Promise

Promise
71


__ADS_3

"Riana lihat aku!" Devan menarik lengan Riana lembut hingga mau tidak mau gadis itu berbalik menatapnya. Pandangan keduanya saling beradu seketika hening menyelimuti mereka berdua


"Kenapa? aku sudah melihatmu."


"Riana kamu marah sama aku?"


Cih... Menurut mu.


Riana kembali diam, Devan mengacak rambutnya ftustasi sebab dia tahu jika istrinya ini paling tidak suka jika sudah menyangkut mantan kekasihnya, apakah semua cewek juga seperti Riana? Sekarang itu tidak penting kau belum menjinakkan macan betina mu Devan.


"Sayang, jangan seperti ini! Marah jika kau marah. Lunar dan sepupunya butuh tumpangan ban mobilnya bocor kebetulan kita searah."


Riana menahan senyumnya, bagaimana bisa wajah sangar itu bisa tampak menyedihkan seperti ini?


"Aku tidak apa Devan."


"Riana, melihat mu diam seperti tadi aku benar-benar frustasi. Aku lebih memilih lau memukulku, memarahiku, atau menamparku selama itu membuatmu baikan. Jangan diam seperti ini sayang"

__ADS_1


"Apa aku seperti berbohong? Aku tidak apa-apa, kau sudah menjelaskannya dan aku tidak mempermasalahkannya." Ucanya penuh penekanan.


Sejenak Devan menatap kedalam mata Riana. "Oke kalau begitu kita pulang kerumah."


Devan langsung melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Devan melirik ponselnya yang bergetar dan langsung mengangkatnya.


Riana melirik sejenak lalu kembali membuang wajahnya keluar jendela pikirannya sudah berkela jauh entah kemana. Hingga suara Devan yang sedikit aneh membuyarkan lamuannya.


"Kenapa? Kamu nangis? Apa ada sesuatu terjadi?"


Devan menggeleng matanya masih berkaca namun senyumnya begitu damai. "Tidak apa sayang."


Riana memepercepat langkahnya masuk ke rumah tanpa menunggu Devan lagi, tujuannya adalah kamar kepalanya bertambah sakit saat tiba dirumah. Seakan bertemu air di tengah gurun saat Riana melihat kasur tanpa menunggu lagi dia membaringkan tubuhnya disana merentangka semua otot-ototnya terasa tegang.


Devan hanya tersenyum kecil melihat tingkah Riana saat keluar dari kamar mandi. Tanpa aba-ava Devan menyusupkan tangannya di balik baju Riana, mengelus lembut perut yang masih rata.


"Devan, ngapain sih?" Jerit Riana.

__ADS_1


"Diam! Aku hanya ingin menyapa anakku Riana." Tentu gadis itu kaget.


Riana bangkit dari tidurnya lalu menatap Devan penuh tanya.


Devan tersenyum namun matanya berkaca-kaca "Aku akan jadi ayah kan? Didalam sini ada anak aku kan?" Devan kembali menyentuh perut Riana.


Riana mengangguk pelan, tangannya menyentuh lembut pipi suaminya. "Iya, aku hamil dan didalam sini ada anak kita." Ucapnya lembut.


Devan langsung membawa Riana kedalam dekapannya dia sudah tak kuasa menahan tangisnya , akhirnya Tuhan menjawab doa-doanya


Riana melepaskan pelukannya, menatap lekat suaminya "Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?"


Devan menggeleng dia memberi jeda agar nafasnya bisa stabil. "Tidak sayang, aku sangat bahagia! Akhirnya aku akan jadi ayah, didalam sini ada buah cinta kita Riana, anak kita kan sayang."


Riana tersenyum, dia tidak menyangka jika Devan sebahagia ini mendengar kehamilannya. "Iya sayang aku hamil, kamu akan jadi ayah." Ucapnya lirih.


Saking bahagianya pria bertubuh jakung itu sujud syukur atas karunia yang Tuhan berikan. Dia langsung menghubungi felix agar berdonasi keseluruh panti asuhan di kota ini.

__ADS_1


Tak kala bahagia, Lily dan Hery langsung kembali ke ibu kota setelah mendengar kabar kehamilan Riana, tak tanggung-tanggung calon nenek itu mmembelikan hadiah untuk menantu dan calon cucunya.


......................


__ADS_2