Promise

Promise
99


__ADS_3

Gadis itu terus menyembunyikan wajahnya didada bidah Arrian, dia begitu malu mengingat kejadian yang baru saja mereka lalui bersama.


"Sayang sampai kapan kamu terus bersembunyi didalam situ?" Ucap Arrian dengan nada begitu rendah.


"Sayang." Ucapnya seraya mengangkat dagu Momo


Kedua mata itu kembali sali beretemu, tatapan Arrian selalu berhasil menghipnotis Momo sampai dia tidak sadar bibir mereka saling menyatu.


"Abang..."


"Huss... Jangan bicara, dan ikuti saja." Bisik Arrian penuh gelora, mereka kembali saling memanut dalam dahaga. Arrian mendekap Momo erat, menyesap aroma tubuh wanita itu sedangkan Momo memeluk leher pria itu. Memasrahkan diri untuk yang kesekian kalinya pada lelaki yang sudah bertahta dalam hatinya.


Arrian kembali membawa Momo kedalam satu irama, dalam satu pilu indah memadu cinta yang sudah di halalkan. Sampai desahan pajang menandankan untuk ke tiga kalinya Arrian menumpahkan benihnya, berharap segera tumbuh benih cinta mereka disana.


Malam yang indah untuk kedua pasang pengantin baru itu, tapi tidak untuk Riana dua jam berlalu dia masih belum membuju Devan yang sedang cemburu akut.


.


"Sayang kamu masih marah?"


Riana sudah tidak tahan dengan sikap suaminya yang terlihat kekanak-kanakan.


"Devan, aku dan Zacky nggak ada hubungan apa-apa." Tegas Riana menghadap ke arah Devan, kalimat itu terucap untuk ke dua belas kalinya.


"Hemm... "


"Mau kamu apa sih? Kamu kok nggak percaya benget sih sama istri sendiri.?" Ucap Riana kesal.

__ADS_1


"Memang nggak percaya siapa? Udah nggak usah dibahas lagi."


Riana memutar matahnya begitu kesal. "Terserah." Ucapnya lalu meninggalkan Devan di ruang kerjanya.


Setelah Riana keluar Devan memutar badannya, memastikan jika gadis pemarah itu benar-benar pergi.


"Wah... Tadi itu sangat menakutkan." Devan menghembuskan nafasnya begitu lega.


Setelah semua pekerjaannya selesai Devan menuju kamarnya, saat masuk dia begitu panik tidak melihat Riana disana. Dia mendekat ke arah kamar mandi, memutar knop pintu disana juga Riana tidak ada.


"Sayang..." Panggilnya


"Sayang.. Kamu diamana?" Devan menuruni tangga dan menyalakan lampu di ruang tengah.


"Happy brithday papi" Teriak Rina bertepatan saat lampu menyala. "Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun papi Zoya, selamat ulang tahun." Riana berhenti tepat didepan suaminya. "Tiup lilinnya, jangan lupa berdoa." Pinta Riana, Devan memejamkan matanya bersamaan dengan itu setetes air matanya jatuh. Sepersekian detik Devan meniup lilinnya lalu menarik Riana kedalam dekapannya.


"Jangan lakukan itu lagi, jangan pergi kemana pun jika tidak memberitahuku." Lirih Devan kian mengeratkan pelukananya. "Jika aku memanggilmu, kau harus menyahut. "


"Hem..."


Devan melepaskan pelukannya, menatap Riana begitu dalam. Pelan dia mendekatkan wajahnya sampai bibir mereka benar-benar menyatu.


"Maafkan aku Devan! Soal tadi, Zacky hanya menyapa ku saja."


"Aku yang harus minta maaf sayang." Tanpa kesiapan Riana, Devan mengangkat tubuh Riana.


Riana menatap Devan penuh tanya. "Mau ngapain lagi? Ini udah tengah malam Devan."

__ADS_1


"Menurutmu?" Devan kembali mencium Riana begitu lembut. "Aku ingin membuatkan adik untuk Zoya." Bisiknya.


Pelan Devan menidurkan Riana diatas sofa, perlahan dia juga menurungkan tubuhnya sampai akhirnya bibir mereka kembali bertemu. Riana tak sedikitpun menolak dia bahkan lebih agresif dari pria yang berkuasa atas diriny.


Begitu cepat Riana menahan tangan Devan saat pria itu mulai menjelajah dia atea sensitifnya.


"Kenapa Riana?"


"Jika kau menginginkannya, ayo kekamar." Riana berusaha bangun dari tidurnya tapi Devan langsung menahannya.


"Memang kenapa? Disini hanya kita berdia, bibi dirumah sedang sibuk membereskan pernikahan Arrian. Zoya, bersama mama dirumah, hanya kita berdua disini sayang." Devan kembali mengecup pipi Riana.


"Nggak... Dikamar atau tidak sama sekali."


"Sayang..." Rengeknya


"Nggak." Riana mendorong Devan begitu kuat lalu meninggalkannya diruang keluarga seorang diri.


"Sayang naggung nih. "


"Rasain."


"Sayang, kamu nggak boleh gitu nanti dosa loh." Devan berusaha mengejar Riana yang sudah hampir sampai di lantai atas.


"Sayang..."


"Riana..."

__ADS_1


......................


__ADS_2