Promise

Promise
95


__ADS_3

"Abang nggak masuk?" Tanya Momo saat turun dari mobil.


Sejenak Arrian menatap dalam wajah Momo, seakan mencari sesuatu disana.


"Abang kenapa? Apa diwajah Momo ada sesuatu?" Tanyanya lalu membalikkan badan memeriksa wajahnya melalui pantulan mobil Arrian. "Nggak ada apa-apa kok." Ucapnya seraya berbalik menatap Arrian.


"Memang yang bilang ada sesuatu di wajah kamu siapa?"


"Ya nggak ada sih, tapi abang liat wajah Momo kayak ada yang aneh gitu." Gerutunya.


"Hem, Mo..! Abang mau..."


"Kalian kenapa nggak masuk?" Potong Lia yang baru saja keluar.


Momo melirik Arrian berharap pria itu mampir sebentar.


...***...


Selama dimeja makan Momo begitu canggung, sedangkan Arrian terlihat tenang berbicang dengan ayahnya tentang bisnis mereka.


Momo memilih meninggalkan meja makan lebih dulu.


"Arrian, tante mau minta tolong sama kamu nak!" Wajah Lia terlihat lebih serius. "Selama ini kau dan Momo begitu dekat, tante mohon bujuk dia agar mau menerima perjodohan ini. Dia begitu keras kepala, papanya dan tante sudah kehabisan akal membujuk gadis itu. Mungkin jika kamu yang membujuk Momo, dia bisa menerima perjodohan ini."


Sejenak Arrian terdiam, berdebat dengan pikirannya sendiri. Sekali lagi dai bertanya pada hati kecilnya sebelum mengangkat kepalanya.


"Tante, Tuan Setya!"


Tatapan Arrian begitu seirus, Lia dan Setya saling memandang satu sama lain tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.


"Tuan Arrian, saya tidak masalah dengan semua ini. Tapi..."

__ADS_1


"Tuan Setya percaya kan semuanya padaku!" Potong Arrian takkala seriusnya.


"Kalau begitu tante akan menyiapkan semuanya." Ucap Lia begitu semangat.


"Menyiapkan apa ma?" Suara Momo mengalihkan perhatian ketiga orang yang berada di ruang keluarga itu.


Lia berdiri mendekat ke putrinya. "Pernikan mu sayang!"


"Apa?" Momo begitu shok mendengarnya, dia melirik Arrian yang masih berbicara dengan Ayahnya.


"Iya kamu akan menikah."


"Mama, aku udah bilang kalau aku nggak mau. Mama keterlaluan banget sih." Ucap Momo kesal, rasannya dada itu ingin meledak sekarang juga. "Mama seharusnya membicarakannya dulu sama Momo! Nggak kayak gini ma."


Arrian mendekat pada Momo, dia tersenyum memegang pucuk kepala calon istrinya.


"Maafkan aku Monica, melamarmu secara mendadak begini." Momo masih tidak mengerti dengan situasinya saat ini.


"Percayalah aku serius dengan niat dan ucapanku, aku akan menikahimu. Bagaimana dengan mu? Apa kau menerimaku menjadi suamimu?"


"Iya aku mau." Ucapnya.


Ini bukan mimpi kan? Ini nyata kan? Abang Arrian melamarku hari ini. Batinnya.


...***...


Riana bau kembali dari kamar Zoya, dia benar-benar lelah seharian menghadapi gadis kecilnya merajuk.


"Aaaaa..." Pekik Riana saat tubuhnya terangkat keudara. "Devan, turunin aku nggak!" Devan menurunkan Riana lalu memeluknya begitu erat.


"Devan, kamu kenapa sih?" Tanya Riana kesal saat suaminya itu mengendus tekuknya.

__ADS_1


"Aku merindukan mu sayang!"


"Lepasin dulu, aku sesak Devan." Rengek Riana.


Devan menurut, dia melepaskan pelukannya. "Hanya beberapa jam aku pergi, aku sudah serindu ini."


"Gombal. Beberapa tahun yang lalu aku tidak didekatmu, kamu tidak rindu tu. Buktinya kau tidak pulang menemuiku."


Perlahan Devan melepas pelukannya dari pinggang Riana, rasa bersalahnya kembali mencuat.


"Maafkan aku sayang." Lirihnya.


Riana berusaha menahan senyumnya, bagaiman bisa suaminya selucu itu jika sedang merasa bersalah.


"Katanya Rindu? Pelukannya kok dilepas?" Riana perlahan memeluk Devan dari belakang, menenggelamkan wajahnya di punggung suaminya. Mengirup aroma tubuh ya menjadi candunya.


"Aku hanya bercanda sayang. Aku sudah memafkanmu."


Devan membalikkan tubuhnya menatap Riana, mengelus lembut pipinya. "Riana..."


"Hemm..."


Devan perlahan mencium kening Riana begitu dalam, belum juga bibirnya menyentuh bibir Riana, cicitan pintu terbuka membuatnya berhenti.


"Mami..." Ucap Zoya. Riana langsung melangkah pada anaknya.


"Kenapa bangun?"


Zoya mengangkat botol dotnya yang sudah kosong.


"Mau susu?" Angguknya.

__ADS_1


"Sayang, biar aku yang buatkan." Ucap Devan mengambil Zoya dari gendongan Riana.


......................


__ADS_2