya Devan, mengingat mereka saat ini berada dirumah Arrian.
" Sebelum papa mengganggu aktifitas kalian."
Wajah Riana mulai memerah dan memanas, ingin rasanya dia menenggalamkan dirinya di dalam laut.
"Aktifitas apa tuan Heri?" Tanya Arrian ikut bergabung dengan mereka di meja makan.
"Arrian, kau belum menikah jadi belum mengetahuinya. Jadi saranku cepat-cepat akhiri masa lajangmu itu, jika kau ingin aku akan mengenalkan mu dengan anak rekan bisnisku." Ucap Heri
Arrian tersenyum simpul. "Tidak perlu tuan Heri, aku sudah memiliki gadis pilihan dan aku akan segera menikahinya."
Riana menatap Arrian penuh tanya begitupun dengan Devan.
"Serius? Kak Ar akan menikah? Dan siapa gadis itu?" Pertanyaan Riana berurutan hanya dijawab dengan senyuman.
"Wah... Diam-diam kau menghanyutkan juga Ar." Ucap Devan penuh kekaguman pada sahabatnya itu.
Bersmbung...
Devan
Riana
__ADS_1