
"Mama, Riana titip Zoya ya! Tadi subuh pihak penyelenggara fashion show Riana memajukan jadwalnya. Jadi mau nggak mau Riana harus kesana Ma." Ucap Riana dengan wajah memelas.
"Iya sayang, jangan pikirin tentang Zoya! Fokus dengan kerjaan kamu dan jangan lupa L I B U R A N! " Ucap Lily menekan suara di akhir kata-nya.
Riana tersenyum, dia menatap Zoya yang kini berada digendongan Omanya. Jujur dia sangat berat hati meneinggalkan Zoya.
"Oya, jangan nakal ya cama oma! Mami nggak akan lama kok" Zoya hanya tersenyum gadis kecil itu sangat asik bermain dengan kalung Lily.
Sepanjang perjalanan ke bandara Riana terus menangis entah hatinya sangat berat meninggalkan Zoya, mungkin ini pertama kalinya dia pisah dengannya.
Riana meraih ponselnya, mencari nama gadis yang membuatnya sering sakit kepala.
"Halo Ri, lo dimana?" Tanya Momo diseberang saluran itu.
"Menuju bandara. Gimana persiapan disitu udah rampung?"
"Hemm... Udah 96% kok. Lo nggak usah khawatir" Riana tersenyum lalu mematikan teleponnya.
Sepertinya Riana harus berterma kasih pada grup band BTS, andai mereka tidak konser dinegara yang sama tujuan Riana entah apa yang gadis itu lakukan sekarang dan dia juga harus memikirkan hadiah apa yang harus diberikan pada gadis penyuka BTS itu.
"Mulai saat ini aku akan menjadi fans kalian" Lirinya.
...***...
Momo memutar kepalanya kaget saat salah satu stafnya jatuh dari atas tangga, secepat mungkin dia berjalan menju tempat kejadian.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa kalian diam saja? Bawa Jerix kerumah sakit" Geram Momo.
Tidak butuh lama saat ini mereka sudah berada di Portland Hospital, Momo terlihat begitu khawatir sedangkan Jerix sejak tadi menahan tawanya.
"Tidak perlu khawatir Mis. Momo, ini hanya luka ringan." Ucap dokter Jhon.
Momo menatap tajam kearahnya sampai-sampai bola matanya ingin keluar. "Anda menyuruhku tidak perlu khawatir? Bagaiman aku bisa melakukannya? Sedangkan anda sejak tadi menusuk-menusuk luka itu dengan jarum" Ucap Momo frustasi.
"Tentu aku harus melakukannya, jika lukanya tidak dijahit sesuatu yang fatal akan terjadi."
"Dan dokter masih menyuruhku jangan khawatir! Yang benar saja?" Momo benar-benar memojokkan Dokter Jhon.
Jerix menarik tangan Momo agar menatapnya. "Aku tidak apa-apa Monic"
"Terima kasih Dok, anda bisa meninggalkan ku disini" Potong Jerix.
Jerix membatu saat Momo menghujaninya dengan tatapan mematikan. "Tunggu disini aku akan mengurus administrasinya"
"Iya."
...***...
"Yang benar saja dia nyuruh gue nggak khawatir, hahah? Itu anak orang loh, gimana kalau orang tuanya dan kekasihnya menuntut... Wahh? Sepertinya dokter itu mau gue kena masalah ya" Sepanjang jalan menuju meja administrasi Momo tak hentinya berguman, sampai-sampai dia menabrak orang didepannya.
"Aww..." Momo mendongak, betapa terkejutnya saat melihat siapa pria didepannya. "Ha? Dokter Angga, ah tidak dokter aneh. "
__ADS_1
"Cihh... Kau yang aneh" Ucap Angga begitu pelan tapi masih bisa Momo dengar.
"Setelah tujuh purnama, tujuh samudra dan tujuh benua akhirnya kita bertemu lagi." Jeda Momo "Kalau dipikir-pikir pertemuan kita benar-benar menarik dijadikan novel."
"Ha? Mungkin kau memata-mataiku gadis licik."
"Hahahha..." Momo tertawa puas "Aku, memata-mataimu? Hahahah yang benar saja. Asal anda tau ya selama ini hidupku tenang tidak melihat lagi hidung besar itu."
"Hidung besar?"
"Iya , apa kau tidak bercermin tadi. Disana juga bulu hidung menyapa dunia, apa tidak sebaiknya menyembunyikannya dulu baru berkeliling di rumah sakit ini."
"Kau..." Angga memegang belakang lehernya yang mulai menegang. "Apa kau tidak tau ini adalah trend disini."
Belum sempat Momo bersua membalas kata-kata Angga, seorang wanita berpakaian perawat rumah sakit ini berlaru dengan tergesa-gesa kearah mereka berdua.
"Dokter Angga, maafkan saya mengaggu waktu Anda! Tapi sudah waktunya Mr. Dev terapi." Tuturnya membuat wajah Angga berubah dingin.
Tanpa memeperdulikan Momo, Angga berlari diikuti perawat tadi.
"Dia selalu seperti itu jika kita bertemu." Lirih Momo,
Momo yang baru ingin melangkah seketika terhenti, dia berbalik menatap ke arah dimana Angga berlari tadi.
...****************...
__ADS_1