
*
Ini mungkin terlihat konyol di musim panas begini Riana memakai baju dengan ribs karet tinggi menutupi seluruh lehernya. Apa lagi? Ini semua menutupi kemerahan dilehernya karena ulah Devan.
"Sayang, apa kau tidak panas menggunakan pakaian seperti itu?" Devan menghampiri istrinya yang sudah rapi. Mendengar itu Riana sungguh kesal, ini semua karena ulah pria ini dan dia masih memprotes pakaiannya.
"Mau bagaimana lagi? Ini karena ulahmu."
"Ah... Bekas itu? Kenapa kau disembunyikan? Padahal aku ingin memamerkannya jika kau adalah milikku"
Riana menggeleng tidak mengerti apa suaminya ini masih waras. Kau bisa mengatakan pada seluruh dunia jika aku milikmu dengan cara yang lebih masuk akal bukan dengan stempel yang kau buat.
"Hari tidak perlu kekantor, temani aku ke mall pusat kota! Aku ingin memeriksa beberapa laporan disana." Ucap Devan.
"Tapi aku..."
"Jangan menolak Riana! Atau kau ingin tetap dirumah seharian, menghabiskan waktu hanya berdua bersama suami mu tercinta?"
"Oke mari kita ke mall! Aku juga ingin membeli sesuatu disanan"
Senyum kemenangan Devan mengambang saat Riana menarik tangannya terlebih dahulu.
...*...
Devan memarkirkan mobilnya di area parkir khusus VIP. Disana sudah ada Felix menunggu kedatangan bosanya. Devan turun dari mobil diikuti Riana.
"Selamat datang pak Devan dan nona Riana" Felix menyambut kedua tuannya dengan hormat. Riana hanya membalas dengan senyuman sedangkan Devan jangan ditanya lagi ! Wajahnya tetap datar seperti biasanya.
"Jangan tersenyum padanya! Senyum Itu hanya milikku" Devan mengaktifkan tatapan tajamnya ke arah Riana
__ADS_1
Felix mengerutkan alisnya, sudah sangat lama dia tidak melihat sahabatnya itu cemburu akut seperti ini. Felix mengambil kesimpulan jika Devan benar-benar telah melupakan cinta lamanya.
Devan merangkul istrinya masuk kedalam lift diikuti Felix. Didalam lift Devan terus memeluk pinggang istrinya sesekali dia juga mengecup mesrah pipi Riana.
"Kak Devan, apa yang kau lakukan? Felix melihat kita" Bisik Riana.
Devan berbalik kebelakan menatap Felix.
"Felix, lo liat sesuatu?" Tanya Devan.
"Tidak pak" Jawabnya singkat
Riana mengeram kesal, yang benar saja pria aneh itu tidak melihatnya? Jelas-jelas dia berdiri tepat dibelakangnya.
"Lihat! Dia tidak melihat kita sayang"
Felix yang melihat fenomena ini terlihat takjub, senyum meledek terukir begitu saja.
Devan susi, suami takut istri wahahahaha rasain, katanya enak kalau udah nikah. Makan tu enak. Sorak Felix dalam bantinnya.
Devan yang melihat senyuman Felix menatap tajam sekertarisnya itu. Felix segera menetralkan kembali wajahnya namun masih ada senyum tertahan diwajahnya.
Sudah hampir sejam Riana menunggu Devan selesai namun tidak ada tanda-tanda pria itu keluar dari bilik pintu didepannya. Sambil menunggu Devan selesai dengan kerjaannya Riana memutuskan menngelilingi toko-toko yang ada di mall itu.
Sesuatu menarik perhatiannnya, kerumanan orang disalah satu toko pakaian branded disana. Riana perlahan mendekat dan memecah kerumuanan itu. Hatinya meringis saat melihat gadis yang sangat dia kenal menagis tersedu berlutut dihadapan banyak orang. Pipinya memerah dan ujung bawah bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Tanpa Riana sadari buliran bening dari pelupuk matanya lolos begitu saja.
"Hey apa yang kalian lakukan?
Riana membelah kerumunan saat kedua security menarik paksa tangan Momo . Sontak gadis dengan kupluk hitam dikepalanya menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Riana" Lirih Momo
"Sekali lagi kalian menyentuh gadis itu, tidak. Sehelai rabut gadis itu kalian sentuh, aku pastikan kalian akana emnyesal seumut hidup." Riana melangkah dan menarik Momo ke sisinya. Masih berurai air mata Riana merapikan rambut Momo yang acak-acakan. Hatinya sakit melihat sahabat baiknya itu penuh lebam diwajah cantiknya.
Momo tersenyum seakan gadis itu mengatakan dia baik-baik saja.
Seorang gadis dengan rambut panjang memiliki postur tubuh tinggi kira-kira 170 cm mendekati Riana. Gadis itu sejak tadi duduk tenang melihat adegan menyedihkan ini, kini berada didepan Riana dengan senyum seakaan merendakan kedua gadis cantik itu.
"Apa kau teman dari PSG ini?" Ucapnya dengan senyum merendakan. Riana masih menatap datar gadis itu, ingatannya kembali membentur dia tahu gadis ini, ya gadis yang dicium mesrah Devan dalam foto itu.
Bukan kah dia gadis itu?
"Apa yang dia perbuat gadis ini, sampai-sampai kalian memperlakukannya sekasar ini?" Suara Riana bergetar menahan sesuatu yang sebentar lagi akan meledak.
"Gadis miskin ini menjatuhkan tas mewah yang akan aku beli" Lunar menunjuk kearah tas merek H tergelatak di lanta "Kau tahu harga tas itu sangat mahal dan dia tidak bisa mengganti ru..."
Riana mengabaikan lunar dia melangkah mengambil tas seukuran telapak tangan keluaran brand terkenal..
"Dia hanya menjatuhkan ini, dan kalian memukulnya sempai seperti ini?"
"Itu bukan tas murah nona bahkan dengan gaji mu lima tahun tidak bisa membeli tas ini." Ucap sang manager yang ikut dalam barisan Lunar.
Brukk... Riana menghepas tas itu kelantai, sontak memberikan reaksi keseluruh mata yang melihatnya. Bahkan Lunar yang tadinya tenang ikut berekasi. Lebih kagetnya saat Riana menginjak tas bergarga fantastis itu, Momo menariknya agar kegilaan sahabatnya itu berhenti dia tahu bahkan puluhan tas seperti itu mampu Riana beli tapi mengijaknya ahhh kan sayang.
"Apa yang kau lakukan." Bentak Lunar wajahnya sudah merah padam, harga diri gadis itu seakan terinjak-injak. Lagi-lagi Riana mengabaikannya.
"Berapa harga tas ini? Aku akan membayarnya." Ucap Riana. Salah satu pegawai wanita toko itu mengambil struk. Riana menyerahkan kedua atmnya, sejujurnya Riana sedikit degdegan saat menyerahkan atam yang Devan berikan mana tahu tidak cukup pasti dia sangat malu.
......................
__ADS_1