Promise

Promise
57


__ADS_3

Brakk... Lunar membanting kuat pintu kamarnya, menghancurkan segalanya didalam sana, air matanya kembali tumpah, lara-nya kian mendominan. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Kini pria yang dulunya mencintainya segenap jiwa kini telah menikah dan mencintai gadis lain. Ingatan saat Devan meraup ranum Riana seakan mengitari pikiran Lunar.


Tidak Devan kau hanya milikku...


"Vano tunggu aku... Kamu akan kembali padaku. Apapun yang terjadi kau hanya milikku Vano." Seringai licik Lunar mengambang diwajah mungilnya.


#


Disebarang kota yang hanya menyisahkan beberapa kilometer, seorang gadis bertubuh ramping menyusuri setiap lorong apartemen elit, hingga gadis itu berhenti tepat didepan kamar ber-nomor 2810. Jessica bersidekap diujung tembok kamarnya menangis, untuk saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai pengobat sakit.


Bahkan sampai akhir pun Devan tidak bisa kumiliki.


#


"Sayang... Kau tidak kekantor?" Suara Devan mengalihkan perhatian Riana pada benda pipih ditangannya.


"Tidak."


"Kenapa?" Devan, memposisikan dirinya dihadapan Riana hingga mereka saling berhdapan. Devan menilik wajah yang terus membawanya pada pusaran renjana tak berujung.


"Aku ingin dirumah, menikmati menjadi nyonya Andreas."


Devan, tersenyum tipis kenapa istrinya begitu menggemaskan. " Itu pilihan yang tepat Nyonya Andreas."

__ADS_1


"Hemm... Devan?"


"Kenapa sayang?"


"Kapan kita ke rumahku, maksudnya rumah kak Arrian? Belakangan ini aku sering memimpikannya. Dalam mimpiku kak Ar terus meminta maaf dan menangis padaku. "


Ada rasa bersalah menggemuru dihati Devan, pasalnya dia tahu keadaan Arrian saat ini .Tapi sialnya dia tidak bisa memberitahu Riana yang sejujurnya.


"Devan..." Riana sedikit mengguncang tubuh Devan "Kamu baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja sayang. Minggu nanti kita kerumah Arrian."


"Janji." Riana manaikkan jari kelingkingnya sebagai pengikat agar suaminya ini tidak ingkar.


Devan menautkan jari kelingkingnya dengan senyum peenuh beban. "Janji"


#


Langka panjaang Devan menyusuri lorong rawat inap, hingga langkahnya terhenti tepat didepan pintu ruangan VIP paling ujung.


Satu kali tarikan pada engsel pintu rungan itu Devan masuk seorang diri. Betapa terkejutnya dia melihat keadaan Arrian yang sangat kurus terbring lemah dengan puluhan kabel didadanya.


Tanpa Devan sadari air matanya menetes, bibirnya bergetar, bahkan tubuhnya hampir ambruk.

__ADS_1


"Lo udah tiba?" Suara khas pria yang sudah Devan hafal siapa pemiliknya memecah keheningan diruangan itu.


"Apa belum ada pendonor yang cocok untuk Arrian, Ga?"


Suara Devan terdengar bergetar, tatapannya terus mengunci Arrian yang masih menutup mata.


"Hemm... Sampai saat ini belum ada Van. Bahkan seluruh koneksi gua juga belum dapat pendonor untuk Arrian. Kita hanya bisa menunggu keajaiban."


Devan hanya menunduk lesu. Kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan dengan seluruh kekayaan yang dia milik juga tidak bisa membantu Arrian sembuh. Lagi, kilasan senyum bahagia Riana kembali hadir dalam bayangan semunya, membuat hati Devan diselimuti rasa bersalah yang mampu mengusik ketenangannya.


"Ga, lo upayain cari pendonor untuk Ar, kalau perlu gua bayar lima kali lipat."


"Tanpa lo suruh gua udah neglakuin itu Van. Kalau perlu seluruh yang gua punya gua pertaruhin untuk bocah tengil ini." Sesak, itulah yang Angga rasakan, pria bibir sexi itu memilih membelakangi Devan menumpahkan segala kesedihannya.


Setiap melihat keadan Arrian, Angga terus menyelahkan dirinya karena ketidak berdayaannya sebagai seorang teman.


Devan mendekat memegang pundak Angga sebagai penyemangat, dia tahu jika Arrian adalah orang paling berjasa sekaligus penyelamat hidup pria yang selama hidupnya dikucilkan.


"Gua cabut dulu, kabarin gua perkembangan Arrian dan untuk pendonor Arrian, gua bakal usahin juga."


Tutur Devan


"Hmm..."

__ADS_1


......................


Renjana: Rindu, Cinta kasih


__ADS_2